
"Permisi, Pak." Anna masuk ke dalam ruang kerja atasannya yang sontak mendongak, menatap dari atas ke bawah tubuh ramping sekretarisnya.
"Ini laporan yang Bapak minta kemarin." Anna meletakkan satu buah dokumen ke atas meja kerja Jacob dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke arahnya.
Manik mata keabu-abuan Jacob tidak lepas memandang dada sekretarisnya yang sedikit menyembul dari kemeja putih press badan yang dia pakai.
Kancing atas yang sengaja tidak ditutup oleh Anna membuat pikiran Jacob seketika melayang, penasaran dengan benda kenyal yang sempat dia remass waktu lalu.
Entah kenapa siang ini Anna malah terlihat lebih menggairahkann dari pertama kali Jacob menggerayangii tubuhnya.
"Pak!" sentak Anna membuyarkan pikiran liar Jacob.
"Eh besar...!" kaget Jacob tidak sadar dengan ucapannya.
Anna mengernyit, menatap aneh pria yang duduk di depannya. "Bapak kenapa?" tanyanya khawatir.
Jacob berdehem pelan, mengatur duduknya dengan gaya seorang pemimpin penuh kharisma. "Nggak pa-pa, kamu ngapain kesini?"
Kening Anna semakin menggulung mendengar ucapan atasannya. Sepertinya pikiran Jacob sedang kemana-mana, pikirnya.
"Saya membawa laporan yang Bapak minta kemarin, Pak. Itu berkasnya," tunjuk Anna di meja kerja Jacob.
"Oh, iya. Makasih," sahut Jacob singkat mengalihkan pandangannya dari Anna.
Pikiran anehnya telah membuat sesuatu dibawah sana terasa sesak. Jacob menggerutu kesal dalam hati. Disaat seperti ini bijinya masih saja tidak tahu diri, batinnya.
"Masih ada lagi yang Bapak perlu?" tanya Anna mundur, berdiri tegap di depan meja kerja Jacob.
"Nggak ada, kamu bisa pergi!" sahut Jacob tanpa mau melihat ke arah Anna.
"Baik, saya permisi, Pak." pamit Anna sedikit membungkuk memberi hormat sebelum berbalik menuju pintu.
Bunyi pintu yang ditutup dari luar seketika membuat Jacob mendorong kursi kebesarannya ke belakang, mencari posisi enak untuk benda perkasanya yang mengembang dan makin menyiksanya.
Jacob buru-buru menurunkan resleting celana, membuka pengaitnya dan menarik benda panjang miliknya keluar dari sana.
Begitu benda perkasanya keluar, menggantung dari balik celana dalamnyaa, Jacob menghembuskan nafas panjang. Benda sebesar itu bisa-bisanya mengembang diwaktu yang tidak tepat.
Jacob merasa pikirannya benar-benar sudah tidak waras sampai membayangkan dua benda menggemaskan Anna yang membuat dia kesusahan sendiri.
"Dasar biji jablay! Tahu aja kalo sekarang udah nggak pernah ke pake!" kesal Jacob berusaha menenangkan diri untuk membuat benda menggelantungnya kembali ke bentuk semula.
__ADS_1
Beberapa kali menghembuskan nafas panjang dengan pikiran yang kacau, Jacob dibuat kaget dengan pintu yang tiba-tiba di dorong dari luar dengan Anna yang kembali masuk ke dalam.
"Aaa...!" pekik Jacob kaget, refleks berdiri dari kursinya.
Anna yang ikut kaget juga berteriak, dan semakin memekik begitu melihat benda perkasa Jacob menggantung indah dari celana panjangnya yang melorot.
"Aaa...!" pekik Anna menutup mata.
Jacob berlari, pergi menutup pintu ruang kerjanya sebelum pegawainya yang lain ikut masuk ke dalam.
Cepat-cepat pria itu memasukkan benda perkasanya, menarik celana kain panjangnya ke atas dan menguncinya dengan rapat.
"Kamu apa-apaan, sih! Masuk nggak ketuk-ketuk pintu dulu!" sentak Jacob sudah berdiri di depan Anna yang masih menutup mata.
"Ma-maaf, Pak. Tadi saya bergegas masuk karena salah memberikan laporan buat Bapak. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu berkualitas Bapak bersama...." Anna menutup bibirnya dengan tangan yang lain, merutuki mulutnya yang hampir berbicara tidak sopan pada atasannya.
"Sa-saya tidak lihat apa-apa tadi, Pak. Saya permisi dulu, Pak." Anna mundur masih menutup matanya tidak mau melihat Jacob.
Wajahnya sudah memerah dengan pikiran masih membayangkan benda kebanggan Jacob yang terpampang nyata di depan matanya tadi. Salahnya juga kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan melihat hal yang seketika menodai imannya sebagai wanita.
Anna yang berjalan mundur tanpa melihat ke mana dia melangkah, tidak sengaja terantuk meja ruangan Jacob hingga membuat tubuhnya oleng ke depan.
Jacob yang juga tengah menahan malu itu dengan cepat menahan tubuh Anna dan tidak menyadari dua tangan kekarnya sedang menahan tubuh sekretarisnya di bagian dada.
Plakkk....
"Aduh...," ringis Jacob merasakan pipi kirinya nyeri seketika.
Anna mendorong tubuh Jacob kuat, hingga membuat pria itu jatuh terduduk di lantai.
"Aduh...," ringis Jacob lagi merasakan bokongnyaa yang ikut nyeri.
"Astaga...." Anna menutup mulutnya, tidak menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
"Maaf, Pak." Bergegas wanita itu menarik tangan Jacob, membantunya berdiri.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak sengaja, Pak." ucapnya merasa bersalah.
Jacob berdecak, menepis tangan Anna di lengannya. "Dasar sekretaris nggak ada sopan-sopannya kamu!" kesalnya merasakan nyeri di dua tempat sekaligus.
"Maaf, Pak. Tadi saya hanya refleks saja!" sahut Anna tertunduk.
__ADS_1
"Halah, alesan aja kamu! Mestinya aku nggak nolongin kamu tadi!" Jacob beranjak, berjalan tertatih menuju sofa dalam ruangannya.
"Saya benar tidak sengaja, Pak. Saya hanya refleks melakukannya, saya minta maaf, Pak." Anna ikut berjalan di samping Jacob, duduk di dekat pria itu tanpa sadar.
Tangannya terulur mengusap pipi Jacob, meniupnya seakan hembusan nafasnya bisa mengurangi rasa perih di pipi pria itu.
"Sakit yah, Pak? Maafin Saya, Pak." ucap Anna lagi dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
Jacob diam, menatap wajah cantik Anna dari samping menikmati sapuan lembut jari jemarinya di pipi.
Wanita dengan hidung mancung dan bibir yang tipis diatas dan tebal di bawah menarik jiwa Jacob yang perlahan merapatkan tubuhnya mendekati Anna, menyentuh ceruk leher jenjangnya dan menyambar bibir Anna dengan cepat.
Manik mata coklat tua Anna langsung membola, mematung di tempatnya dengan detak jantung yang menggila di dalam sana. Jacob mencumbunya dengan pelan, halus dan juga sangat lembut.
Entah kenapa bukannya menolak Anna malah perlahan ikut membalas sapuan lembut bibir tipis Jacob, memejamkan matanya menikmati tautan bibir mereka.
Ciuman ini, sekilas pernah dia rasakan sebelumnya. Anna lupa siapa yang pernah mencumbunya dengan sangat lembut namun juga sangat menuntut itu.
Kilasan-kilasan kejadian yang tidak dia ingat sedikit demi sedikit masuk ke dalam ingatannya yang membuat Anna membuka matanya kembali, mendorong dada bidang Jacob lagi memekik tidak percaya.
"Gigoloo?!" tunjuk Anna pada Jacob yang mendengus masih belum puas berciuman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Inget akhirnya si Anna 🤭😆
__ADS_1
Kepoin IG author @adamvanda yuk buat video mereka 😁