
Sudah lebih dari lima menit Jacob menunggu istrinya yang tidak kunjung kembali dari toilet. Perasaan Jacob mulai tidak tenang dibuatnya, ini sudah terlalu lama pikirnya. Jacob pun beranjak memutuskan menyusul Anna ke toilet.
Baru saja mendekati tempat toilet wanita berada, beberapa orang mulai terlihat berkumpul dan menggerutu. Jacob mengernyit, bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini? Apa yang terjadi?
Salah seorang wanita terdengar marah-marah pada dua pria yang entah bagaimana ceritanya berdiri mematung di depan pintu toilet wanita dengan enteng.
Jacob mendekat, penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana.
"Kalian ngapain di sini? Ini, kan toilet cewek. Lagian sejak kapan toilet ini nggak bisa digunain?!" pekik wanita yang berdiri tidak jauh dari Jacob.
Jacob mengernyitkan dahi lagi, menatap satu per satu dua pria berbadan besar itu. Seorang wanita yang lain ikut bersuara, menambahi wanita yang sedang marah-marah pada mereka.
"Maaf, Mbak. Ini ada apa, yah?" tanya Jacob pada wanita yang berdiri di dekatnya.
"Itu, Pak. Dua cowok gede di depan nggak ngizinin kita gunain toilet ini. Katanya toiletnya lagi nggak bisa digunain, padahal jelas-jelas di dalem ada cewek yang belum lama masuk!" jawab wanita itu panjang lebar.
Manik mata abu-abu Jacob seketika melihat ke sekelilingnya mencari wanita yang tadi pamit ingin ke toilet ini juga padanya.
Fokus Jacob hanya pada ucapan 'ada cewek yang belum lama masuk'. Dia bergegas maju, yakin kalau wanita yang dikatakan perempuan tadi adalah istrinya.
"Woi kalian berdua! Minggir, nggak?!" Jacob berdiri di depan dua pria berjas hitam lengkap dengan kacamata hitamnya bertengger di hidung mereka.
"Lebih baik Bapak mundur kalo nggak mau ada pertikaian di sini!" sahut satu pria di samping kanan Jacob.
"Kalian mestinya yang mundur bukan saya! Minggir kalo nggak mau saya panggil security ke sini!" Jacob menatap bergantian dua pria di depannya yang sama sekali tidak mau beranjak dari sana.
Samar-samar Jacob bisa mendengar suara meminta tolong dari dalam toilet. Perasaannya semakin tidak enak karenanya.
__ADS_1
"Minggir! Kalian pasti lagi nyembunyiin sesuatu di dalem, kan?! Nggak ada cowok gila yang mau berdiri di depan toilet wanita kayak kalian!" Jacob mendorong salah satu dari pria-pria tersebut dan maju menarik pegangan pintu dengan cepat.
Bogem mentah langsung menyambar pipi kiri Jacob dari arah kirinya. Satu pria yang lain sepertinya tidak terima Jacob bersikap sok pahlawan dengan mendorong temannya.
Jacob tidak sempat menghindar saat tangan pria itu kembali memukul wajahnya cukup keras hingga jatuh tersungkur di lantai dengan telinga yang berdengung hebat.
"Brengsek!" pekik Jacob berusaha bangkit.
Teriakan dari wanita-wanita yang berkumpul di sana menarik perhatian penumpang yang sedang menunggu diruang tunggu juga. Security yang berjaga di dekat sana dengan cepat berlari mendekati Jacob dan dua pria yang lain, yang sedang beradu jotos di depan toilet wanita.
Jacob segera ditahan oleh satu orang security yang ingin memukul pria berbadan jauh lebih besar darinya sekali lagi. Sudut bibirnya sedikit berdarah dengan nafas yang naik turun. Emosi Jacob terpancing seiring denyut perih dibibir dan rahang bawahnya.
"Lepasin saya. Mereka yang berbuat onar lebih dulu, bukan saya!" Jacob berontak dalam tahanan security, tidak terima diperlakukan seperti seorang penjahat.
Suara-suara membenarkan ucapan Jacob ikut terdengar saat dirinya meminta dilepaskan. Mereka menjelaskan secara singkat bagaimana dua pria yang sudah ditahan oleh Security yang lain memukul Jacob lebih dulu.
Security yang menahan Jacob pun akhirnya melepaskan Jacob begitu mendengar pembelaan semua yang ada di sana untuknya.
"Sial!" pekiknya marah.
Hati Jacob semakin tidak tenang seiring pikiran-pikiran aneh yang terus merasukinya sejak tadi.
Jacob takut telah terjadi sesuatu pada wanitanya di dalam sana. Dalam sekali dorongan kuat, Jacob mendobrak pintu hingga pintu toilet berhasil dibuka olehnya.
Mata Jacob membola seketika begitu melihat pemandangan menyayat hati di depannya. Anna terduduk dengan tubuh setengah telanjang dan dalam keadaan yang berantakan.
Wanita itu tengah menangis menutup wajahnya dengan tangan di lantai toilet yang dingin. Jacob bergegas mendekati Anna, membuka mantel dan menutupi tubuh istrinya yang terlihat lebam di sana sini.
__ADS_1
"Bebeb...." Jacob merangkul Anna, merasakan tubuhnya yang bergetar hebat.
Jacob langsung menarik Anna ke dalam dekapan hangatnya.
Tangisan tersembunyi Anna semakin menjadi saat tahu siapa pria yang sedang memeluknya saat ini. Jacob semakin tersayat mendengar tangisan istrinya.
"Bebeb, ada apa? Apa yang terjadi, Beb?"
Security yang ada di depan pintu toilet masuk, kaget mendapati ada satu wanita yang sedang dipeluk Jacob dalam keadaan berantakan.
Mereka langsung bergerak cepat memanggil tim yang lain dan juga paramedis bandara sembari menahan beberapa orang yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.
"Beb, ada apa, Beb? Jangan bikin aku takut." Anna masih tersedu, menangis menumpahkan rasa pedih dan sakit dihatinya.
Jacob tahu ada seseorang yang baru saja kabur dari sana dan meninggalkan wanitanya dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.
Tidak ada waktu untuk mencari bajingan itu. Jacob memilih menenangkan Anna sampai paramedis dan tim security yang lain tiba.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya satu paramedis berjongkok di samping Jacob dan Anna.
"Saya tidak tahu. Istri saya...." Jacob tidak mampu meneruskan ucapannya terlalu sakit membayangkan kekejian apa yang diterima Anna selama beberapa menit yang lalu.
Paramedis itu mengangguk mengerti dan mulai mengeluarkan peralatan pertolongan pertama untuk memeriksa Anna.
Baru saja ingin menyentuhnya, Anna tiba-tiba berteriak tidak mau disentuh oleh paramedis itu. Dia mulai bersikap histeris di pelukan Jacob dan meraung-raung tidak jelas.
Jacob tahu dia harus segera melakukan sesuatu sebelum Anna semakin menjadi dan syok.
__ADS_1
"Tenang, Beb. Aku ada di sini. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu lagi." Suara lembut Jacob diikuti sapuan hangatnya menenangkan Anna yang histeris.
Perlahan namun pasti Anna mulai lebih tenang dan jatuh pingsan di dekapan suaminya.