
"Pak, jadwal kunjungan kita ke desa Sindang Laut Cirebon, Jawa Barat telah dibatalkan, Pak."
Deno sudah menerima berita pembatalan kunjungannya ke beberapa daerah di Indonesia pagi ini. Setelah berita skandal panas ibunya dengan dua pria muda di luar negeri muncul ke publik, banyak yang menolak kedatangan Deno sebagai wakil presiden selanjutnya ke sana.
Bahkan dihari ini Deno juga mendapatkan sekitar sepuluh buah surat kaleng yang berisi kata-kata tidak pantas, sampai menyumpahi keluarganya.
Deno harus menambah pengawal pribadi untuk menjaga keamanan di depan rumahnya yang sampai tadi subuh masih saja dipenuhi awak media yang menunggu tanggapan darinya tentang video panas tersebut.
Baru dua hari semenjak video itu menyebar ke seluruh penjuru Negara, Deno sudah ditolak dibeberapa daerah dan berimbas pada pencalonannya sebagai wakil presiden dua bulan depan.
Deno sudah mulai mengurus masa cutinya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif agar bisa fokus pada pencalonannya, namun siapa yang menyangka jika video ibunya tengah menikmati malam panjang bersama dua pria menyeruak ke publik.
Sampai sekarang Deno masih belum tahu siapa yang sudah menyebarkan video-video itu dan membuat nama baik keluarganya tercoreng.
"Kita harus bagaimana, Pak?" Ajudan sekaligus asisten pribadi Deno bersuara.
Dia pun ikut pusing memikirkan nasib atasannya yang lagi-lagi harus ditolak kedatangannya karena kasus video wanita yang dipanggilnya nyonya Wati.
Deno terlihat menggeram kesal duduk di depan ajudannya, pria itu sudah berulang kali menghubungi nomor Wati dan juga Cokro yang sampai saat ini belum bisa tersambung setelah dua hari yang lalu Deno selesai berbicara dengan ibunya.
Dia kesal karena harus menyelesaikan masalah pelik ibunya seorang diri tanpa bantuan ayahnya yang ikut menghilang tanpa kabar bersama Wati.
"Besok aku mau ke puncak dulu, Man. Untuk sementara aku bakal tinggal di sana dulu sampe masalah ini mereda. Aku mesti cari tahu siapa yang udah nyebarin video-video gila itu secepatnya sementara aku tinggal di sana!"
"Tapi, Pak. Apa tidak masalah Pak Deno pergi disaat berita ini sedang panas-panasnya? Aku takut lawan politik Bapak malah akan menggunakan kesempatan ini untuk memojokkan Pak Deno dan keluarga. Mereka pasti akan mengatakan Bapak sengaja menghilang dan tidak mau memberikan penjelasan yang benar kepada publik hingga seakan membenarkan isi dalam video tersebut."
Deno diam memikirkan ucapan ajudannya. Jika dia ikut pergi disaat seperti ini, lawan politiknya memang bisa menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkannya.
Deno tidak mau salah melangkah dan berimbas pada elektabilitasnya sebagai calon wakil presiden yang sejak kemarin menurun lima persen karena masalah video ibunya.
Tampaknya dia harus memikirkan cara yang lain sembari dia mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Bunyi pesan masuk di ponsel ajudan Deno mengalihkan perhatian kedua pria itu. Cepat-cepat, Man mengambil ponselnya di saku celana membacanya dengan wajah yang kaget tidak percaya.
__ADS_1
"Pak...," ucapnya dengan nada khawatir.
"Kenapa?"
"Ini ... aku baru saja mendapatkan berita kalau semua pemegang saham di perusahaan kita sudah menarik semua saham mereka, Pak."
"Apa?!" Deno beranjak, kaget mendengar laporan ajudannya. "Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tahu, Pak. Tapi menurut informasi yang beredar, video-video nyonya Wati akan berimbas pada jatuhnya harga saham mereka nantinya. Mereka dengan cepat menarik diri sebelum hal itu terjadi, katanya."
"Brengsek!" pekik Deno marah menggebrak meja.
"Berani sekali mereka ngambil keputusan sepihak begini! Di semua surat kerja sama kita sudah jelas-jelas tertulis mereka tidak boleh asal memutuskan kontrak. Panggil pengacaraku kesini. Kita harus tuntut mereka karena seenaknya bertindak!"
Ajudan sekaligus asisten pribadi Deno mengangguk dan keluar menghubungi pengacara pribadi Deno. Satu masalah belum juga selesai, kini sudah ada masalah yang baru mendera mereka. Sepertinya Deno benar-benar akan disibukkan dengan hal yang perlahan akan membuat dia dan keluarganya hancur.
"Gimana, Bor. Kamu udah berhasil narik semua pemegang saham di perusahaannya Menteri sombong itu?" Rama duduk dari balik meja kerjanya sembari menonton berita tentang video panas ibu tiri istrinya di layar laptop.
Dia tidak menyangka video panas yang sengaja mereka sebar kemarin bisa seheboh dan seviral itu di negara kelahirannya. Berita-berita tentang video panas Wati memenuhi seluruh stasiun televisi di sana bahkan sampai menjadi trending topic di dunia maya.
Rama mengangguk dengan wajah penuh kemenangan. Baru saja mulai bergerak pria sombong dan tidak tahu malu itu sudah terguncang habis-habisan. Sepertinya misi balas dendamnya akan berlangsung dengan sangat seru dan menarik. Rama jadi tidak sabar memberitahukan berita baik ini pada Mulan.
"Kalo gitu, kamu siap-siap aja, Bor. Aku yakin sebentar lagi Deno bakal jual semua saham perusahaannya yang tersisa. Begitu dia mulai menjual, pastiin kita orang pertama yang membelinya, Bor. Aku nggak mau ada yang tersisa sama sekali dari dia!"
"Baik, Pak. Aku bakal ngasih berita baik buat Pak Rama sebentar lagi." Bora tersenyum, membungkuk sedikit sebelum pamit keluar dari ruang kerja Rama.
Lima menit setelah Bora pergi, Mulan masuk menemui suaminya dengan tangan membawa bekal makan siang untuk Rama seperti biasa.
Wanita itu mendekati Rama yang tampak sibuk dengan pekerjaannya di atas meja. Rama tidak menyadari kehadiran Mulan sampai dia berdiri di sampingnya.
"Sibuk amat, sih...," ucapnya lembut.
"Sayang, udah sampe?" kaget Rama mendongak menatap wanitanya.
__ADS_1
"Ish, sibuk banget sampe nggak tahu aku dateng!"
Rama tersenyum, menarik tangan Mulan duduk di pangkuannya. "Aku musti kerja keras, Yang. Nanti kalo kita punya anak siapa yang mau ngasih dia makan kalo bukan aku."
Mulan sontak terdiam, bingung harus berkata apa. Memikirkan hadirnya seorang anak sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Bagaimana mungkin dia memiliki anak sedangkan misi balas dendamnya belum juga terpenuhi hingga saat ini? Mulan merasa hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dengan keadaan dirinya yang masih belum sepenuhnya percaya pada Rama.
"Ngomong-ngomong, mulai besok kamu bakal ikut aku ke kantor, yah Sayang...." sambung Rama mengusap rambut panjang Mulan lembut.
"Mo ngapain?"
"Belajar."
Mulan mengernyit. "Belajar?"
"Iya, sebagai pemegang saham di perusahaan nanti. Kamu musti belajar gimana cara kerja di kantor. Aku yang bakal ngajarin kamu langsung."
"Pemegang saham apaan, sih maksud kamu?"
"Udah pokoknya kamu ikut aja apa kata aku, Yang. Mulai besok aku bakal ngajarin kamu luar dalem," sahut Rama tersenyum penuh arti.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Karena ada beberapa pembaca yang sempat komen panggilan Rama agak aneh,, ya udah author ganti panggilannya jadi Sayang aja yah 🤭😆