
"Mau pulang, Ber?"
"Iya, Bu."
"Sama siapa?" tanya rekan kerja wanita Gober.
"Sendiri, Bu."
"Bareng aja mau nggak?"
"Eh, nggak usah, Bu. Aku nggak mau ngerepotin."
Wanita di depan Gober tersenyum, berdiri beberapa langkah di depannya. "Nggak ngerepotin, kok. Kalo kamu mau bareng aku aja. Lagian anak magang kayak kamu harus pinter-pinter menghemat uang, Ber!" ucapnya beralasan.
"Mmm, tapi, Bu—"
"Mas...."
Gober terhenti, berbalik menatap wanita cantik dengan hidung mancung dan bibir tipisnya berjalan mendekati mereka dengan senyum sumringah diwajah.
Gober seketika ikut tersenyum, merasa dia punya alasan untuk menolak ajakan rekan kerjanya pulang bersama.
Melihat kehadiran wanita yang tampak cantik dengan terusan peach yang dia pakai sontak membuat rasa lelah Gober hari ini meluap begitu melihat sosok wanita yang dia idam-idamkan hadir di sana tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Cima," ucap Gober bahagia. "Kamu disini?"
Cima berhenti di depannya, mengangguk dengan senyum termanisnya. "Iya, aku sengaja kesini mau ngajak Mas Gober pulang bareng," sahutnya bersemangat.
"Eh, kok kamu yang malah ngajak pulang bareng, sih? Harusnya, kan aku yang pergi jemput kamu di butik."
"Nggak pa-pa, skali-skali aku yang kesini jemput Mas Gober. Aku tahu Mas pasti sibuk banget seminggu kerja. Aku nggak mau Mas Gober makin capek kalo harus jemput aku lagi."
Gober seketika tersipu dengan hati membuncah mendengar ucapan manis dari bibir yang sangat ingin dia kecup sekarang juga. Cima sudah semakin jago bersilat lidah pikirnya.
"Manis banget, sih omongannya. Jadi makin cinta, deh...." sahut Gober mencolek pipi Cima gemas.
Cima gantian tersipu dengan wajah memerah, sahabat kakaknya ini memang semakin sering berkata cinta padanya setelah pertemuan terakhir mereka di cafe es cream waktu itu.
Gober bahkan tidak pernah sekalipun absen menelepon ataupun mengirimnya pesan untuk sekedar menayakan sedang apa dan berkata cinta.
Cima merasa ini adalah sebagian langkah Gober menunjukkan perasaannya yang dalam untuknya.
"Ini siapa, Ber?" tanya rekan kerja wanita Gober yang ternyata masih berada di sana.
"Oh, maaf, Bu. Pacar aku ternyata dateng jemput aku hari ini." Gober menarik Cima berdiri di sampingnya dengan tangan merangkul pundak wanita itu.
"Pacar?
"Iya, Bu. Kenalin ini Cima, pacar aku."
__ADS_1
Cima yang dikenalkan Gober sebagai pacarnya sontak gugup dan tersenyum keki menatap wanita muda yang sepertinya seumuran dengannya.
"Hai, Cima...." ujarnya mengulurkan tangan bersalaman.
"Oh, hai ... aku Kara." sahutnya membalas salaman tangan Cima.
"Aku nggak tahu kalo Gober ternyata udah punya pacar. Hampir aja aku gaet," canda Kara namun terdengar cukup serius.
Cima hanya tersenyum tidak tahu harus berkata apa. Bisa-bisanya Gober menggunakan dia untuk membasmi wanita-wanita yang ingin mendekati pria itu.
Wanita yang memiliki nama seperti produk santan kelapa itu pun pergi, masuk ke dalam mobilnya sesudah berpamitan pada mereka.
"Apaan, sih pake ngomong aku ini pacarnya Mas Gober!" Cima bersuara setelah Kara pergi dengan mobilnya.
Suaranya terdengar tidak suka namun juga senang, entah mengapa mendengar Kara berkata akan menggaet pria yang mengejarnya membuat hati Cima tidak rela.
"Yah masa aku harus ngomong kamu adik aku, Ci ... nggak mungkin, kan. Lagian kita bakal nikah juga nanti. Biar aja semua orang tahu kamu itu pacar aku. Aku malah lebih seneng dan bangga kalo orang tahu....!" jujur Gober apa adanya.
Cima kembali tersipu merasa hatinya dibuat melayang lagi dengan ucapan manis Gober.
"Makasih, yah udah mau repot-repot dateng kesini. Padahal tadi aku baru mo rencana ke butik Mommy Manda, abis ini. Seminggu nggak ketemu kamu bikin aku kangen," ucap Gober lagi yang terdengar sangat manis di telinga Cima.
"Kok bisa pas gitu, yah?" sahut Cima malu.
"Berarti itu tandanya kita jodoh, Ci. Belum pacaran aja udah sehati sepemikiran, gimana nanti kalo udah pacaran trus nikah ... pasti kamu laper aja aku tahu," ucap Gober tertawa geli.
Cima ikut tertawa mendengarkan gombalan-gombalan receh pria yang memang senang membuatnya salah tingkah. Calon pasangan itu sama-sama tertawa di depan kantor milik Donal, hingga seorang pria yang tidak lagi muda berjalan keluar dari dalam sana.
"Papi Donal...," sahut Cima senang.
"Ngapain kamu disini?" tanya Donal mendekati anak laki-lakinya dan Cima.
"Jemput Gober, Pi...," jawab Cima polos.
"Hah? Jemput Gober? Nggak salah kamu?" Donal tertawa, beralih menatap anaknya yang mendadak bisu di depannya.
"Kamu yang suruh Cima jemput kamu kesini, Ber?" tanya Donal pada anak penerusnya.
"Enggak kok, Pi. Aku yang sengaja dateng kesini, Mas Gober nggak tahu kalo aku bakal dateng," sahut Cima lebih dulu.
Donal refleks menatap Cima, kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Mas?" ucapnya kembali menatap Gober yang menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Mas, Ber?" ucap Donal lagi diikuti tawa terbahak dari bibirnya.
Gober mendengus dengan wajah yang kesal, ini yang dia malas dari ayahnya. Pria di depannya ini akan terus menggodanya dan membuat dia malu di depan banyak orang.
Sial! Kenapa juga ayahnya harus keluar disaat mereka masih berada di depan kantor! Kesal Gober dalam hati.
"Sejak kapan kamu manggil Gober dengan sebutan Mas begitu, Cima?" tanya Donal masih tertawa.
__ADS_1
"Ck, udah nggak usah nanya-nanya lagi. Papi pulang aja sana, aku masih ada urusan sama Cima!" sela Gober tidak suka.
Donal langsung terdiam, mengernyit curiga dengan gerak gerik Gober. "Urusan apa, jangan aneh-aneh, yah kamu, Ber!" ucapnya mengingatkan.
Richard akan memborbardir dia jika sampai tahu anak perempuan kesayangannya diapa-apakan oleh cassanova seperti anaknya.
"Aneh-aneh apa sih, Pi. Udah sana pulang, mami pasti nungguin Papi daritadi dirumah!" sahut Gober sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ish, kamu ngusir Papi dari perusahaan Papi sendiri?!"
"Nggak, tapi aku cuman mau ingetin kalo ini jadwal malamnya Papi sama mami. Mending Papi cepet pulang dari pada nggak dapet jatah tar malem!"
Donal berdecak merasa Gober pasti sengaja menggunakan alasan ini untuk menghindarinya. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena memang malam ini adalah jadwal malam panjangnya bersama Celin.
Donal pun akhirnya memilih pergi meninggalkan Cima dan Gober yang menarik nafas lega.
"Jadwal malam apa sih, Mas?" tanya Cima tidak mengerti.
Mereka sudah berada di dalam mobilnya dengan Gober duduk di kursi kemudi.
"Kamu mau tahu?"
"Iya, apa emangnya?"
Gober menepikan mobil, membuka seat belt dan beralih menatap Cima.
"Bener kamu mau tahu?" Cima mengangguk.
"Sini deket." Cima mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Gober penasaran dengan apa yang akan dikatakan pria berkulit sawo matang itu.
"Jadi, jadwal malam itu ini...." Gober maju, mengecup bibir tipis Cima yang terus menggodanya sejak tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Wihh ...
Mas Gober udah mulai berani, yah 🤭😆
__ADS_1
Sabar menanti up yah, pecinta biji 😆