
"Bor, cari nama Toni yang sejam lagi bakal terbang ke Jepang sekarang. Gue butuh Lo tahan dia di sana selama mungkin!" pinta Jacob dari ujung teleponnya.
Jalanan yang cukup panjang dari Jakarta ke Bandara dengan arus lalu lintas yang mulai padat membuat pria bermanik mata abu itu gundah.
Sepertinya Jacob tidak akan berhasil tiba di Bandara menemui Toni dengan keadaan begini. Mengandalkan asisten sahabatnya, Jacob beruntung bisa meminjam jasa Bora setelah meminta bantuan dari Rama beberapa saat yang lalu.
"Ra."
"Apa, kenapa Lo telpon gue? Udah di Jakarta belum Lo?" Pria berkening tebal bersuara begitu sambungan telepon Jacob diangkat olehnya.
"Udah, udah. Gue mau minta tolong sama Lo, Ra."
Diujung sana Rama mengernyit. "Minta tolong apaan? Lo nelpon gue cuman buat minta tolong, doang?!" ucapnya tidak terima.
"Iya. Gue cuman mau minjem asisten Lo aja bentar. Ada yang pengen gue suruh sama dia," sahut Jacob sembari mengemudikan mobil.
Rama terdengar menyahut dengan rentetan pertanyaan kenapa dan mau apa. Jacob tidak sempat menjawab semua pertanyaan sahabatnya karena merasa waktu yang dia butuhkan tidaklah lama.
Alhasil Rama yang masih mencak-mencak padanya diujung sana langsung diakhiri Jacob dengan mematikan panggilan telepon mereka.
Urusan dengan Rama nanti saja pikirnya. Hidup dan matinya bersama Anna lebih penting saat ini.
Tiba di parkiran Bandara dan memarkirkan mobilnya, Jacob berlari masuk mencari seseorang yang katanya sudah bersama dengan pria bernama Toni.
Mulai mencari dan melihat kesekelilingnya di mana tempat yang dikatakan Bora, Jacob mendengar seseorang memanggil namanya.
"Pak Jacob...!" panggil Bora dari ujung ruang tunggu sembari melambaikan tangan.
Jacob berbalik menatap ke arah suara yang datang. Senyum lega tergambar jelas diwajahnya. Jacob segera melangkah, mendekat menuju ruang tunggu.
"Orangnya mana, Bor?" tanya Jacob begitu tiba disamping asisten sahabatnya.
"Itu, Pak." tunjuk Bora pada seorang pria yang memakai kemeja bergaris biru duduk tidak jauh dari mereka berdiri.
"Tapi maaf, Pak. Aku ngomong Pak Jacob orang suruhannya Pak Mike. Dia nggak mau ikut aku sebelum aku ngomong begitu tadi," sambung Bora tidak enak.
"Nggak pa-pa. Yang penting Lo masih bisa nahan dia di sini. Makasih yah, Bor." Jacob menepuk pundak pria berkacamata itu dan berjalan mendekati Toni.
Pria yang ditunjuk Bora sedang duduk menghadap ke arah jendela ruang tunggu sembari memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Jacob berdehem pelan sebelum tersenyum menyapa.
"Halo Pak Toni," sapanya begitu berdiri di depan pria bernama Toni.
Pria yang terlihat hampir seumuran Jacob mendongak, tersenyum sembari ikut berdiri. "Halo Pak ...."
"Jacob. Panggil aku Jacob, Pak Toni." Jacob mengulurkan tangan, menyalami pria yang katanya tahu tentang masa lalu calon istrinya.
Toni menyambut salaman tangan Jacob. "Iya, Pak Jacob," ucapnya hangat.
"Maaf membuat perjalanan Pak Toni terganggu. Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu. Kita masih bisa bicara selama lima belas menit," sahut Toni melirik jam di pergelangan tangannya lagi.
Jacob mengangguk dan mengajak Toni duduk kembali. Bora meninggalkan keduanya setelah yakin tugasnya sudah selesai.
"Jadi begini Pak Toni, aku ingin bertanya mengenai Anna." Jacob membuka suara.
"Anna?"
"Iya, Pak. Aku ingin tahu saja tentang masa lalunya."
Toni mengernyit, menatap penuh selidik pria di depannya. Kenapa tiba-tiba orang suruhan Pak Mike bertanya tentang Anna, apa pria ini benar adalah suruhan beliau? Gumam Toni curiga.
"Apa? Calon istri?"
"Iya, Pak Toni. Aku adalah anak Pak Mike sekaligus atasan Anna di kantor."
"Apa?!" kaget Toni lagi membola tidak percaya.
"Bagaimana kamu—"
"Iya, begitulah Pak Toni. Kami memang akan segera menikah," potong Jacob terkekeh pelan.
Toni berkedip berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar. Sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya anak pria yang dia mintai tolong untuk menjaga Anna malah akan segera menikah dengannya. Toni benar-benar tidak menyangka hal ini.
"Aku jatuh cinta padanya. Kami sempat bertemu di club sebelum akhirnya kembali bertemu saat dia menjadi sekretarisku di Jerman." Jacob melanjutkan ucapannya, mulai menceritakan awal mula hubungannya dengan Anna.
"Aku memang yang memaksa Anna menikah denganku karena yakin dia wanita yang tepat untukku. Tapi terlalu memaksa membuat aku lupa tentang satu hal penting yang sama sekali tidak aku tahu darinya, yaitu tentang masa lalu Anna. Dan kemarin saat kami baru tiba di Indonesia, kami tidak sengaja bertemu dengan pria bernama Josh."
__ADS_1
Mendengar nama Josh disebut, Toni tersentak. "Anna ada di Indonesia?"
"Iya."
"Kenapa, kenapa kamu bawa dia pulang kesini? Aku susah payah hilangin Anna biar nggak bisa ditemuin sama Josh, Pak Jacob. Kamu nggak tahu gimana gilanya pria itu kalo tahu Anna sudah ada di sini, Pak...!" sahut Toni frustasi.
Tidak ada lagi bahasa sopan dan resmi seperti tadi. Toni mendadak cemas dibuatnya.
"Emangnya dia kenapa, Pak Toni? Siapa pria itu sebenernya?" tanya Jacob makin penasaran dengan sosok Josh.
Toni terlihat membuang nafas kasar. Duduk menyandarkan tubuhnya lemah. "Dia itu mantannya Anna. Mereka memang pacaran lama. Tapi sikap Josh nggak baik, dia sering mukulin Anna dengan alesan yang menurut aku nggak masuk akal."
Kali ini giliran Jacob yang terkejut. "Mukulin Anna?"
"Iya, Pak Jacob. Anna pernah sekali dibawa ke rumah sakit karena geger otak ringan. Pas aku tanya kenapa, Anna bilang Josh sengaja mukulin kepalanya ke tembok karena cemburu liat dia ngobrol sama temen cowok satu kelasnya di kampus." Wajah Toni menyendu mengingat kejadian memilukan yang menimpa Anna waktu itu.
"Dan masih banyak lagi kekerasan verbal dan fisik yang diterima Anna selama mereka pacaran. Aku selalu berusaha nolongin Anna tanpa sepengetahuan Josh. Tapi karena dia punya banyak mata-mata yang selalu ngawasin Anna di mana aja, Josh bisa dengan mudah tahu beberapa bantuan yang aku kasih ke Anna."
"Tunggu, jadi cowok nama Josh ini cuman cowok bancii yang suka mukulin cewek?!" berang Jacob mendengarkan cerita Toni.
"Iya, Pak Jacob. Selain suka mukul, Josh ini terkenal sombong dan arogan juga sama orang lain. Nggak ada yang lolos kalo berurusan sama dia. Aku juga sebenernya ke Jepang hari ini karena mau hindarin dia. Josh udah mulai curiga aku yang bawa Anna sampe ngilang nggak bisa ditemuin sama dia," terang Toni panjang lebar.
Mengingat bagaimana perjuangannya meyakinkan Anna agar bisa pergi dari sisi Josh dan meminta bantuan dari Mike, Toni yakin Josh tidak akan bisa menemukan Anna jika wanita itu pergi jauh dari Negara ini.
Kekuasaan Josh pasti tidak akan ada apa-apanya jika Anna berada di luar negeri. Dan itu terbukti dari bagaimana sampai saat ini Josh tidak kunjung menemukan Anna setelah setengah tahun terlewati.
"Saran aku, Pak Jacob harus pastiin jaga Anna dengan baik di sini. Josh itu licik, dia bisa lakuin aja demi bisa bikin Anna balik lagi sama dia, terutama ngancem Anna menggunakan ibunya."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Josh pengen di Joshin pake blender 😤