Touch My Body

Touch My Body
Mulai Penasaran


__ADS_3

"Dad," panggil Rama dari ujung video call-nya.


"Kenapa? Tumben kamu telpon Daddy."


Rama berdecak, duduk dengan malas di dalam ruang kerjanya dirumah. Baru saja menelepon ayahnya, Rama langsung disentil seperti itu. Ini yang membuat dia kadang malas menghubungi pria yang tidak lagi muda itu sering kali.


"Aku nggak mau basa basi. Aku cuma mau nanya Mulan itu siapa, Dad. Aku butuh informasi tentang dia," sahut Rama to the point.


Richard mengernyit, meletakkan pena yang dia pegang ke atas meja. "Kenapa kamu nanyain Mulan sama Daddy?" tanyanya tidak mengerti.


"Ya, karena aku yakin Daddy pasti tahu tentang Mulan. Daddy nggak mungkin asal nikahin aku sama orang nggak dikenal, kan," sahut Rama penuh keyakinan.


Richard seketika tertawa mendengar ucapan anaknya. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, dan duduk dengan nyaman di sana.


"Sekarang gini, deh. Mulan itu istrinya kamu apa istrinya Daddy?" tanya Richard balik.


"Ck, istrinya akulah, Dad."


"Nah, itu kamu udah tahu dia istri kamu. Trus ngapain kamu nanyain Mulan sama Daddy. Kamu ini aneh-aneh aja, deh...," sahut Richard masih tertawa.


Rama mendengus kesal mendengar jawaban ayahnya. Dia pikir Richard akan dengan mudahnya memberi tahukan siapa sebenarnya Mulan. Rama merasa sia-sia saja dia menanyakan siapa Mulan pada ayahnya.


"Jadi sekarang kamu udah penasaran sama istri kamu sendiri, Ra? Saran Daddy, mending kamu tanyain aja langsung sama orangnya kalo kamu emang bener pengen tahu Mulan siapa. Daddy nggak bisa bantu kamu soal ini...," sambung Richard memberikan jawaban akhirnya.


Rama diam tidak menjawab, sepertinya memang ada sesuatu tentang Mulan. Bahkan ayahnya saja bungkam seribu bahasa tentang latar belakang Mulan, Rama semakin penasaran dibuatnya.


"Trus gimana pertemuan kamu sama Menteri Pariwisata kemarin? Kata Bora kamu hebat banget yakinin dia sendiri tanpa bantuan Bora." Richard mulai memuji anak laki-lakinya yang terlihat sedikit kesal karena tidak mau membahas masalah Mulan dengannya.


Richard tahu pasti ada sesuatu yang membuat Rama curiga sampai dia akhirnya bertanya tentang Mulan padanya.


"Daddy nggak perlu bertanya kalo udah tahu jawabannya! Aku males ngobrolin hal yang udah Daddy tahu tapi seakan nggak tahu. Keliatan banget orang yang cuma pengen basa basi, doang sama anaknya!" sarkas Rama menatap malas ayahnya.


Richard hanya menggelengkan kepala tidak ingin memberi bantahan apa-apa. Rama sepertinya memang benar sedang kesal dengannya karena masalah Mulan.


Richard sengaja tidak mau membahas masalah itu dan membiarkan Rama mengetahuinya sendiri. Richard ingin Rama belajar bertanggung jawab dan tidak lagi bergantung padanya.


Pembicaraan antara anak dan ayah itu pun berakhir dengan Rama yang makin penasaran dengan istrinya sendiri. Apa dia harus bertanya langsung pada Mulan seperti saran ayahnya tadi? Atau mencari tahu sendiri informasi mengenainya?


"Bora ... iya, dia pasti tahu tentang Mulan." Rama teringat akan satu nama itu yang pasti bisa membantunya mencari tahu.

__ADS_1


Buru-buru Rama menutup layar laptop, bersiap beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi tunggu, gimana kalo dia udah diwanti-wanti sama daddy nggak boleh kasih tahu gue juga? Hadeh, sama aja boong gue nanya sama dia!" Rama kesal sendiri, duduk kembali dengan malas di tempatnya.


Mungkin benar dia harus mencari tahu sendiri dan mengorek informasi perlahan dari Mulan, pikir Rama.


"Pak, besok kita ada rapat dengan semua pemegang saham. Aku tidak bisa menemani Bapak karena ada pekerjaan lain yang harus aku urus. Bapak bisa, kan tidak aku temani?" Bora duduk di depan meja kerja Rama setelah dihubungi pria itu tadi.


Rama memutuskan tidak ke kantor dan hanya mengerjakan pekerjaannya saja dirumah. Dia masih malas keluar rumah setelah dibuat gila dengan kelakuan Mulan semalam.


"Emang Lo ada kerjaan apaan? Bukannya tugas Lo disini cuma ngurusin gue sama perusahaan?!" sahut Rama tidak senang.


"Iya, Pak. Tapi ini tugas yang diberikan langsung sama Pak Richard. Tadi pagi Pak Richard minta aku mengurus beberapa berkas perusahaan anak cabang Pak Donal. Katanya sekretaris Pak Donal baru saja resign kemarin, jadi Pak Donal meminta Pak Richard untuk membantu dia mengurus itu seharian besok," terang Bora panjang lebar.


Rama tersenyum sinis mendengar perkataan Bora. Dia yakin pasti asistennya ini akan memberikan alasan ayahnya lah yang menyuruhnya.


Bora memang paling tahu membuatnya diam dan tidak banyak bertanya jika sudah mengenai Richard, ayahnya.


"Kalo gitu Lo panggil Mulan kesini," ucap Rama memberi perintah.


"Kenapa sama Bu Mulan, Pak?" tanya Bora tidak mengerti.


Bora hanya bisa mengangguk patuh. Pria itu keluar setelah Rama menyodorkan laporan yang baru selesai dia tanda tangani.


Selang lima menit Bora pergi, pintu ruang kerja Rama diketuk dari luar. Wanita yang semalam menghabiskan waktu yang panjang dengannya, masuk mendekati Rama malu-malu.


"Lo manggil gue?" tanya Mulan tidak mau menatap Rama.


Bayangan pergulatan mereka semalam terus menari-nari di otaknya. Mulan merasa wajahnya sekarang pasti sudah memerah.


Sejak tadi pagi Mulan tidak berani keluar dari kamar dan terlalu malu bertemu dengan Rama. Hanya karena Bora yang mengatakan ada sesuatu yang sangat penting ingin dibicarakan Rama, barulah Mulan memberanikan diri datang menemuinya disini.


"Sini duduk," panggil Rama sudah pindah di kursi sofa dalam ruang kerjanya.


"Nggak usah. Lo mau ngomong apa? Bora bilang ada hal yang penting tadi," tolak Mulan masih tidak mau menatap suaminya.


"Yaudah, ini ada laporan buat besok. Lo baca trus pelajari. Lo bakal temenin gue besok ke perusahaan." Rama melemparkan dua buah dokumen ke atas meja di depannya.


Mulan menatap itu tidak mengerti. "Maksudnya apa gue musti temenin Lo ke perusahaan? Gue—"

__ADS_1


"Nggak usah ngebantah!" potong Rama cepat. "Sebagi istri seorang pengusaha dan pebisnis kayak gue, Lo musti tahu dasar-dasar kayak gini, Lan. Lagian besok Bora nggak bisa temenin gue ikut rapat pemegang saham, dan gue butuh asisten. Lo bakal jadi asisten gue sementara waktu gantiin Bora besok," sambung Rama menjelaskan secara rinci apa yang akan Mulan kerjakan besok.


"Ta-tapi gue nggak punya basic kayak gini, Ra. Gue nggak tahu apa-apa soal beginian, gue—"


"Makanya Lo belajar, kan, Lan?" potong Rama lagi. "Udah, deh nggak usah ngebantah lagi. Lo tinggal baca trus pelajari dokumen-dokumen itu. Kalo ada yang Lo nggak ngerti, Lo bisa tanya sama gue."


Mulan menelan salivanya susah. Bagaimana mau mempelajari semua itu, sekolah saja dia hanya sampai kelas dua SD.


Mulan sama sekali tidak punya pengalaman apa-apa tentang hal seperti ini. Mulan takut dia tidak akan mampu membantu Rama dalam rapat pentingnya besok hari.


"Jangan lupa, baca trus pelajari yang bener. Kalo Lo malu-maluin gue besok, siap-siap aja gue kasih Lo hukuman kayak tadi malam!" ancam Rama tersenyum penuh arti.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf yah, guys belum bisa double up


Author lagi sakit


badan lagi pada meriang


Doain aja, yah biar author bisa cepet sembuh...


Makasih selalu setia disini, kesayangan author semua 🥰

__ADS_1


__ADS_2