
"Capek yah, Ci?"
"Iya, Mas. Kaki aku pegel semua."
"Kalo gitu mandi dulu, gih. Aku udah siapin air anget buat kamu berendam bentar di bathtub."
"Eh, kok repot-repot, sih Mas? Kamu nggak perlu—"
"Nggak pa-pa, Ci...," potong Gober cepat. "Kamu, kan istri aku sekarang. Layanin kamu udah jadi tanggung jawab aku juga. Aku seneng bisa bikin istri aku bahagia," ucapnya yang membuat Cima tersipu.
Hati yang membuncah dengan perasaan berdebar memenuhi Cima. Wanita itu mengangguk malu-malu sembari beranjak dari tepi ranjang.
"Baju gantinya udah aku siapin di dalem, Ci. Pake itu, yah nanti?" Gober tersenyum penuh arti, tidak sabar menunggu wanitanya selesai mandi.
Cima mengangguk lagi, menutup pintu kamar mandi perlahan. Dia sama sekali tidak curiga dengan arti ucapan suaminya. Cima berendam dan mandi seperti biasa hingga pakaian yang dikatakan Gober diambilnya didekat meja wastafel.
"Astaga...." kagetnya membuang nafas kasar.
Sebuah lingerie berwarna merah dengan tali-tali rumit dan berenda diangkat Cima tinggi ke atas. Bagaimana mungkin dia memakai pakaian dinas khas suami istri ini di depan Gober?
Membayangkannya saja sudah membuat Cima malu, apalagi harus memakainya. Apa Gober tidak salah memberinya pakaian seperti ini dimalam pertama mereka sebagai suami istri? Cima terlalu malu jika harus memakai pakaian seksi begini di depan Gober.
"Ci ... udah belum?" Gober mengetuk pintu dari luar, mengagetkan Cima yang masih bertarung dengan batinnya sendiri.
"I-iya, Mas. Bentar lagi," sahut Cima terbata.
"Ok. Jangan lama-lama, Ci. Takutnya kamu masuk angin," ucap Gober lagi dari balik pintu.
Gimana nggak mau masuk angin kalo kamunya ngasih baju kayak gini, Mas?! Cima mendengus sebal dalam hati.
Matanya mencari jubah mandi di sekitarnya namun nihil. Tidak ada satupun jubah mandi di dalam sana yang bisa dia pakai untuk menutupi tubuhya. Entah karena pihak hotel yang tidak menyediakannya atau memang Gober yang dengan sengaja mengambilnya dari kamar mandi.
Ah, sial! Kesal Cima menghentakkan kaki.
Diluar sana Gober tahu wanitanya pasti sedang dilema dengan pakaian yang sengaja dia siapkan untuk Cima. Gober tersenyum geli membayangkan Cima akan keluar dengan pakaian tersebut.
Rasanya sungguh tidak sabar menantikan Cima berjalan berlenggak lenggok mendekatinya dengan tubuh setengah telanjangg. Gober ikut bersiap-siap, memastikan diri bisa melewati malam panjang dan basah bersama Cima.
Lima menit menunggu, sepuluh menit berlalu, Cima tidak juga kunjung keluar dari kamar mandi. Gober mulai gelisah, resah kenapa Cima bisa selama ini di dalam sana.
Dia pun beranjak, mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya sekali lagi. "Cima, udah belum?"
Hening.
Gober mengernyit, kembali mengetuk pintu lebih kuat. "Cima, Honey ... udah belum?" tanyanya terdengar khawatir.
"I-iya, bentar." Cima menyahut dengan gugup.
Sudah cukup lama dia selesai berpakaian. Namun begitu melihat pantulan dirinya di depan cermin yang tampak berbeda, Cima tiba-tiba merasa insecure. Dia takut ekspektasi suaminya tidak akan terpenuhi begitu melihatnya keluar.
Astaga ... Cima benar-benar malu sekarang. Gober tidak berhenti mengetuk pintu diluar sana seperti orang kelaparan.
"Cima, ayo keluar. Ngapain aja, sih di dalem?"
__ADS_1
Menarik nafas panjang dan menguatkan hati, Cima akhirnya membuka pintu perlahan dan sedikit menyembulkan kepala dari balik pintu kamar mandi.
"Kok sembunyi, sih? Ayo keluar." Cima menggeleng.
"Kenapa?"
"Malu...."
"Ngapain malu? Kamu istri aku sekarang. Nggak perlu malu sama suami sendiri. Ayo sini," panggil Gober mengulurkan tangan menyambut Cima.
Ragu-ragu Cima meraih tangan Gober, melangkah pelan dari balik pintu. Tangannya yang lain menutupi sebagian tubuhnya yang bisa tertutupi, malu dipandangi oleh Gober.
"Nggak usah ditutup, Ci. Kamu cantik dan ... sempurna."
Manik mata coklat tua Gober seketika tertumbuk pada tubuh Cima yang tampak indah dan menggairahkan.
Gober memang sudah yakin Cima akan jauh terlihat lebih seksi dan cantik memakai pakaian kesukaannya yang jauh-jauh hari sudah dia pesan langsung dari Eropa.
"Aku malu Mas...," lirih Cima merona merah.
"Kenapa malu? Aku seneng liat kamu begini, Ci. Mungkin aku harus mesen lingerie yang banyak buat baju dinas kamu tiap malem," kekeh Gober berusaha mencairkan suasana.
Cima berdecak, duduk di tepi ranjang mengikuti arahan Gober. Pria itu sengaja mendudukkan Cima di sana karena masih ingin menikmati pemandangan indah memanjakan mata.
"Kamu udah siap belum?" tanya Gober.
"Apanya?"
"Main, Ci. Udah siap belum?" Cima tersipu malu dan mengangguk pelan.
"Tapi ... aku maunya kamu pelan-pelan, Mas. Ini pertama kalinya buat aku," sambung Cima berubah khawatir.
"Iya, iya. Aku bakal ngelakuinnya pelan-pelan, Ci. Tenang aja, kamu nggak bakal ngerasa sakit. Yang ada cuman enak dan pengen nambah...," goda Gober tersenyum geli.
Cima mencebik, patuh begitu Gober memintanya mundur dan berbaring di ranjang.
"Santai aja, Honey. Rileks dan nikmatin aja apa yang aku lakuin." Gober memulai kegiatan malam mereka dengan mengusap kepala Cima dan mencium lembut dahi Cima.
Bibirnya perlahan turun menyentuh bibir tipis Cima, pindah ke leher dan berhenti sejenak di dada menyembul yang hanya tertutupi kain tipis berenda.
Cima merasa tubuhnya menegang merasakan sapuan bibir dan lidah Gober yang bermain mengitari ujung dadanya dengan tangan yang asik meremass dadanya yang lain.
Padat dan kenyal jelas terasa di tangan Gober yang ikut menegang merasakan tubuh wanita yang dia cinta. Perasaan berbeda dengan sentuhan yang berbeda membuat hati Gober terasa penuh, meluapkan rasa cintanya yang dalam untuk Cima ternyata bisa sebahagia ini pikirnya.
Desahann pelan berhasil lolos dari bibir Cima saat Gober menarik ujung dadanya dengan bibir. Tangannya mencengkram seprei dengan tubuh yang melengkung secara refleks.
Gober tersenyum tipis dan mundur, mencari apa yang dia inginkan dibawah sana.
"Mas...." lirih Cima menahan kepala Gober.
"Rileks, Ci. Aku cuman mau nyapa 'dia' aja."
"Ta-tapi—"
__ADS_1
"Nikmatin Honey. Nikmatin dan hayatin aja," potong Gober mengerti dengan keresahan wanitanya.
Gober bersiap menjelajahi celah lembut merah muda Cima yang belum pernah terjamah itu. Tangannya menarik tali tipis yang menutupi celah lembut Cima dan pindah menahan pinggul wanitanya demi memudahkan Gober mendapatkan apa yang dia mau.
Perlahan pria yang tengah penasaran itu membenamkan diri, menyusuri setiap sudut sempit Cima.
"Ah...." Desahann kembali terdengar dari bibir Cima.
Lidah panjang Gober mulai bermain menggerogoti rongga kenikmatannya. Cima merasa tubuhnya melayang seiring permainan Gober yang lihai.
Bunyi kecapan memenuhi kamar hotel mereka dan menjadi bukti bagaimana Gober begitu semangat memuja tubuh inti Cima yang enak dan memabukkan.
Cima merasa tubuhnya akan meledak seiring sesapann Gober yang makin kuat menderanya. Lenguhan panjang dan suara pekikan tertahan keluar seiring rasa panas yang ikut keluar dibawah sana.
"Enak, kan, Ci?" Gober tersenyum puas, mengusap sudut bibirnya.
Nafas yang tersengal dengan dada yang naik turun bisa memberi jawaban bagaimana permainan lidah Gober telah berhasil membuat Cima basah.
Gober menarik turun celananya, merobek sisa kain yang masih menempel ditubuh Cima.
"Giliran aku, Ci." Gober memposisikan diri, menarik keluar benda yang sempat Cima lihat di club waktu lalu menghadap tepat ke celah lembut wanitanya.
Benda tegak dan panjang itu sudah siap menyentuh kedalaman Cima hingga bunyi ketukan di pintu kamar mereka terdengar.
"Siapa, Mas?" sadar Cima dari pikirannya yang melayang.
"Nggak tahu, Ci."
Bunyi ketukan berganti bunyi bel yang menggema terdengar keseluruh penjuru kamar. Gober berdecak, bangkit dari atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku liat dulu bentar, Ci." Gober melangkah cepat, membuka pintu dengan mulut yang bersiap memaki siapa saja yang dengan gilanya mengganggu acara belah durennya malam ini.
"Bang...." Gober tidak jadi meneruskan ucapannya begitu melihat siapa yang berada di depan pintu lengkap dengan kimono yang dia pakai.
"Da-daddy...." kagetnya.
"Udah berapa ronde?"
.
.
.
.
.
.
.
Siapakah dia?
__ADS_1
Yang bener dikasih biji sama Gober 🤭🤣