Touch My Body

Touch My Body
Masuk Angin


__ADS_3

"Aduh, Beb. Kok perut aku sakit gini, sih?" keluh Jacob mengusap perut berototnya.


"Emang tadi kamu makan apaan?"


"Nggak makan apa-apa, Beb. Aku makannya cuman tadi siang sebelum acara nikahan kita."


"Hadeh, pasti kamu masuk angin, Jac." Anna beranjak dari sisi Jacob mencari sesuatu didalam tasnya.


"Sini, pake ini dulu."


Jacob mengernyit, melihat sebuah botol kecil ditangan Anna. "Apa itu?"


"Minyak angin. Aku sering pake ini kalo lagi masuk angin kayak kamu." terang Anna membuka tutup botolnya.


"Emang mujarab?"


"Banget. Dia bisa redain perut kamu yang kembung karena masuk angin." Anna menuangkannya ke tangan sebelum mengusapkannya ke perut Jacob.


"Bajunya angkat dulu." Jacob dengan patuh menarik kaos tipis yang dia pakai, membiarkan Anna mengusap-usap perutnya dengan minyak.


"Enak, kan?"


"Iya. Anget geli, Beb."


Anna berdecak, menggosok perut Jacob sedikit kasar. "Udah, bobo gih."


"Loh, kok bobo sih, Beb?" sahut Jacob keberatan.


"Kenapa? Katanya sakit perut?" Anna menyimpan botol minyak anginnya di atas nakas.


"Ish, perut yang sakit tapi biji, kan enggak, Beb...," kekeh Jacob tersenyum mesumm.


"Sini deket aku," panggilnya menepuk ranjang disamping.


"Nggak usah macem-macem, Jac. Nanti kamu makin sakit perut yang ada," cakap Anna mengingatkan.


"Nggak bakal. Kan, udah diobatin sama istri aku...," gombal Jacob mengedipkan mata.


Anna geleng-geleng kepala, ikut naik ke ranjang dan duduk di samping Jacob. Tangan pria itu dengan cepat merangkul pinggangnya, bersandar di dada empuk Anna dengan nyaman.


"Mending kamu istirahat dulu, Jac. Aku takut kamu besok malah lemes karena masuk angin sama kecapean," saran Anna khawatir.


"Aku udah sembuh kok, Beb. Perut aku udah lebih nyaman abis kamu gosokin minyak."


"Beneran?"


"Iya Bebeb. Masa aku boong, sih." Jacob menggosok-gosokkan wajahnya ke dada Anna, gemas dengan dua benda kenyalnya.


"Yaudah kalo gitu, aku bisa bobo nyenyak berarti malam ini."

__ADS_1


Jacob tersentak, mendongak cepat menatap Anna. "Kok bobo sih, Beb? Kita, kan belum...."


Jacob menggantung ucapannya sengaja membuat Anna penasaran.


"Belum apa?"


"Belum main, Beb," sahut Jacob malu-malu.


Anna tersenyum ikut malu mendengar suaminya. "Main aja diotak kamu!"


"Yah namanya juga udah resmi jadi suami istri, Beb. Hal begituan mana bisa ditepis dari otak." Jacob tertawa, naik mendekati wajah cantik Anna.


"Kalo dulu kita masih ragu-ragu. Sekarang udah nggak lagi. Aku mau kita sepuluh ronde malem ini."


Anna mencebik, tahu suaminya pasti hanya mengada-ada. "Emang kamu mampu?" tantangnya.


"Mampulah. Seminggu ini aku banyak latihan otot perut sama nguatin dengkul biar bisa kuat main sama kamu, Beb."


"Masa, sih? Aku nggak percaya...."


"Ish, sini kita main. Biar kamu liat gimana perkasanya suami kamu malem ini." Jacob beranjak, membuka kaos tipisnya dan mulai menunjukkan otot-otot diperut dan tangannya.


"Nih, liat. Semua otot-otot ini bakal bikin kamu nggak bisa tidur sampe pagi!"


Anna tertawa, geli sendiri melihat tingkah suaminya. "Yaudah, ayo kalo mau main. Aku udah mulai ngantuk."


Jacob mengangkat tangan tinggi ke atas, memekik kuat di depan Anna. "Yes...!" ucapnya bersemangat.


Bibirnya dengan cepat menyambar bibir manis Anna menyesapp dan mengecapi setiap sudutnya. Pertukaran saliva yang memabukkan mulai membangkitkan percikan gairah dan hasrat keduanya, Jacob dan Anna larut dalam buaian bibir dan lidah masing-masing.


Cukup lama mereka berciuman, Jacob pindah melepaskan pagutan mereka dan turun ke leher jenjang Anna. Tidak lupa meninggalkan jejak cintanya di sana, Jacob membasahi leher Anna dengan lidah dan terus turun menuju dada empuk Anna.


"Buka baju dulu, Beb." Jacob menarik keluar baju tidur Anna, melepaskan penopang dada Anna hingga dua buah benda yang dia suka terpampang nyata di depan matanya.


Happ....


Bibir Jacob dengan cepat menyambar dada kiri Anna berusaha melahapnya sampai memenuhi mulut Jacob.


Bak sedang mengulum permen jeli, Jacob menghisappnya dengan satu kali hisapann penuh.


"Ah...," desahann lolos dari bibir Anna yang menggelinjang tidak tenang.


Jacob ikut memainkan ujung dada Anna yang lain dengan dua jarinya memilinn dan memutarnya lembut.


Jacob sengaja berlama-lama di sana, tanda jejak cinta pun tidak lupa ditinggalkan olehnya. Jacob memuaskan dirinya dengan benda favoritnya di tubuh Anna.


"Buka kakinya, Beb."


"Mo ngapain, Jac?" lirih Anna.

__ADS_1


"Nyari harta karun, Beb. Nggak afdol kalo nggak rasain itu juga." Jacob tersenyum, turun menuju pangkal paha Anna.


Dibukanya kaki jenjang Anna dan menarik celana berenda merah yang dipakainya. Harusnya Anna tidak perlu memakai itu lagi, pikir Jacob.


Perlahan namun pasti Jacob menunduk, membenamkan diri menjelajahi sudut demi sudut celah lembut Anna yang wangi dan lembab.


Anna mengerangg seiring hisapann bibir Jacob memainkan bibir bawahnya penuh damba. Kakinya refleks tertutup merasakan lidah panjang Jacob masuk menyentuh rongga kelembutannya hingga di dalam sana.


Jacob baru saja membuat Anna basah dan gila. Tubuhnya melayang dengan nafas yang menderu. Jacob benar-benar membuat Anna enak luar dan dalam.


"Udah siap ketemu sama Jacob kecil, Beb?" Jacob mengusap bibirnya, menarik turun kain terakhir ditubuhnya.


Benda panjang yang sempat dikatakan standard oleh Anna menegak sempurna dengan urat-urat kecil yang terlihat menantang.


Anna menelan salivanya dalam gugup melihat benda sebesar itu akan menggerogoti tubuh intinya sebentar lagi.


"Jangan kaget sama hentakannya nanti yah, Beb." Jacob menyeringai memposisikan diri sebelum masuk mengentakk dalam sekali tekanan kuat.


"Emmhh...." Anna memekik tertahan merasakan keperkasaan Jacob memenuhi area lembutnya.


Hentakan pertama dimulai dengan sangat pelan dan semakin cepat seiring sahutan desahann keduanya beradu.


Peluh mulai membanjiri dahi Jacob dan juga Anna. Jacob membawa wanitanya terbang melayang hingga ke langit ketujuh.


"Aduh, Beb...," pekik Jacob tiba-tiba.


Anna yang sedang memejamkan mata menikmati desakan enak ditubuh intinya sontak mengerjap, menatap Jacob sayu.


"Kenapa, Jac?"


"Perut aku, Beb. Perut aku sakit banget, aku ke toilet dulu bentar, yah?" Jacob menarik diri tanpa permisi, setengah berlari masuk ke kamar mandi.


Ditinggal begitu saja saat sedang berada diatas nirwana membuat Anna menggeram kesal. Bisa-bisanya Jacob meninggalkan dia seperti ini. Harusnya mereka memang tidak bercinta sejak tadi. Anna berdecak, menarik selimut dengan marah.


Liat aja nanti kalo minta lagi, nggak bakal gue kasih! Gumamnya mengambil posisi tidur.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ah ... ada-ada aja, nih biji 😩😆


__ADS_2