Touch My Body

Touch My Body
Kedatangan Polisi


__ADS_3

Satu jam sebelum Bora mendapatkan kabar pembunuhan Cokro.


"Mi ... sadar, Mi. Apa yang sebenarnya terjadi?" Wati masih saja bersikap tidak terkendali di depan Deno.


Wanita yang tampak seperti mayat hidup itu berteriak, bahkan membenturkan kepalanya ke dinding meski tubuhnya sudah diikat oleh Deno.


Pria itu mulai kebingungan harus bagaimana membuat ibunya tenang. Suara teriakan Wati bisa mengundang perhatian tetangga dan menyebabkan kehadiran polisi yang tidak disangka-sangka karena laporan keributan ibunya ini.


"Mi, please (tolong) ... jangan nyakitin diri Mami lagi." Deno menahan Wati sebelum kepalanya terluka karena benturan keras yang sejak tadi dia lakukan pada dirinya sendiri.


Mau tidak mau Deno menutup mulut Wati dengan kain demi meredam teriakannya yang bisa saja di dengar oleh tetangga mereka.


Deno bergegas mencari di mana obat penenang yang biasa diminum Wati ke seluruh kamar. Botol obat wanita itu ditemukan Deno berada di bawah ranjang dekat mayat Cokro.


Di dalam botol yang ternyata sudah kosong itu tidak ditemukan sama sekali obat yang tersisa. Ah, sial! Bagaimana dia bisa menenangkan ibunya? Tidak mungkin Deno pergi membeli obat dan meninggalkan ibunya dalam keadaan menyedihkan seperti ini?


Deno mengusap wajahnya frustasi dan kembali mendekati Wati yang masih terus membenturkan kepalanya ke dinding dengan kuat.


Darah mulai keluar dari pelipisnya dengan mulut yang tertutup dan teriakan teredam keluar dari sana.


"Astaga Mami...," pekik Deno makin frustasi melihat keadaan ibunya yang berdarah.


Deno akhirnya menyeret Wati ke atas kursi, mengikat wanita itu di sana demi bisa melindungi ibunya dari tingkah tidak terkendalinya.


"Maafin Deno, Mi. Deno musti ikat Mami biar Mami berhenti benturin kepala Mami lagi kayak tadi."


Deno keluar setelah memastikan ibunya aman dan berjalan kesana kemari di depan pintu kamar sembari berpikir keras. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mungkin dia harus membeli obat terlebih dahulu untuk ibunya sebelum dia menghubungi polisi dan memberitahukan rumah mereka di rampok hingga sampai ayahnya terbunuh.


Deno yakin wanita yang masih berteriak di dalam kamar itu yang membunuh ayahnya. Deno sempat menitikkan air mata tidak percaya hal mengerikan seperti ini bisa terjadi pada keluarganya.


Baru saja melangkah, bersiap akan pergi membeli obat. Pintu depan rumah mereka di ketuk dari luar. Deno berjengkit kaget mulai ketakutan begitu mendengar suara dua orang pria yang berkata mereka adalah polisi di balik pintu.


Deno mulai kelimpungan, memutar otak mencari cara agar tidak membuat kedua polisi yang entah datang dari mana itu curiga.


Apa ada tetangga yang mendengar teriakan ibunya tadi hingga sampai menghubungi polisi? Sial! Benar-benar sial! Deno terpaksa harus berakting dan berbohong pada pria-pria yang memakai seragam hitam rapi itu.


(pembicaraan bahasa Itali diubah ke dalam bahasa Indonesia)

__ADS_1


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Deno berusaha terlihat tenang.


Dua polisi yang berada di depannya menatap Deno penuh selidik sebelum bersuara.


"Maaf, Pak. Kami mendapat laporan dirumah ini terjadi keributan dan mengganggu tetangga sekitar. Apa ada yang terjadi?" tanya salah satu polisi.


"Tidak ada, Pak. Tadi ibuku hanya sedang kaget saja kerena berhasil mendapatkan tas yang dia inginkan selama berbulan-bulan. Maaf jika teriakan kegembiraan ibu saya membuat tetangga sekitar terganggu," sahut Deno enteng.


Kedua pria polisi itu tampak saling bertatapan masih belum puas dengan jawaban Deno.


"Apa ibu, Bapak ada?"


"Ya, dia ada di dalam tapi beliau sedang mandi saat ini," bohong Deno.


"Apa dirumah ini hanya ada Bapak, dan Ibu anda?"


"Tidak, ada juga ayahku. Dia sedang tidur di kamar, aku baru saja tiba dari Indonesia."


Kedua polisi itu kompak mengangguk, masih sempat melihat ke dalam rumah sebelum mengakhiri interogasi mereka pada Deno.


"Baiklah, tolong katakan pada ibumu agar jangan berteriak lagi dan membuat tetangga sekitar terganggu," ucap satu polisi yang lain.


Kedua polisi yang baru berpamitan, terkejut bersama Deno saat mendengar teriakan lagi dari dalam kamar kedua orang tuanya.


Jantung Deno seakan di pacu, gugup dan takut saat ibunya mulai berteriak 'tukang selingkuh, aku bunuh kamu, Cokro'.


Sial! Maki Menteri itu dalam hati.


"Apa yang terjadi, Pak?" Kedua polisi berbalik menatap Deno.


"Ti-tidak ada, Pak. Maaf, aku harus melihat ibuku dulu. Saya akan mengatakan padanya agar berhenti berteriak, terima kasih untuk kerja keras anda berdua, selamat siang."


Deno yang bermaksud ingin menutup pintu, langsung dicegat oleh salah satu polisi karena terlanjur curiga dengan gerak gerik yang ditunjukkan Deno pada mereka.


"Mundur, Pak. Kami harus memeriksanya!" ucap polisi di depan Deno, menahan pintu dan masuk mendekati kemana arah teriakan Wati terdengar.


Deno tidak bisa berbuat banyak saat kedua polisi itu membuka pintu kamar Wati dan Cokro, dan begitu terkejut melihat pemandangan mengerikan di depan mereka.

__ADS_1


Bergegas salah satu polisi menghubungi rekan mereka yang lain dan menahan Deno yang terdiam berdiri mematung di tempatnya.


(pembicaraan bahasa Itali diubah ke dalam bahasa Indonesia, selesai)


"A-apa maksud kamu papi aku meninggal, Bor?" tanya Mulan syok.


Wanita yang duduk disamping Rama dalam mobil gelisah mendengar laporan asisten suaminya yang kini mengajak mereka ke rumah ayah dan juga ibu tirinya di Milan.


Mulan sama sekali tidak tahu jika kedua orang itu ada di negara yang sama dengannya juga. Dia tidak menyangka orang yang sangat ingin dia hindari malah berada sangat dekat dengan dia saat ini.


"Aku barusan dapet laporan dari seseorang tentang kasus pembunuhan di rumah mereka, Bu Mulan. Polisi masih ada di sana menginterogasi Pak Deno yang katanya sempat menyembunyikan kejadian ini pada polisi."


"Apa?!" Mulan makin syok mendengarnya.


Pembunuhan? Siapa yang membunuh ayahnya? Mulan menutup mulutnya tidak percaya dan mulai menangis di samping Rama.


"Tenang, Sayang...." sela Rama mengusap pundak wanitanya.


"Tenang, jangan nangis. Kita cari tahu dulu berita yang sebenarnya gimana," sambungnya ikut sedih melihat Mulan yang menangis.


"Papi, Ra. Aku nggak nyangka dia pergi dengan cara dibunuh begini," lirih Mulan merasa sesak di dalam sana.


"Iya, aku juga nggak nyangka, Sayang. Kamu harus tenang, Ok? Kita bakal nyari tahu semua ini sama-sama." Rama menarik Mulan ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan wanita yang dia cinta.


Mulan tidak bisa menutupi rasa sedih dan kehilangan dihatinya. Meski selalu jahat dan tidak bertanggung jawab padanya selama ini, tapi Cokro adalah ayah kandungnya. Walau bagaimanapun Mulan menyayangi pria itu layaknya sayang anak pada orang tua.


Mulan tetap menganggap Cokro sebagai ayahnya terlepas dari sikap pria itu yang tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai anaknya juga seperti Deno.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Baik banget hati Mulan 🥺


__ADS_2