Touch My Body

Touch My Body
Cinta Karena Terbiasa


__ADS_3

"Kita mau kemana, Ra? Ini bukan jalan pulang, kan?" Rama tersenyum, duduk di belakang kursi kemudi dengan santai.


Pria itu sama sekali tidak memberitahukan kemana mereka akan pergi di sore menjelang malam ini. Rama sengaja ingin memberikan kejutan untuk Mulan dengan membawanya langsung ke dermaga tempat kapal pesiar yang dia sewa berada.


"Ra, Lo denger nggak, sih?!" sentak Mulan mulai kesal diacuhkan pria disampingnya.


"Iya gue denger."


"Ck, jadi kita mau kemana lagi ini? Gue udah capek, Ra. Gue mau kita langsung pulang aja," pinta Mulan memelas.


"Iya, iya. Kita emang mau pulang kok ini, duduk diem aja disitu, ok?" Mulan berdecak, melipat tangannya di depan dada.


Matanya memang sudah sangat berat sekarang, wanita itu ingin cepat sampai kerumah dan tidur di ranjang empuknya. Mulan merasa dia tidak akan bisa menahan rasa kantuknya lebih lama lagi.


"Udah nyampe, Lan." Rama tidak memperhatikan istrinya yang tertidur di kursi sampingnya.


Pria itu membuka seat belt, menatap keluar mobil di mana sebuah kapal pesiar dengan lampu-lampu indah yang meneranginya sedang bersandar di dekat dermaga.


"Lan," panggil Rama lagi belum memperhatikan Mulan.


"Lan...!" Rama beralih, menatap Mulan yang sedang asik menutup mata dengan dengkuran halus terdengar dari bibirnya.


"Tidur?" Rama menggeleng, tersenyum geli melihat istrinya.


"Pantesan dari tadi maksain mau pulang, ternyata udah ngantuk toh...." Rama mendekat, mengusap pipi Mulan lembut, mengatur anak rambutnya yang menutupi wajah cantik Mulan.


"Cantik...," gumam pria itu berbinar.


"Makasih masih setia disamping gue sampe ini yah, Lan? I love you...." bisik Rama tersenyum bahagia.


Entah kenapa tiga kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa permisi, Rama merasa kehadiran Mulan memang telah banyak merubah hari-harinya.


Dadanya selalu berdebar dengan rasa yang berbeda di dalam sana, mungkin ini yang dinamakan cinta karena terbiasa pikir Rama.


Bunyi ketukan di kaca pintu samping Rama membuyarkan pikirannya tentang Mulan. Rama berbalik, melihat asistennya tengah tersenyum menunggu dia turun dari mobil.


"Apa, sih? Gangguin orang aja Lo!" kesal Rama begitu dia keluar dari mobil.

__ADS_1


Bora mengernyit, melihat tingkah bosnya yang tadi begitu bahagia sekarang malah berubah marah-marah tidak jelas padanya. Tidak tahu apa lagi yang terjadi pada pasangan suami istri itu sampai dia pun harus ikut mendapatkan getahnya.


"Ma-maaf, Pak. Aku cuma mau bilang kalo semuanya udah siap. Pak Rama sama Bu Mulan bisa langsung naik ke atas." tunjuk Bora ke arah kapal pesiar.


"Iya, tau! Bawel amat jadi biji!" Rama menutup pintunya dengan hati-hati, berjalan memutari mobil dengan cepat.


Bora hanya bisa membuang nafas panjang bersabar dengan tingkah Rama yang sering berubah-ubah layaknya bunglon.


"Lo jangan kemana-mana dulu, Bor. Anterin gue dulu ke kamar utama di kapal!" sambung Rama sebelum membuka pintu di mana Mulan duduk.


Bora mengangguk sambil memperhatikan apa yang akan dilakukan Rama sekarang. Kepalanya terus bergerak ke atas dan ke bawah saat menyadari kalau nyonya bosnya sedang tertidur di kursi depan.


Oh, mungkin karena tadi dia berisik sampai Rama marah-marah padanya, pikir Bora. Sepertinya Rama tidak mau suara bisingnya mengganggu Mulan yang sedang tidur. Romantis sekali atasannya ini, gumam pria itu tersenyum geli dalam hati.


Rama mengangkat tubuh Mulan yang menurutnya sangat ringan itu ke dalam gendongannya. Sempat bergerak karena merasa terganggu dengan guncangan kecil yang ditimbulkan Rama, Mulan kembali terlelap tidur dengan nyaman bersandar di dada Rama yang bidang.


Nih cewek makan apa, sih sampe badannya bisa ringan banget gini? Sepertinya setelah ini dia harus meminta Mulan lebih banyak makan lagi agar tubuhnya bisa sedikit lebih berat.


Rama tersenyum, membawa Mulan ke atas kapal mengikuti Bora dari belakang.


"Lewat sini, Pak...," tunjuk Bora setengah berbisik. Dia tidak mau kembali dimarahi lagi oleh atasannya, jika sedikit saja dia bersuara dengan kuat.


Bak sedang syuting film, Rama merasa mereka seperti sepasang kekasih yang saling mencintai dan menyayangi. Dalam hatinya dia semakin tidak sabar menghabiskan waktu selama beberapa hari ke depan bersama Mulan.


"Di mana kamarnya?" tanya Rama berbisik pada asistennya.


"Di lantai dua, Pak. Kamarnya punya view yang paling bagus buat Pak Rama sama Bu Mulan. Dari sana Bapak sama Ibu bisa nikmatin suasana laut yang biru nanti...," terang Bora mulai menjelaskan apa saja yang ada di dalam kapal ini.


"Udah jelasinnya nanti-nanti aja, suara cempreng Lo bisa bikin bini gue bangun!" sahut Rama tidak mau Mulan terbangun karena mendengar suara berisik dari bibir asistennya.


Bora seketika bungkam, berjalan dengan langkah lebar menuju kamar di mana pasangan suami istri itu akan beristirahat.


"Buka pintunya!" perintah Rama berbisik lagi, begitu mereka tiba di depan kamar.


Bora bergegas memutar handel pintu, membukanya lebar dan mundur memberi kesempatan untuk atasannya masuk.


"Silahkan, Pak...," ucapnya sopan.

__ADS_1


"Lo tunggu gue di bawah, jangan kemana-mana dulu karena abis ini Lo masih punya tugas dari gue!"


Alamak, tugas apa lagi, sih? Nggak abis-abis kayaknya kerjaan aku, batin Bora menghembuskan nafas kasar. Dia pun berbalik meninggalkan Rama yang masih diam di depan pintu.


"Kita sampe dikamar pengantin kita, Lan...." bisik Rama sebelum membawa Mulan masuk ke dalam.


Baru saja akan melewati pintu yang tidak terlalu besar itu, Rama tidak memperhatikan kepala Mulan yang mengenai tepian pintu hingga bunyi kepala membentur tepian terdengar kuat memenuhi ruangan kamar mereka.


Bukkkk....


"Aduh...." Mulan meringis seketika terbangun dari tidurnya.


"Eh, sorry, sorry, Lan. Gue nggak sengaja," sahut Rama merasa bersalah.


"Lo apa-apaan, sih?! Lo mau bikin gue hilang ingatan, yah?!" kesal Mulan mengusap kepala samping kirinya yang berdenyut.


"Ya ampun, Lan. Nggak mungkinlah gue begitu, gue nggak sengaja, sumpah!"


"Ck, dasar biji ngeselin!" pekik Mulan menarik rambut Rama kuat.


"Aduh ... sakit, Lan!"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gagal, deh momen romantisnya 😆


__ADS_2