
"Apa, Jacob sama Anna kenapa?!"
"........."
"Ck, lo tunggu gue! Gue pulang hari ini!"
"........."
"Nggak pa-pa, demi temen gue juga mesti turut andil bantuin Jacob."
Sambungan telepon antara Gober dan Rama berakhir dengan Gober yang memaksa akan kembali ke Indonesia hari ini juga.
Pria itu tengah menghabiskan waktu di Jepang setelah sampai di Negara sakura kemarin siang. Gober memutuskan pulang ke Jakarta sebagai rasa setia kawannya terhadap Jacob.
Dia merasa harus segera kembali dan membantu pria yang kemarin menikah satu tanggal dengannya.
Setelah mendengar cerita panjang lebar Rama tentang apa yang sudah menimpa Jacob dan Anna kemarin pagi, Gober dibuat geram sendiri. Dalam hati Gober berpikir harus ikut membantu Rama, agar bisa membuat perhitungan dengan pria bernama Josh itu.
"Kenapa Mas? Siapa yang nelpon?" Cima keluar dari kamar mandi setelah sempat mendengar suaminya yang berbicara dengan kesal di telepon.
"Rama, Ci. Dia ngabarin Jacob dan Anna nggak jadi bulan madu kemaren."
Cima mengernyit. "Kok nggak jadi?"
"Ada sedikit insiden kemaren. Anna hampir diperkosa sama mantan kekasihnya yang gila."
"Apa?!" kaget Cima. "Kok bisa Mas? Anna nggak pa-pa, kan?" tanyanya khawatir.
"Kata Rama nggak pa-pa. Nanti Mas ceritain semuanya sama kamu. Hari ini kita siap-siap pulang aja, yah? Mas harus bantuin kakak kamu nyari tuh, brengsek!" Gober beranjak dari sisi ranjang, menarik Cima duduk di dekatnya.
"Nggak pa-pa, kan kalo kita pulang lebih cepet, Ci? Mas nggak tega biarin Jacob di sana kesusahan," ucapnya memelas.
"Iya nggak pa-pa. Aku ikut maunya Mas aja gimana."
"Bener?"
"Iya."
"Nggak marah, kan?"
__ADS_1
Cima tersenyum dan menggeleng. "Enggak Mas. Lagian kita masih bisa honeymoon lagi nanti. Aku terserah Mas aja gimana."
Senyum sumringah langsung terpancar dari wajah Gober. Tangannya seketika merangkul pinggang ramping Cima yang masih memakai jubah mandi. Cima memang selalu pengertian dan tidak banyak menuntut, pikir Gober.
"Kalo gitu sebelum kita pulang, boleh dong aku minta jatah aku, Ci?" goda Gober menaik turunkan alis.
"Ish, dari kemarin ngomong minta jatah mulu tapi nggak pernah keterusan! Aku nggak mau Mas bikin aku nanggung lagi trus berakhir kayak tadi malem, yah?!" kesal Cima bersedekap dada.
Gober terkekeh-kekeh, teringat bagaimana kesalnya Cima yang harus mengulumm keperkasaannya sampai cairan berbau pandannya keluar.
Cima menolak melanjutkan setelah rasa sakit yang teramat sangat di tubuh intinya menggerogoti dia semalam.
Gober tahu Cima mungkin butuh beradaptasi dengan miliknya yang punya ukuran di atas rata-rata. Pasangan suami istri itu pun terpaksa mengakhiri sesi pertama mereka dengan Gober yang meminta di sayang Cima menggunakan mulut.
"Iya, iya nggak gitu lagi, deh ... lagian kamunya teriak-teriak sakit semalem, gimana aku bisa terusin enak-enak kita, Ci? Aku nggak mau jadi suami egois Cima sayang...." bujuk Gober mencium pipi kiri istrinya.
Wanita yang dibujuk masih saja kesal setiap kali mengingat dia harus melakukan kegiatan enak suaminya dengan bibir basahnya selama hampir dua puluh menit.
Cima yang belum memiliki pengalaman apapun beberapa kali hampir muntah karena Gober memaksa keperkasaannya masuk lebih dalam di mulut Cima.
Cima sampai harus menahan diri demi bisa membuat pria berwajah manis itu puas luar dalam.
Gober terkekeh lagi, masih mencium pipi Cima yang menggembung kesal. "Iya nggak lagi deh, Ci...."
"Bener, yah?"
"Iya. Nggak sering-sering maksud aku...," goda Gober kembali.
Cima berdecak, mencubit pinggang Gober kesal. "Pokoknya aku nggak mau! Awas aja kalo dorong-dorong kepala aku sampe aku hampir muntah! Aku gigit punyanya Mas!" ancamnya penuh keseriusan.
Tawa seketika pecah dari bibir Gober yang sejak tadi tidak berhenti mencium istrinya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menggoda Cima.
Pipi tirus Cima semakin menggembung dengan decakan kekesalan yang makin terdengar dari wanita berkulit putih itu.
"Ketawa aja terus! Aku nggak kasih jatah baru tahu rasa kamu Mas!"
Gober seketika terdiam, tidak berani menggoda Cima lagi. Bisa gawat kalau dia tidak dapat jatah enak dari istrinya.
"Iya, iya maaf. Aku nggak ketawa lagi, deh." Cima tersenyum tipis, merasa menang telah berhasil membuat suaminya bungkam.
__ADS_1
"Yah udah sana, aku mau siap-siap dulu." dorong Cima.
"Ih ... tunggu, Ci. Aku, kan belum dapet jatah."
"Nanti aja. Aku masih nggak mau!" Cima menolak, sengaja membuat Gober panas dingin.
"Kok gitu sih, Ci? Dosa, loh nolak-nolak suami."
"Bodo!"
"Aku nggak bakal minta disayang-sayang bibir lagi, deh. Aku cuman bakal bikin kamu merem melek, malem ini."
Cima tertawa tertahan, geli sendiri melihat wajah memohon Gober. "Dasar cowok! Kalo ada maunya aja, mohonnya udah kayak kucing kebelet kawin!" cibir Cima.
"Emang udah kebelet kawin, kan, Ci? Ayo sini, aku bikin kamu enak atas bawah." Gober menarik tali jubah mandi Cima cepat, sebelum Cima sempat menahan tangannya.
Dada yang terekspos sempurna dengan tubuh polos dibalik jubah mandi berwarna putih bersih, terpampang bak lukisan indah di mata Gober.
Pria itu dengan gerakan kilat meremass dada menantang Cima, tidak mau berlama-lama menuntaskan apa yang sangat ingin dia mau dari istrinya.
Cima tidak bisa menolak saat Gober membungkuk meraih dadanya yang lain dengan bibir, mengulumm dan menggigit kecil ujung merah mudanya yang seketika mengetatt karena usapan tangan dan lidah basah Gober.
Cima menahan nafas seiring detak jantung yang menggila dan hasrat yang menggebu. Gober mulai membawa Cima hanyut dalam permainan bibir dan tangannya.
"Naik, Ci." Gober menuntun wanitanya sedikit naik ke ranjang dengan kaki yang sengaja di tekuk untuk memudahkannya melakukan kegiatan kesukaannya.
Gober membenamkan diri di kelembutan Cima yang wangi dan lembab. Istrinya semakin menggelinjang tidak tenang begitu lidah panjangnya menyentuh benda kecil di dalam ruang sempit itu.
"Mas...," desah Cima tersengal.
Gober tahu wanitanya paling tidak bisa diberi layanan enak seperti ini. Tidak butuh waktu lama bagi Cima mendapatkan apa yang dia namai sebagai kepuasan bibir.
Gober tersenyum bangga dan menarik diri sebelum mengarahkan benda kebanggaannya yang sudah menegang sempurna sejak tadi.
"Aku masuk yah, Ci?" Pelan namun pasti Gober mulai menusuk benda sempit wanitanya yang memekik tertahan.
Satu kali tidak berhasil menembusnya, kali ini Gober harus bisa memastikan miliknya akan bisa masuk memenuhi ruang sempit Cima.
Dalam beberapa kali percobaan dan dorongan, Gober memaju mundurkan tubuhnya dan berhasil menembus pertahanan Cima.
__ADS_1