
"Lan, udah siap belum?"
"Iya, bentar lagi."
"Cepetan dikit. Gue nggak mau telat di rapat perdana kali ini."
"Iya, iya. Bawel banget, sih!" Mulan keluar dari dalam kamar setelah Rama mengetuk pintu yang entah sudah keberapa kalinya.
Mata pria itu sontak tertegun, begitu melihat perubahan yang terjadi pada istrinya. Rambut yang diikat setengah disanggul dengan kemeja putih press badan dan rok ketat di atas lutut, makin menyempurnakan penampilan fresh Mulan pagi ini.
Apalagi melihat kaki Mulan yang tampak seksi dengan heels setinggi tujuh centinya membuat Rama merasa Mulan sangat cocok menjadi seorang wanita karir menemaninya nanti.
"Kenapa? Jelek, yah? Gue ganti, deh kalo jelek," ujar Mulan tidak percaya diri ditatap seperti itu oleh Rama.
"Eh, jangan. Udah pake itu aja. Lo makin cantik kalo pake baju begini. Dari dulu gue selalu bayangin punya asisten cewek cantik dan seksi kayak Lo begini, Lan," kekeh Rama setengah menggoda Mulan.
"Ish, otak Lo masih pagi udah mesumm aja pikirannya! Ayo berangkat, tadi katanya nggak mau telat!"
"Iya, udah siap, kan Lo?" Mulan mengangguk, berjalan lebih dulu turun ke lantai satu rumah mereka.
"Mau gue tes tanya-tanya dulu nggak di mobil?" sambung Rama mengikuti Mulan dan menunggunya sampai mengunci pintu.
"Nggak usah, Lo kalo mau nanya begitu yang ada bikin gue lupa nanti. Tenang aja, semalaman gue baca dan pelajari apa yang Lo kasih. Gue nggak bakal bikin Lo malu, deh pokoknya nanti."
Rama mengangguk, membuka pintu mobil untuk istrinya. "Baguslah, kalo Lo sampe bikin gue malu. Lo tahu, kan hukumannya apa?"
Mulan mencebik, masuk ke dalam mobil suaminya. Pasangan suami istri itu pun meluncur menuju gedung perusahaan properti milik Rama yang belum lama di buka di kota ini.
Gedung yang hanya punya tujuh lantai saja itu, berdiri megah diantara gedung-gedung megah lainnya.
Tempatnya yang strategis berada di dekat jantung pusat kota Milan, membuat Mulan bisa dengan mudah berjalan-jalan disekitar sana jika dia sudah bosan berada di perusahaan, pikirnya.
Mulan yakin dia tidak akan hilang jika dia hanya perlu menyebrang zebra cross untuk bisa sampai kesana.
"Nanti ada enam orang pemegang saham yang bakal ikut hadir dalam rapat kita kali ini, Lan. Yang satunya lagi cuma melalui zoom karena lagi nggak ditempat. Nanti Lo tolong akomodir yang di zoom itu, yah?" ucap Rama sebelum turun dari mobil.
Keduanya sudah tiba di lobby perusahaan dan disambut oleh seorang petugas keamanan dengan pakaian yang lengkap dan rapi.
Beberapa pegawai yang melihat kedatangan mereka membungkuk memberikan hormat dan tidak lupa menyapa keduanya.
Karena masih terbilang perusahaan yang baru, pegawai di sana pun belum terlalu banyak. Bagian HRD masih mengorganisir pegawai-pegawai baru yang terus berdatangan ingin melamar di perusahaan ini.
__ADS_1
"Buongiorno signore e signora." (Selamat pagi Tuan dan Nyonya), sapa beberapa pegawai yang mereka lewati.
Rama hanya mengangguk diikuti Mulan yang hanya bisa tersenyum hangat membalas sapaan mereka.
Mulan yakin pegawai-pegawai itu tengah memberikan sapaan walau dia sendiri tidak mengerti apa yang diucapkan oleh mereka.
"Emang Lo tahu mereka ngomong apa tadi?" Rama bertanya setelah mereka masuk ke dalam lift, naik ke lantai tertinggi gedung.
"Kayaknya, sih lagi nyapa...," sahut Mulan apa adanya.
"Oh iya, Lo tahu bahasa apa aja, Lan?" tanya Rama lupa menanyakan hal sepenting ini pada istrinya kemarin.
"Bahasa Indonesia aja, kenapa emangnya?"
"Astaga ... Lo nggak tahu bahasa Inggris?"
Mulan menggeleng. "Penting emang?" tanyanya polos.
"Pentinglah Mulan ... kan, yang hadir nanti orang-orang asing semua. Masa iya, kamu ngomong pake bahasa Indo. Mereka mana ngerti...!" sahut Rama frustasi.
"Lagian hari gini masih ada aja yang nggak tahu bahasa Inggris. Emang waktu Lo sekolah, Lo duduk di bagian mana, hah?" sambung Rama tidak habis pikir dengan wanita secantik Mulan yang tidak bisa berbahasa Inggris.
Di zaman yang sudah serba modern begini, rasanya hal yang mustahil untuk siapapun tidak tahu satu saja bahasa asing, pikir Rama.
Wanita itu keluar lebih dulu dari dalam lift, yang segera ditahan oleh Rama.
"Ya ampun, Lan. Gue becanda kali, Lan. Iya, gue minta maaf. Sorry kalo gue udah bikin Lo sakit hati sama omongan gue. Gue nggak maksud gitu, gue cuma—"
"Udah lepasin!" potong Mulan menepis tangan Rama. "Gue lagi nggak mau berdebat sama Lo! Nanti aja kalo rapat penting Lo udah selesai!" sambung Mulan berusaha bersabar.
Rasanya sakit sekali ketika dihina orang lain mengenai pendidikan seseorang. Mulan sudah lama merasakan ejekan seperti ini, tapi entah mengapa saat Rama yang bersuara. Hati Mulan sangat terluka mendengarnya.
Mungkin karena hubungan mereka yang sudah cukup dekat sampai membuat Mulan terasa teriris dan tidak terima dihina begitu saja oleh Rama. Pria di depannya ini memang tidak tahu apa-apa tentangnya dan dia harus bisa mengerti karenanya, gumam Mulan.
Rama akhirnya tidak berani bersuara lagi. Mereka masuk ke dalam ruang rapat, setelah beberapa pemegang saham yang sudah lebih dulu tiba di sana menyambut kedatangan mereka berdua.
Tidak ada yang tahu siapa Mulan yang berdiri di samping Rama sejak rapat dimulai. Mereka hanya tahu wanita itu adalah asistennya dan bukanlah istrinya.
Mulan tidak merasa keberatan dan malah lebih menyukainya, tidak akan ada beban untuknya jika nanti dia pergi meninggalkan Rama setelah semua misi balas dendamnya selesai.
"Lan, tolong Lo liat yang satu pemegang saham lagi di zoom." pinta Rama menyodorkan laptopnya ke arah Mulan.
__ADS_1
Wanita yang sempat belajar cara membuka program ini tadi malam dari tablet yang ikut diberikan Rama padanya, mulai mengutak atik isi dalam program itu hingga satu nama tertera di layar datar tersebut.
"Deno?" gumam Mulan lebih kepada bisikan.
Wanita itu tersentak saat melihat wajah pria yang sangat dibencinya sedang bersiap-siap di depan kamera.
Buru-buru Mulan mengambil dokumen di dekatnya, menutup wajahnya agar tidak dikenali oleh kakak tirinya.
"Lo kenapa, Lan?" tanya Rama bingung melihat tingkah istrinya.
"Ng-nggak pa-pa, Ra. Gue izin ke toilet dulu bisa nggak?" sahut Mulan masih menutup wajahnya.
"Yaudah, tapi jangan lama-lama. Lo harus bantuin gue disini."
"Iya, nggak lama, kok. Bentar, yah...." Mulan segera beranjak dari sana meninggalkan Rama yang mengerti dengan tingkah aneh Mulan saat ini.
Rama semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres antara Menteri Pariwisata itu dengan istrinya.
Sepertinya rencana dia mengajak Mulan ikut dengannya dalam rapat kali ini memberikan angin segar untuk kecurigaannya pada hubungan Deno dan Mulan.
Setelah rapat mereka selesai, Mulan harus memberikan penjelasan yang terperinci padanya mengenai ini, pikir Rama.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baiklah,
kita tunggu aja
__ADS_1
Mulan mau jujur apa enggak sama Rama...
Ada yang bisa kasih masukan Mulan jujur apa enggak sama Rama ato gimana? 🤭