
Mulan berjalan kesana kemari di dalam kamar suaminya dengan resah. Sudah hampir setengah jam dia menunggu Rama dengan pikirannya yang kacau.
Mulan sama sekali tidak menyangka Rama akan mengetahui hal yang selama ini dia simpan rapat-rapat darinya secepat ini.
Mulan merasa Rama pasti akan sangat marah dan kecewa karena telah membohonginya dan seakan menggunakan Rama sebagai tamengnya dalam misi balas dendamnya.
"Lo kenapa?" Rama masuk ke kamarnya mendapati Mulan berjalan kesana kemari seperti orang linglung.
"Kenapa apanya?" tanya Mulan balik, berusaha terlihat biasa.
"Kenapa mondar mandir. Emang disini nggak ada kursi?"
"Nggak pa-pa, gue lagi males duduk. Lo ngapain nyuruh gue kesini?" Rama tersenyum, menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"Sini...," panggil Rama menepuk bantal di sampingnya.
"Ngapain?"
"Kesini aja...." sahut Rama kembali menepuk bantal di sampingnya.
Mulan berdecak, berjalan pelan menuju suaminya dan duduk ditepi ranjang. "Disini aja, gue nggak mau disitu," ucapnya waspada.
"Yakin Lo nggak mau kesini?" sahut Rama penuh arti.
"Harus, yah gue tidur di sana sama Lo?! Udah, deh ngomong aja apa yang mau Lo omongin!" kesal Mulan merasa Rama sengaja mempermainkannya.
"Gue hitung sampe tiga. Kalo Lo masih juga nggak kesini, gue pastiin bakal nyeret Lo dari sana dan kita bakal ngelewatin malam ini tanpa baju!" ancam Rama mulai menghitung.
"Satu, dua—"
"Iya, iya. Gue kesana!" Mulan bergegas naik ke ranjang, mendekati Rama yang berbaring di sana.
Rama sontak tersenyum menang, menarik pinggang Mulan mendekat begitu Mulan berbaring disampingnya.
"Gue seneng kalo Lo patuh begini sama gue, Lan...," ucap Rama memposisikan tubuh mereka dengan nyaman.
__ADS_1
"Mau Lo apa, sih sebenernya?" tanya Mulan risih diperlakukan begini oleh Rama.
"Lo pernah denger istilah pillow talk, nggak? Kira-kira kita berdua bakal begitulah malam ini...," kekeh Rama terdengar bercanda.
Mulan mengernyit, tidak mengerti dengan maksud ucapan pria yang tengah memeluknya posesif.
"Gue nggak tahu bahasa Inggris kalo Lo lupa!" sinis Mulan kesal.
Rama seketika tertawa dan mencium puncak kepala istrinya tanpa sadar. "Iya gue tahu, gue cuma mau ngasih tahu aja kalo kita sekarang lagi ngomong dari hati ke hati. Gue mau Lo nyaman bareng gue diatas ranjang dengan posisi kita saling meluk kayak gini, Lan...," terangnya.
"Ck, ini namanya bukan nyaman. Tapi nyari kesempatan!" sarkas Mulan mencubit pinggang Rama.
"Aww ... sakit, Lan," ringis Rama.
"Bodo!"
"Ish, sama suami sendiri jahat banget, sih?" keluh Rama memelas.
Mulan mendengus, malas membalas ucapan Rama lagi. Keduanya diam selama beberapa menit dengan detak jantung yang sama-sama berdebar.
Sial! Dasar biji nggak bisa di deketin betina bentar! Kesal Rama berdehem mencoba mengusir pikiran aneh yang merasukinya.
"Jadi, Lo yang mau ngomong? Ato gue yang nanya duluan?" Rama membuka suara setelah lama mereka terdiam.
Mulan langsung gugup dengan detak jantung yang makin menggila, resah jika pria ini akan bertanya macam-macam padanya dan sampai menuduh dia yang tidak-tidak.
"Mo ngomong apa?" tanya Mulan berpura-pura tidak mengerti.
"Kalo gitu gue aja yang duluan." Rama melepaskan pelukannya, mundur untuk memudahkannya menatap wajah cantik Mulan.
"Hai, kenalin nama gue Rama. Gue anak pertama dari dua bersaudara, lahir di Indonesia dan sebagian besar di Jerman, dan juga punya keluarga yang sempurna. Kalo kita jadi temen deket, Lo mau nggak temenan deket sama gue?" Rama mengulurkan tangannya, bermaksud menyalami tangan Mulan. Wanita itu hanya melongo, bingung dengan tingkah pria di depannya.
"Kita nggak kenalan dengan baik, kan kemaren? Hari ini gue mau kita kenalan dan saling mencari tahu tentang masing-masing kita, Lan. Lo mau nggak?" Rama masih mengulurkan tangan, menunggu Mulan membalas salam tangannya.
Manik mata mereka saling bertemu dengan pandangan mata berbeda. Mulan ragu-ragu mengangkat tangannya membalas salaman tangan Rama yang seketika tersenyum bahagia menatap Mulan.
__ADS_1
"Gue Mulan, anak yatim piatu yang punya ayah tapi nggak pernah diakuin. Ibu gue meninggal waktu gue masih umur delapan tahun. Gue dibesarin sama keluarga ibu tiri gue dan cuman bisa ngerasin enaknya sekolah sampe kelas dua SD. Setelah ibu gue meninggal dan putus sekolah, gue cuman bisa diem jadi babu dirumah ayah gue dan terkadang harus nahan lapar berhari-hari. Gue pernah dikurung di dalam kamar gelap yang penuh tikus sampe sebulan lamanya dan pernah juga disiram air panas sampe tangan dan kaki gue melepuh. Beruntung selama gue disiksa, gue punya satu orang asisten rumah tangga yang selalu bantuin dan lindungin gue dari kejamnya keluarga ibu tiri gue. Sampe sekarang, cuman dia yang gue anggap satu-satunya keluarga gue yang tersisa di dunia ini...." Mulan tidak bisa meneruskan ucapannya lagi.
Mata indahnya mulai terasa memanas dengan sesuatu yang memaksa ingin keluar dari dalam sana. Mulan tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang dia simpan selama bertahun-tahun.
Mulan sudah lupa apa itu bahagia, dalam hidupnya dia hanya mengingat satu kata saja yaitu penderitaan.
Sejak ibunya meninggal tidak ada lagi seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Mulan merasa dunianya ikut berakhir semenjak wanita yang melahirkannya ke dunia pergi selamanya dari sisinya.
"Nangis aja, Lan...," ucap Rama tiba-tiba. "Nangis aja kalo Lo mau nangis. Tumpahin semua yang Lo rasa. Gue ada disini sama lo, gue selalu siap jadi sandaran buat hidup Lo."
Mulan tersenyum dengan hati menghangat. Air matanya langsung merembes keluar begitu mendengar ucapan Rama.
Benarkah dia bisa menjadikan Rama sebagai sandaran hidupnya? Rasanya untuk berharap sampai sejauh itu adalah hal yang mustahil baginya. Mulan merasa hidupnya sudah terlalu penuh dengan penderitaan, bahagia mungkin tidak akan pernah pantas dia dapatkan sampai kapanpun.
Mulan hanya ingin menumpahkan apa yang dia rasa selama ini pada seseorang, berbagi cerita dengan orang yang benar-benar tulus padanya. Entah itu Rama orangnya atau bukan, tapi berada disamping Rama sedikit banyak telah membuat hati Mulan tenang dan nyaman.
Kehadiran Rama telah banyak memberikan angin segar dihatinya yang terasa sesak selama ini. Mulan hanya berharap Rama pun merasakan hal yang demikian sama dengannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kasiannya Mulan 🥺