
"Rama, ngapain kesini?"
"Kangen, Yang...."
"Ish, baru juga satu malem nggak barengan...!" sahut Mulan menggelengkan kepala.
"Yah abis gimana, Yang. Namanya kangen mana bisa ditahan." Rama menutup pintu, sempat menguncinya sebelum masuk mendekati Mulan yang tengah bersiap.
"Cantik banget, sih istri aku...," puji Rama menatap pantulan Mulan dikaca depannya.
Mulan tersenyum, tidak menaruh curiga sama sekali pada pria yang kini sedang mengusap-usap lengannya lembut dari belakang.
"Kamu nggak siap-siap, Ra?"
"Nanti aja. Aku gampang, tinggal pake jas doang udah selesai."
"Yaudah, aku siap-siap dulu kalo gitu."
"Iya." Rama menunduk, membaui ceruk leher wanitanya yang wangi aroma mawar.
"Wangi banget, sih kamu...," puji Rama lagi.
Hembusan nafas Rama sedikit membuat Mulan bergidik, pria itu mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di ceruk lehernya.
"Ih ... geli, Ra," protes Mulan manja.
"Abisnya wangi, sih. Jadi pengen makan kamu, Yang."
"Ish, jangan macem-macem, Ra. Rambut aku udah disisir ini!"
Rama tertawa kecil, tidak peduli penolakan Mulan yang mulai bergerak tidak tenang di depannya.
"Ra, udah ih...," protes Mulan lagi.
Dia yakin prianya akan makin menggila jika dia tidak segera bertindak. Bisa-bisanya Rama malah bertingkah aneh disaat mereka sedang bersiap untuk pernikahan Cima dan Gober.
"Tenang aja, Yang. Aku cuman pengen nyium kamu doang. Lanjutin aja apa yang mau kamu lakuin," ucap Rama beralasan.
Bibirnya masih menyentuh ceruk leher Mulan dengan tangan asik menyapu lengan polos Mulan yang perlahan berpindah mengusap perut rata istrinya.
__ADS_1
"Ish, gimana aku mau nerusin make up aku kalo kamunya nempel kayak koala gini, Ra. Minggir dulu bisa, kan?"
Rama tidak peduli, masih asik melanjutkan kegiatan apa yang dia suka. Wangi aroma tubuh segar Mulan dengan kulit putih halus dan tampilan wanitanya yang selalu cantik, membuat pria bertubuh atletis itu menginginkan hal yang lain.
Rasa rindu karena tidak tidur memeluk Mulan semalaman mendominasi hati dan pikiran Rama yang tidak bisa menahan diri lagi.
Perasaan ingin meledak meluapkan apa yang tengah dia rasakan sudah memenuhi Rama saat ini. Rama mulai berani menyentuh dada menyembul Mulan dengan rasa sesak disekitar area pangkal pahanya.
"Ra ... udah nanti aja. Ini udah jam delapan, nanti kita telat."
Seakan tuli, Rama justru semakin dalam menyentuh dada kenyal istrinya dari balik jubah mandi hotel yang dia pakai.
Mereka memang tengah berada di kamar hotel tempat diadakannya pernikahan Cima dan Gober yang sejam lagi akan dimulai. Mulan merasa Rama tidak akan membebaskannya begitu saja sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau darinya.
Tangan nakal Rama menarik tali jubah mandi Mulan, membiarkan jubahnya jatuh begitu saja dan memperlihatkan tubuh bagian atas Mulan yang polos tanpa penopang yang biasa dia pakai.
Rama dengan cepat menangkup salah satunya, meremass dada Mulan yang kenyal dan padat.
"Astaga Rama...," keluh Mulan menghembuskan nafas kasar.
"Main bentar yah, Yang? Nggak lama, kok. Sepuluh menit aja," bisik Rama dengan suara yang terdengar berat.
"Ish, kamu tuh, yah...!"
"Mau ke mana? Rambut aku udah disisir, Ra."
Rama tampak berpikir sebelum kembali berucap. "Yaudah kalo gitu kamu berdiri aja di sini belakangin aku."
"Apa?!"
"Cepet, Yang. Katanya nggak mau telat."
Mulan berdecak, kesal tapi tidak bisa menolak keinginan pria yang memang kalau sudah mau tidak peduli mereka tengah berada di mana dan sedang apa.
Rama menariknya dengan tidak sabar, melepaskan jubah mandi Mulan hingga tersisa dalamannyaa saja.
"Aku janji nggak lama, Yang." Rama ikut melepaskan celana kain panjang hitam yang dia pakai diikuti kemeja dan semua yang menempel di tubuhnya.
Benda panjang dan tegak berdiri menyambut pandangan mata Mulan yang membola melihat keperkasaan suaminya dari kaca di depannya.
__ADS_1
Benda yang selalu membuat dia menggelinjang dan melayang sudah menegang sempurna menginginkan dirinya saat ini juga.
Mulan pasrah begitu Rama mendorong punggungnya meminta dia setengah membungkuk di depan Rama dan mulai memposisikan tubuh mereka agar bisa menyatu tanpa hambatan. Sebentar lagi dan semua akan terasa berbeda.
Mencari celah sempit Mulan menggunakan keperkasaannya, Rama masih sempat menggosokkannya di sana beberapa kali sebelum akhirnya masuk menyentuh kedalaman Mulan yang dia suka.
Rasa sesak dan penuh langsung memenuhi kelembutan Mulan yang sempit. Tangannya menggenggam ujung meja rias yang menjadi saksi bagaimana hentakan demi hentakan lembut yang perlahan melaju membuat tubuh Mulan bergetar hebat.
Desahann dan lenguhan bergantian terdengar dari bibir tipis Mulan. Rama semakin dalam dan kuat memainkan permainan pinggulnya yang lihai.
Mulan semakin merapatkan jari mencengkram tepian meja seiring hentakan Rama yang cepat hingga bunyi ketukan di pintu kamar mereka terdengar.
"Lan, udah belum, Nak?" Suara Amanda terdengar dari balik pintu.
Mulan mendongak bermaksud ingin menjawab ibu mertuanya. Namun karena Rama semakin memacu tubuh bawahnya, pekikan nikmat malah berhasil keluar dari bibir Mulan.
Amanda mengernyit dari balik pintu, sempat mendengar suara aneh yang juga sering keluar dari bibirnya jika sedang bersama Richard.
Astaga ... bisa-bisanya anak laki-lakinya mengambil kesempatan disaat semua sedang sibuk seperti ini! Amanda mendengus, mengetuk pintu makin kuat.
"Lan, bilang sama suami kamu jangan hancurin make up kamu!" ucap Amanda dengan suara yang meninggi.
Mendengarnya Mulan sempat melirik ke arah Rama yang sama sekali tidak terganggu sedikitpun dengan ucapan ibunya dan terus menggerakkan tubuhnya sampai apa yang dia mau berhasil menyembur keluar.
Mulan yakin setelah ini mereka pasti akan menjadi sasaran sindiran ibu mertuanya, pikirnya dengan nafas yang naik turun.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Yah, yang penting enak dulu yah, Ra 🤭🤣