
"Pak Jacob." Anna masuk ke dalam ruang kerja atasannya dalam apartemen.
Memakai terusan baju tidur tipis berwarna merah sebatas paha, Anna berjalan mendekati Jacob yang masih belum sadar dengan pakaian yang dikenakan Anna.
"Ini kopinya, Pak." ucap Anna meletakkan segelas kopi panas pesanan pria itu di atas meja.
"Iya, makasih yah, Na...," sahut Jacob tanpa melihat ke arah Anna.
Pria berhidung mancung itu terlalu sibuk dengan berkas-berkas di depannya hingga tidak memperhatikan Anna yang sengaja berpakaian seksi untuk menggoda Jacob.
Tidak ingin hilang akal, Anna kembali bersuara. "Ada lagi yang Pak Jacob perlu?" tanyanya masih berdiri di depan Jacob.
"Nggak ada, kamu bisa pergi...."
Anna berdecak dalam hati merasa Jacob pasti sengaja mengabaikannya. Wanita itu memicingkan mata, mulai mencari-cari apa yang bisa dia lakukan untuk menarik perhatian pria yang ingin dia balas kelakuannya padanya tempo hari.
Anna akhirnya mendapatkan ide dengan sengaja menyambar vas bunga, yang ada di atas meja depan kursi sofa ruang kerja Jacob.
Bunyi yang cukup kuat membuat perhatian Jacob pun teralihkan, matanya seketika membola melihat Anna tengah menunduk di depannya sembari membersihkan apa yang sengaja dia jatuhkan di sana.
"Astaga Anna...!" pekik Jacob kaget, bangkit dari kursinya.
"Ma-maaf, Pak. Aku nggak sengaja." Anna sengaja berlama-lama dibawah sana, menampilkan belahan dada yang jelas terlihat dari pandangan mata Jacob dengan paha mulusnya.
"Kamu apa-apaan, sih?! Bikin aku kaget aja!" ucap Jacob beralasan tidak melepaskan pandangannya dari tubuh mulus Anna.
"Maaf, Pak. Sepertinya aku sedikit mengantuk, aku sudah tidur waktu Pak Jacob telpon minta dibuatkan kopi." Anna bangkit perlahan dengan tangan memegang vas bunga.
Bagai sedang melihat film dalam gerakan lambat, Jacob terus memperhatikan setiap gerakan Anna hingga vas yang dia pegang kembali berada di atas meja.
Jacob refleks menelan salivanya mulai merasakan area pangkal pahanya mengeras dengan sendirinya.
"Aku permisi dulu, Pak." pamit Anna berbalik anggun.
"Eh, tunggu, Na!" tahan Jacob berjalan cepat mendekati Anna yang tersenyum tipis.
"Kenapa, Pak?" Anna berbalik, menyambar dada Jacob yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Aww...," ringis Anna memegang dahinya yang berdenyut.
"Ya ampun ... sorry, sorry, Na. Sakit, yah?" tanya Jacob ikut mengusap dahi Anna.
Kesempatan itu digunakan Anna untuk semakin menempel pada tubuh tinggi Jacob.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pak." Dada yang sedikit terbuka dengan belahan yang sangat kentara dari pandangan Jacob, membuat pria itu berdehem pelan.
Astaga ... kenapa juga bukit kembar Anna harus nongol di waktu yang nggak tepat gini? Batin Jacob tersiksa.
Anna mendongak dan dengan sengaja meniup leher Jacob lembut. Dadanya yang sedikit terekspos dia tempelkan ke tubuh Jacob.
Pria itu merasa tubuhnya bagai sedang dialiri aliran listrik tinggi dengan benda kenyal Anna sedang menggoda iman kelelakiannya. Tanpa sadar Jacob memejamkan mata, menikmati gesekan demi gesekan yang tercipta diantara mereka berdua.
Dari depan tubuh tegap Jacob, Anna menyeringai puas. Tampaknya godaannya mulai bereaksi pada Jacob. Dengan satu kaki yang diangkat, Anna menyentuh benda berharga atasannya berpura-pura ada nyamuk yang menggigitnya.
"Aduh maaf, Pak. Kaki aku tiba-tiba gatal," ucapnya setengah membungkuk.
Ah, sial! Batin Jacob mundur satu langkah. Benda perkasanya tanpa diperintah langsung menegang sempurna. Bagaimana ini, mana mungkin tengah malam begini dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi?
Sial, benar-benar sial! Gumamnya dalam hati kesal.
"Pak Jacob kenapa?" Anna maju mendekati Jacob yang memerah menahan sesuatu di bawah sana.
"Jangan mendekat, Na!" pekik Jacob cepat.
"Kenapa, Pak?" tanya Anna berpura-pura tidak tahu.
"Pokoknya jangan, udah kamu keluar aja. Bahaya kalo kamu masih disini!"
"Tapi, Pak. Wajah Bapak merah sekali. Pak Jacob sakit? Mau aku ambilkan obat nggak, Pak?"
"Aduh, Na. Udah nggak usah, kamu keluar aja sana. Aku nggak pa-pa, jangan deket-deket aku lagi!" tolak Jacob frustasi.
Anna malah semakin maju menempelinya lagi seperti tadi. Tangannya yang halus menyentuh dahi Jacob, memberi gelanyar aneh ke sekujur tubuhnya yang menegang atas bawah.
"Nggak demam, suhunya normal-normal aja kayak aku." Wangi aroma tubuh Anna menyeruak masuk ke hidung Jacob begitu tangannya menempel di dahi pria itu.
Jacob menghembuskan nafas berat, menahan nafas dengan detak jantung menggila. Astaga ... dia pasti sudah gila menginginkan wanita di depannya saat ini.
Tangan yang tadinya berada di dahinya ditarik Jacob ke atas dan dengan cepat menautkan bibirnya ke bibir tipis Anna yang manis.
Anna berjengkit tidak percaya Jacob malah menciumnya dengan rakus. Jacob tidak membiarkan Anna sedikitpun lepas darinya dan menahan tubuh wanita itu agar tidak bisa kemana-mana.
Pagutan rakus yang perlahan membuai bibir Anna, membawa keduanya larut dalam permainan bibir dan lidah yang bergantian.
Harusnya dua orang itu tahu mereka tidak saling menggoda satu sama lain karena sama-sama mendambakan kenikmatan bibir masing-masing mereka.
Jacob memeluk tubuh ramping Anna, mengusap punggung hingga turun menyentuh bokongg sekretarisnya yang padat.
__ADS_1
Jacob dibuat penasaran dengan sesuatu dibalik baju tidur tipis Anna yang pendek, tangan yang kasar semakin turun menarik kain berbahan satin itu dan masuk mengusap paha dalam Anna.
Nggak! Anna memekik dalam hati. Jika dia tidak menghentikan kegiatan mereka ini, bisa dipastikan mereka akan berakhir di ranjang setelahnya.
Anna tidak diizinkan Jacob bergerak sedikit saja. Tangannya yang lain menahan tubuh Anna dengan sapuan yang menggelitik paha dalamnya.
Anna menggelinjangg tidak tenang saat jari tangan Jacob mulai menyentuh celana berenda miliknya di bawah sana.
Brengsek! Tidak mau kalah dengan Jacob, Anna ikut menyentuh benda perkasa yang terasa keras dari balik celana rumah yang Jacob pakai.
Dalam sekali genggamannya, Anna meremass itu dengan kuat dan berhasil membuat Jacob memekik tertahan di depannya. Kesempatan itu malah digunakan Jacob untuk menjepit tangan Anna di bawah sana.
Jacob ingin Anna sedikit lebih lama di sana bermain-main dengan benda kebanggaannya.
Ah ... meski tidak sampai bercinta tapi Jacob menyukai ini. Tangan Anna yang lembut pasti bisa membuat benda perkasanya bahagia, pikirnya.
Dasar gila! Anna membatin marah dalam hati, wanita itu berontak dengan cara menggigit lidah Jacob hingga pagutan pria itu terlepas dari bibirnya.
"Lepasin!" marah Anna dengan wajah merona.
"Apa, kamu juga suka, kan? Udah diem aja di sana sampe aku puas!" Jacob tersenyum mesumm dengan tangan yang berhasil masuk ke dalam celana berenda Anna.
"Aaa...! Dasar nggak punya sopan!"
Bukkkk...
Anna menyundul bibir Jacob dengan dahinya hingga pecah dan berdarah.
Jacob refleks melepaskan wanita itu, mundur memegang bibirnya. "Lo?!"
"Rasain!"
.
.
.
.
.
Astaga ... kelakuan mereka berdua nggak ada bedanya 🙄😆
__ADS_1