Touch My Body

Touch My Body
Pemegang Saham Baru


__ADS_3

Seminggu setelah pemakaman mantan Wakil Presiden Cokro dilaksanakan, Deno duduk dengan gelisah di ruang kerjanya dalam perusahaan.


Pemimpin tertinggi itu sedang dibuat pusing dan khawatir dengan berita skandal kasus korupsinya yang tiba-tiba mencuat ke publik dengan bukti-bukti yang entah datang dari mana.


Deno melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya, memekik kuat melampiaskan kekesalan dihati.


"Brengsek! Kurang ajar!" teriaknya frustasi.


Bagaimana mungkin hal yang sudah sangat dia jaga dan simpan kerahasiaannya dengan hati-hati bisa tercium oleh media? Apa ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkannya dalam masa pencalonannya sebagai Wakil Presiden periode berikut?


Deno benar-benar tidak menyangka akan ada hal seperti ini disaat dia sedang sibuk mengurus ibu dan juga perusahaannya yang hampir bangkrut karena perginya para pemegang saham tanpa alasan yang jelas.


Deno tidak tahu harus memberikan penjelasan apa pada semua wartawan yang menurut laporan ajudan pribadinya, sedang berkumpul di lobi perusahaan saat ini.


"Sialan! Brengsek!" teriak Deno lagi mengusap rambutnya kasar.


"Pak!" Aman masuk, kaget mendapati ruangan atasannya yang berantakan bak kapal pecah.


"Kenapa lagi kamu?!" sentak Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu kesal.


"Ma-maaf, Pak. Tapi ada seorang yang ingin bertemu dengan Bapak sejam lagi."


Deno mendengus, menjatuhkan dirinya di atas kursi kebesarannya. "Siapa lagi yang mau ketemu aku, hah?! Udah berapa kali aku bilang aku belum mau ketemu siapa-siapa dulu sekarang!"


"Tapi ini pemegang saham yang kemarin membeli saham perusahaan kita, Pak," sahut Aman cepat sebelum Deno memarahinya lagi.


Pria itu pun mendongak, menatap Aman tidak percaya. "Kenapa tiba-tiba banget gini, Man?" tanyanya resah.


"Aku juga tidak tahu, Pak. Mereka baru saja menghubungiku. Mereka akan kesini sekitar satu jam lagi."


"Brengsek!" maki Deno lagi makin frustasi.


Kepalanya terasa akan pecah sekarang. Masalah yang satunya belum sempat selesai, malah harus bertambah lagi dengan kehadiran seseorang yang membeli saham perusahaannya yang sampai saat ini tidak diketahui oleh Deno siapa orangnya.


Dia hanya belum siap saja bertemu dengan orang lain disaat hati dan pikirannya sedang kacau seperti ini. Deno takut pemegang saham yang baru justru akan pergi menarik sahamnya, jika nanti dia sampai salah bicara atau tidak menyambut mereka dengan baik.


Tapi Deno tidak mungkin menolak kedatangan rekan kerja samanya yang baru. Walau bagaimanapun dia lah orang yang telah menyelamatkan perusahaan miliknya dari ambang kehancuran.


Mau tidak mau Deno pun akhirnya harus menyambut kedatangan dua mobil mewah yang baru saja tiba di lobby perusahaan miliknya.

__ADS_1


"Mereka udah naik, Man?"


"Iya, Pak. Sebentar lagi mereka masuk."


"Ok, siapin semuanya dengan baik, jangan lupa!" Atasan dan asisten pribadi itu berdiri di depan pintu lift, bersiap menyambut kedatangan pemegang saham terbesar di perusahaannya sendiri.


Begitu pintu lift di depan mereka terbuka, dua orang pria dalam setelan jas rapi dan satu wanita yang memakai rok sebatas lutut berwarna navy dengan kemeja putih bergaris kecil keluar mendekati Deno dan Aman.


Senyum langsung merekah di wajah Deno begitu mengetahui dua pria yang ada di depannya saat ini.


"Pak Rama...." sapanya bahagia, berjalan cepat menghampiri ketiganya.


"Halo Pak Deno," sapa Rama balik.


"Saya sangat senang melihatmu disini, Pak Rama. Saya sama sekali tidak menyangka jika yang membeli saham diperusahaan saya adalah rekan bisnis saya sendiri." Deno menyalami Rama dengan hati yang sedikit lega.


Setidaknya orang yang membeli sahamnya adalah orang yang cukup dia kenal. Deno merasa tidak perlu khawatir dengan pria yang tersenyum penuh arti membalas salaman tangannya.


"Saya juga tidak pernah berpikir akan membeli saham perusahaan rekan bisnis saya sendiri, Pak Deno. Senang rasanya kita bisa bertemu kembali," ucap Rama berbasa-basi.


"Terima kasih sudah membantu saya, Pak Rama. Setidaknya melihat seseorang yang saya kenal berada disini, bisa membuat saya lebih tenang." Rama mengangguk, berdiri di samping Bora yang diam seribu bahasa dengan satu wanita cantik berdiri tepat di belakang tubuh atletisnya.


"Maaf atas kelancangan saya, Pak Rama. Terlalu senang melihatmu disini sampai saya tidak menyadari ada seorang wanita yang ternyata juga ikut bersama denganmu hari ini."


"Oh iya, dia itu istri saya." Rama berpindah, memberikan kesempatan untuk wanitanya maju ke depan berhadapan dengan Deno.


Mulan tersenyum, menatap tajam pria yang seketika membola tidak percaya melihatnya. "L-lo?!" ucapnya terbata.


"Halo Pak Deno," sapa Mulan bersikap biasa.


"Kenalkan istri saya, Pak Deno. Namanya Mulan." Rama merangkul pundak wanitanya, memberi penegasan kalau mereka benar adalah suami istri.


"I-istri?" sahut Deno tidak percaya.


"Iya, dia yang sempat kita bicarakan waktu itu di Milan."


Deno mengepalkan tangannya dengan wajah yang seketika berubah marah dan jijik. Sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya adik tirinya bisa muncul dengan membawa seorang pria yang memiliki status diatasnya.


Sial! Perempuan tidak tahu diuntung ini pasti sangat bangga bisa menikah dengan rekan bisnisnya sendiri, gumam Deno memendam kesal.

__ADS_1


"Jadi benar, Pak Rama sudah menikah? Saya pikir Pak Rama hanya bercanda saja waktu itu. Padahal saya baru saja berencana ingin mengenalkan adik tiri saya pada Pak Rama." Deno tersenyum sinis, menatap Mulan yang ikut membalas tatapannya tidak kalah sinisnya.


"Benarkah? Sayang sekali saya sudah menikah dengan wanita yang sangat baik dan juga cantik, Pak Deno. Saya rasa saya tidak memerlukan wanita lain lagi jika sudah memiliki seorang malaikat seperti Mulan," sahut Rama bangga, menunjukkan dirinya yang luar biasa bahagia menikah dengan Mulan.


Deno ingin sekali muntah di depan mereka begitu mendengar ucapan menjijikkan yang keluar dari mulut Rama untuk Mulan. Bagaimana bisa wanita yang lahir dari wanita penggoda seperti ibunya bisa menikah dengan pria sempurna seperti Rama? Deno yakin Mulan pasti sengaja menjebak Rama agar bisa menggunakannya sebagai alat balas dendamnya pada keluarga mereka.


"Oh, iya ... saya juga lupa memberitahukan satu hal lagi pada Pak Deno," sambung Rama memberi kode pada asistennya Bora.


Pria berkacamata mata itu maju, memberikan sebuah dokumen ke tangan Deno yang mengernyitkan dahi.


"Apa ini, Pak Rama?" tanya Deno penasaran.


"Itu surat kepemilikan saham yang saya beli dari Pak Deno atas nama istri saya, Mulan."


Deno berjengkit kaget, menjatuhkan dokumen kepemilikan itu dari tangannya. "A-apa?!" ucapnya sedikit bergumam.


Rama sekilas tersenyum tipis melihat wajah Deno yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata lagi.


Deno pasti sangat syok begitu mengetahui perusahaannya kini telah diambil alih oleh wanita yang sangat dia benci dan ingin dia jual tempo hari pada seorang rekan bisnisnya yang lain.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" Bora bersuara, sengaja membuat Deno malu.


Aman ajudannya dengan cepat memungut dokumen tersebut, menyadarkan Deno dari kekagetannya yang tidak bisa terbendung lagi.


"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik kedepannya, Pak Deno." Mulan ikut menimpali, tersenyum mengejek menatap kakak tirinya.


.


.


.


.


.


.


Let's rock kata Mulan 🤭😆

__ADS_1


__ADS_2