
"Ci...."
"Hmm."
"Hari ini tanggal cantik, loh."
"Terus?"
"Yah nggak pa-pa, kamu nggak ada keinginan apa gitu ditanggal cantik begini?"
Cima mengernyit, menghabiskan sekotak kecil es cream di depannya. "Keinginan apa maksud, Mas?"
Gober tersenyum, mengusap sudut bibir tipis Cima yang belepotan dengan es cream stroberi kesukaannya.
"Keinginan buat resmiin hubungan kita, Ci...." ucap pria berwajah manis itu menjilatt telunjuknya yang penuh es cream dari bibir Cima.
Wanita yang sontak menegang karena perlakuan tiba-tiba Gober tersipu, merona merah salah tingkah.
"Mas apa-apaan, sih. Malu tahu diliatin orang!" sahut Cima malu-malu meong.
"Biarin aja, namanya juga saling cinta!" ucap Gober santai.
"Saling cinta? Emang aku pernah bilang gitu cinta sama Mas Gober juga?" goda Cima tertawa geli dalam hati.
"Eh ... belum, yah?" Gober tersenyum keki, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Cima sontak tertawa lepas di depan pria yang gantian merona merah dibuatnya. Sudut mata Cima sampai berair saking gelinya melihat wajah pria yang ternyata bisa juga salah tingkah karena godaannya.
"Kamu ngerjain aku, yah?"
"Enggak, siapa juga yang godain Mas...," sahut Cima memegang perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.
Gober memicingkan mata, melipat tangannya di depan dada. "Udah makin jago, yah sekarang. Kalo aku godain kamu balik, pasti kamu langsung nangis kejer dan minta dibeliin es cream lagi."
"Ish, mana ada yang begitu. Aku udah gede kali, Mas. Udah bisa bedain mana yang perlu ditangisin sama yang enggak!" Cima menjulurkan lidahnya, sengaja mengejek Gober yang sontak gemas melihat tingkah cinta pertamanya.
"Haduh ... aku gigit lidah kamu baru tahu rasa!"
"Emang berani?" tantang Cima sengaja membuat Gober panas dingin ditempatnya.
Astaga ... mana tantangin lagi, nih betina! Batin Gober menggerutu dalam hati.
"Beranilah, tunggu aja kalo kita lagi berduaan. Abis lidah kamu, aku emutt!" ancam Gober tersenyum penuh arti.
"Ih ... takut!" goda Cima lagi kembali tertawa terpingkal di depan Gober.
__ADS_1
Pasangan yang belum memiliki status apapun itu tengah menghabiskan malam rabunya di sebuah toko es cream tidak jauh dari rumah Cima.
Setelah menjemput Cima di butik milik ibunya, Gober membawa wanita pujaannya kesini atas permintaan Cima. Entah kenapa menghabiskan waktu di tempat yang terbilang sangat jauh dari kesan dirinya sebagai pria dewasa yang cool, Gober merasa lebih nyaman menghabiskan waktunya di sana.
Mungkin dengan kehadiran Cima disisinya, Gober merasa lebih betah dan ingin terus berlama-lama bersama wanita berhidung mancung itu.
"Ngomong-ngomong, Ci. Besok aku udah mulai kerja di perusahaan Papi," ucap Gober disela-sela candaan mereka.
"Kerja? Emang selama ini Mas nggak kerja?" tanya Cima tidak tahu.
"Sebenernya, sih dulu pernah. Tapi karena akunya yang masih pengen keluyuran kesana kemari, aku putusin buat rehat dulu sementara. Aku nggak bisa fokus kerja kalo aku nggak punya tujuan."
Cima berdecak, meletakkan sendok yang dia pakai ke atas meja. "Pasti boong, bilang aja dulu emang belum mau dan lebih demen main di club!" cibirnya.
"Aku nggak mau munafik sih, Ci. Dulu emang kita, tuh hobi banget kesana. Tapi seiring bertambahnya umur, pergaulan dan pikiran kita jadi jauh lebih terbuka. Apalagi liat kakak kamu nikah kemaren, aku sama Jacob sempet mikir kapan yah, kira-kira waktu kita berdua. Kayaknya udah cukup, deh kita main-main selama ini. Makanya pas ketemu kamu aku jadi punya tujuan hidup yang lebih terarah," sahut Gober apa adanya menatap dalam wanita yang seketika mengernyitkan dahi.
"Kok, aku?" tunjuk Cima pada dirinya sendiri.
Gober tersenyum, mengambil tangan halus Cima untuk dia genggam. "Iya, kamu Cima. Kemaren, kan aku pernah ngomong kamu cinta pertama aku. Sebenernya aku kerja juga karena pengen pantesin diri buat ngelamar kamu, Ci. Aku mau buktiin ke keluarga kamu kalo aku bisa bertanggung jawab sama hidup kamu dan keluarga kita. Mungkin udah saatnya aku pensiun jadi biji nakal!" kekeh Gober mencairkan suasana.
Cima sempat menatapnya tidak percaya, Gober sedikit ciut memikirkan jika wanita itu akan menolaknya mentah-mentah dan memintanya berhenti mendekati dia lagi.
"Mas serius ngomong begini?" tanya Cima gugup.
Sekalipun akan ditolak oleh Cima sekarang, Gober tidak peduli. Baginya memperjuangkan cintanya akan sama berharganya saat dia mendapatkan hati dan cinta Cima.
"Apa-apaan kamu pegang-pegang tangan anak, Uncle?!" Richard baru saja datang, menepis tangan Gober yang menggenggam tangan anak perempuannya dengan mesra.
Pria yang tidak lagi muda itu seketika berang, menarik tangan Gober dengan kasar.
"U-uncle?" kaget Gober beranjak dari duduknya.
"Enak banget, yah kamu pegang-pegang anak Uncle!" sentak Richard tidak terima.
"Dad, Daddy apa-apaan, sih?!" sela Cima malu menjadi pusat perhatian di sana.
"Diem kamu disini, Daddy lagi nggak ngomong sama kamu!" sahut Richard makin meradang melihat Cima langsung menarik Gober mendekatinya.
"Tapi Daddy udah bikin kita malu ... bisa, kan ngomong baik-baik aja, Dad." pinta Cima setengah berbisik.
"Kenapa sih, Chad?" Amanda datang mendekati tiga orang yang tampak bersitegang di depannya.
"Mommy, tolongin Cima...," rengek wanita itu beralih mendekati Amanda.
"Kamu disini juga, Sayang?"
__ADS_1
"Iya, Mom. Aku disini sama Mas Gober." tunjuk Cima pada pria yang tersenyum salah tingkah menatap Amanda.
"Mas?" sela Richard dengan nada sinis. "Sejak kapan nama kamu berubah jadi Mas, Gober?!" tanyanya menatap tajam anak sahabatnya.
Gober sontak menelan salivanya susah, merasa tatapan Richard tepat mengenai jantungnya. Abis gue, batin Gober gugup.
"Chad!" sentak Amanda pada suaminya. "Kamu ngapain disini, sih? Anak lagi pacaran malah digangguin!"
"Apa, siapa yang gangguin, sih Beby...," sahut Richard tidak mau disalahkan.
"Lagian mereka nggak pacaran, kok. Temen anak laki-laki kamu aja yang nggak tahu diri pegang-pegang anak perempuan aku!" sambung Richard menunjuk-nunjuk wajah Gober yang tertunduk.
"Ish, kamu kayak nggak pernah pacaran aja!" kesal Amanda menepuk tangan Richard.
"Kamu nggak sadar waktu kamu pacaran dulu sama aku gimana, Chad? Udah, deh nggak usah lebay! Ayo pulang, kamu disini cuma bikin anak perempuan aku nggak bakal nikah-nikah karena kelakuan lebay kamu!" Amanda menarik Richard, memaksanya pergi dari sana.
"Tapi, By...."
"Ayo, cepet! Aku nggak kasih jatah kamu tar malem!" ancam Amanda yang sontak membuat Richard pasrah, mengikuti istrinya keluar dari restoran es cream tersebut.
Sebelum menghilang di balik pintu, Richard masih saja sempat memberi ancaman melalui tangannya yang terkepal menunjuk ke arah Gober.
Mati gue abis ini, batin Gober lagi meringis dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Emang Pak Tua Biji nggak bisa berkutik kalo udah diancem begitu sama Manda, yah guys 🤭🤣
__ADS_1