
"Gimana, No ... udah ada berita belum, sih anak haram itu?" tanya Wati dari ujung teleponnya.
"Belum, Mi. Orang-orang yang aku suruh belum ada satupun yang berhasil dapetin info tentang dia...," sahut Deno anak semata wayangnya.
"Ck, kamu gimana sih, No. Masa nyari satu orang aja nggak bisa. Pake, dong kekuasaan kamu sebagai Menteri!" kesal Wati menggerutu.
"Ish, Mami pikir segampang itu aku bisa main perintah orang. Mami mau semua orang tahu papi punya anak haram dari wanita lain?! Nggak segampang itulah, Mi aku nyuruh orang. Kalo media tahu, bisa abis reputasi keluarga kita selama ini."
Wati mendengus, kesal dan benci dalam satu paket. Jika bukan karena hadirnya Mulan dalam hidup keluarga mereka, mungkin mereka akan selalu menjadi panutan keluarga bahagia diseantero negeri.
Wati kesal karena Cokro sama sekali tidak mengizinkan Mulan dibiarkan membusuk di panti asuhan atau mati di tengah laut seperti ibunya.
Sekarang setelah Mulan menghilang dan tidak bisa ditemukan, Cokro dan seluruh keluarga intinya dibuat pusing dengan Mulan yang tidak kunjung ditemukan.
Wati khawatir wanita itu akan muncul tiba-tiba dan mengaku pada publik sebagai anak haram suaminya bersama wanita idaman lain. Reputasi keluarga mereka pasti akan langsung hancur karenanya.
"Pokoknya Mami nggak mau tahu Deno. Kamu harus nyari anak haram itu sampe dapet! Reputasi keluarga kita tergantung kamu temuin dia apa enggak. Jangan buat Mami kecewa dan stress lagi sama masalah yang dibuat Papi kamu bertahun-tahun yang lalu!" Wati menutup panggilan telepon mereka sepihak sebelum mendengar jawaban dari anak laki-lakinya.
Wanita yang pernah depresi hebat karena kelakuan Cokro di masa silam benar-benar takut akan kembali stress dan depresi jika sampai Mulan muncul memberikan pengakuan ke publik.
Wati tidak mau mengulang hal yang sama di mana dia harus menghabisi nyawa seseorang lagi hanya karena perbuatan suaminya yang bejat dan tidak tahu malu.
"Kenapa sih, Mi marah-marah?" Cokro datang mendekati istrinya yang duduk dengan gelisah di ruang tamu rumah mereka.
Pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu belum lama tiba di Milan, Itali untuk berlibur sekaligus mengurus bisnis mereka bersama rekan kerja perusahaan mereka yang baru.
"Papi pasti tahu kenapa Mami marah-marah!" sinis Wati malas.
Cokro tersenyum, duduk semakin merapat pada istrinya. "Udah nggak usah dipikirin. Masalah itu biar jadi urusan Papi sama Deno. Mami nggak usah khawatir, ok?" bujuknya mengusap lengan Wati.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir gimana sih, Pi. Anak haram Papi itu udah sebulan hilangnya. Masa orang-orang kita nggak bisa nemuin dia! Nggak masuk akal kalo anak haram itu bisa ngilang gitu aja tanpa jejak!" marah wanita dengan rambut yang disanggul itu.
"Iya, iya, Papi tahu. Tapi Mami juga harus inget apa kata dokter, Mami nggak boleh sampe banyak pikiran. Mami juga harus inget sama kesehatan Mami," sahut Cokro mengingatkan.
Wati berdecih, muak mendengar ucapan suaminya. "Aku juga begini karena Papi, kan?!" kesalnya bangkit dari sofa.
"Pokoknya kalo anak haram itu nggak ketemu, jangan salahin Mami kalo anak haram Papi bakal ikut mati sama kayak ibunya yang gatel!" ancam Wati beranjak meninggalkan Cokro yang mendengus kesal.
Jika tahu akan ada masalah sebesar ini, mungkin sudah sejak lama Cokro membuang Mulan ke panti asuhan seperti kata istrinya dahulu.
"Kenapa menghubungi saya, Pak?" Bora duduk di depan meja kerjanya dengan laptop yang terbuka, memperlihatkan sosok pria berdasi di sana.
Pria itu tersenyum, duduk melipat tangannya di atas meja. "Kamu bisa bantu saya?" tanyanya terdengar hangat.
Bora mengernyit, merasa ada sesuatu yang pasti sangat penting sampai pria di depannya ini menghubunginya di jam kerja.
"Bantu apa, Pak?" tanya Bora penasaran.
"Orang-orang saya tidak bisa menemukannya selama satu bulan ini. Bahkan detektif pribadi yang saya sewa juga tidak bisa menemukannya. Saya rasa saya memerlukan kehebatan kamu dalam bidang IT," sambungnya tersenyum penuh arti.
Bora memicingkan mata, mengenal sosok wanita yang dia lihat di layar datarnya. Akhirnya pria ini memintanya mencari wanita itu, batinnya.
"Tentu, saya bisa membantu Bapak mencarinya. Tapi, Bapak pasti tahu kalau harga saya tidak murah...," sahut Bora yang membuat pria diujung sana tertawa.
"Untuk masalah uang kamu tidak perlu khawatir, saya bisa memberimu tiga kali lipat dari yang biasa kamu terima ditambah bonus seratus persen tanpa potongan dariku, asalkan wanita yang aku minta berhasil kamu dapatkan."
Bora tersenyum, mengangguk memberi tanda setuju untuk kesepakatan mereka. Pria yang memakai kacamata itu menutup panggilan telepon mereka dan bergegas menghubungi atasannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Richard Klose.
"Nggak masalah, Bor. Kamu ikut aja maunya dia gimana sampe perusahaan mereka berhasil kita rebut. Kita bakal ngembaliin haknya Mulan sebelum semua orang tahu gimana kejamnya keluarga ini sama menantu kesayangan aku...." ucap Richard tersenyum melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Jadi Pak Richard sudah mengakui Nona Mulan sebagai menantu Bapak?" goda Bora dari ujung video call mereka.
"Dia, kan memang menantu aku, Bor. Lagian Rama nggak mungkin minta kamu susah payah nyari kapal pesiar cuman buat habisin waktu nggak berguna di laut. Mereka berdua pasti sekarang lagi mesra-mesraan di kapal. Rama pasti udah berhasil yakinin hati Mulan setelah dia yakin sama hatinya juga," sahut Richard penuh keyakinan.
Anak laki-lakinya mirip dengannya. Saat dia yakin, dia pasti akan maju mengejar wanita yang dia cinta. Sama halnya dengan dia dulu, Richard pun mati-matian mengejar Amanda hingga mereka bisa bersama dan hidup bahagia sampai sekarang.
"Wah ... Pak Richard sudah seperti peramal saja. Bagaimana nanti kalau Pak Rama malah membuang Nona Mulan ke laut karena dendam dengan perbuatannya tempo hari? Pak Richard tidak lupa, kan gimana hebatnya Nona Mulan membuang TTM Pak Rama dari atas pesawat di tengah laut waktu itu?"
Richard sontak tertawa terbahak mendengar ucapan asisten kepercayaannya. Mengingat hal itu, sampai sekarang Richard tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Aurel ketika di lempar begitu saja dari atas pesawat dengan ketinggian beribu-ribu kaki di atas udara.
Menantunya memang hebat dan tidak gampang diintimidasi, pikir Richard.
"Aku rasa kamu terlalu mengada-ada, Bor. Kamu liat aja nanti, kalo mereka turun dari kapal dengan wajah malu-malu, mereka pasti udah lewatin yang namanya malam pertama sebagai suami istri," sahut Richard masih tertawa di depan layar laptopnya.
.
.
.
.
.
.
.
Kemaren ada yang nanya, sebenernya Bora ini ada dikubunya siapa ...
__ADS_1
Nah, hari ini udah terjawab, yah
Bora masih setia kok sama babang Richard 🤭