Touch My Body

Touch My Body
Nempel


__ADS_3

"Masak apa, Lan?" Rama yang baru masuk ke dapur mencium aroma masakan enak dari sana.


Pria itu mendekati Mulan, melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Mulan dengan kepalanya dia sandarkan ke bahu istrinya.


"Ish, kagetin aja Lo, Ra...." sahut Mulan terperanjat.


Rama hanya tersenyum, semakin merapatkan tubuhnya dengan Mulan.


"Gue lagi masak semur ayam," sambung wanita berambut panjang itu sedikit risih.


Dipeluk dari belakang seperti ini disaat dia sedang sibuk memasak sungguh merupakan hal yang baru untuknya. Adegan begini biasanya hanya dia tonton dalam film romantis yang akhir-akhir ini sering sekali dia putar di televisi.


"Kok Lo tahu, sih makanan kesukaan gue? Lo tanya sama mommy, yah?"


Mulan menggeleng. "Enggak, emang Lo suka ayam semur juga?"


"Iya, suka banget malah. Mommy sering masakin ini kalo gue pulang ke rumah...," sahut Rama jujur.


"Kok bisa sama, yah?" ucap Mulan lebih kepada gumamannya sendiri.


"Itu tandanya kita jodoh, Lan." sahut Rama bangga.


"Ish, jodoh bukan diliat dari kesukaan makanan yang sama kali, Ra. Mama gue juga suka kok sama semur ayam, masa Lo mau bilang Lo jodoh juga sama mama gue?" kekeh Mulan menggoda suaminya.


"Ya itu berarti artinya lain, Lan." sahut Rama mendengus.


"Lain gimana maksud Lo?"


"Itu tandanya dari mama, jodoh gue turun ke elo. Mungkin kalo gue lahir lebih cepet, gue bisa jadi jodohnya sama mama bukan sama elo!" ucap Rama tertawa geli.


Mulan hanya bisa menggeleng, melepaskan rangkulan Rama di pinggangnya. "Terserah Lo ajalah. Sana duduk, jangan nempel-nempel kayak baby koala sama gue!" ucapnya sedikit mendorong tubuh Rama.


"Ish, kan emang gue baby-nya elo sekarang." canda Richard kembali menempeli tubuh istrinya.


"Ih, udah sana, Ra ... kapan gue kelar masaknya kalo Lo masih nempel kayak gini sama gue?" risih Mulan menepis tangan Rama.


"Yaudah gue nggak bakal nempel lagi. Tapi cium gue dulu, Lo belum cium gue dari tadi pagi," pinta Rama mengambil kesempatan.


"Apaan, sih? Sejak kapan gue punya kewajiban cium elo sekarang?" sahut Mulan tidak terima. Rama semakin bertingkah semaunya, pikirnya.


"Ya ampun, Lan. Lo lupa sama perjanjian kita tadi malam?" Rama membalikkan tubuh Mulan menghadap padanya, menarik pinggang istrinya mendekat.


"Perjanjian apaan, sih maksud Lo? Lepasin gue!" berontak Mulan tidak nyaman.


Dipeluk sedekat ini dengan hembusan nafas yang sangat terasa di pipinya membuat Mulan tidak tenang. Mulan bisa merasakan tubuhnya menegang seketika saat Rama yang dengan sengaja malah menggosok-gosokkann hidungnya ke hidung Mulan.


"Perjanjian kalo kita bakal jadi suami istri beneran, Lan. Bakal belajar buka hati buat masing-masing pasangan. Lo lupa?" ucap Rama setengah berbisik.


Wangi aroma mint langsung menyeruak keluar dari bibir merah tebalnya. Mulan seakan dihipnotis dengan rasa mint yang sempat dia sesapp ketika mereka asik berciuman tadi malam.

__ADS_1


"Ta-tapi, kan nggak gini juga caranya Rama...," sahut Mulan gugup.


"Trus Lo maunya gimana? Kita langsung di ranjang gitu?"


"Bu-bukan."


"Trus apa?" Mulan makin gugup tidak tahu harus berkata apa.


Rama malah maju mendekatkan bibirnya yang basah dengan bibir tipis Mulan, mengecup itu dengan lembut, memberikan gelanyar seperti tersetrum ditubuh Mulan. Wanita itu refleks menutup mata, menunggu apa yang akan dilakukan Rama lagi setelahnya.


"Kita terusin ini nanti, yah? Masakan Lo bisa gosong kalo kita masih mau lanjutin lagi...," bisik Rama tersenyum puas.


"A-apa?" Mulan seketika salah tingkah dengan wajah memerah. Rama sepertinya sengaja mengerjainya, pikir Mulan.


"Lo lanjutin dulu masakannya. Kita bisa cium-ciuman lagi nanti kalo Lo mau." Rama tertawa, melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Mulan dan berjalan santai menuju meja makan.


Mengerjai Mulan pagi ini bisa membangkitkan mood-nya lebih bahagia, gumam Rama dalam hati.


Mulan mendengus dengan hati yang kesal. Rama memang sedang mencari masalah dengannya, liat aja nanti gimana gue kerjain Lo balik! Gerutu Mulan kembali meneruskan acara masak memasaknya.


"Pagi, Pak." Suara seorang pria mengalihkan perhatian pasangan suami istri itu.


Rama mengangguk, membalas sapaan asistennya yang tampak berantakan pagi ini.


"Aku sudah menyelesaikan tugas yang Bapak minta," sambung Bora sembari mengucek mata lelah.


"Mana buktinya?" tanya Rama acuh tak acuh.


Rama hanya meliriknya sekilas, berganti melirik jam tangannya. "Lo telat dua menit!" ucapnya datar.


Bora terlihat membuang nafas panjang dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Bukan apa-apa, semalaman dia harus pulang pergi Milan, Roma dengan waktu yang dihabiskan masing-masing selama enam jam lamanya.


Membawa mobil sendirian sampai menahan kantuk agar tidak terlambat, nyatanya Bora harus menerima dirinya yang terlambat dua menit saja.


Bora yakin atasan yang tengah duduk santai di depannya ini pasti akan memberikan hukuman lainnya lagi untuk mengerjainya.


"Apa itu, Bor?" tanya Mulan mendekati keduanya dengan tangan memegang tempat berisi semur ayam yang telah selesai dia masak.


"Eh, udah selesai?" timpal Rama kegirangan, menatap berbinar semur ayam yang diletakkan Mulan di atas meja.


"Piringnya mana, Lan? Gue udah laper, nih?" pinta Rama tidak sabar.


"Iya, bentar." Mulan berbalik, pergi mengambil piring dan alat makan mereka yang lain.


"Duduk, Bor. Kamu pasti belum makan, kan? Ayo sarapan bareng kita," ajak Mulan meletakkan piring di depan Rama.


"Nggak usah, dia sebelum kesini pasti selalu sarapan dulu!" sela Rama lagi bersuara.


Pria itu tidak mau Bora ikut makan makanan yang pertama kalinya dimasakkan Mulan untuknya. Pantang bagi Rama membagi makanan hasil jerih payah istrinya pada Bora.

__ADS_1


"Bener, Bor kamu udah sarapan?" tanya Mulan memastikan, menatap pria yang tampak tidak tidur berhari-hari itu.


"I-Iya, Bu. Tadi aku sudah sarapan sebelum kesini," jawab Bora tidak bisa mengelak.


Rama sedang menatapnya dengan tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup. Lebih baik dia mencari aman dengan menahan lapar, dari pada menghadapi kemarahan Rama yang kadang suka seenaknya padanya.


"Yaudah, kalo gitu aku bungkusin kamu makanan buat nanti siang aja." ucap Mulan mengambil tempat di samping kanan Rama.


"Buat apa? Ngapain Lo mau bungkusin makanan segala buat Bora?!" sela Rama tidak suka.


"Ya nggak pa-pa, Ra. Gue cuma—"


"Nggak usah! Gue nggak suka Lo bungkusin dia makanan!" potong Rama cepat. "Pokoknya nggak ada yang Lo bungkus-bungkusin buat dia!" sambung Rama posesif.


Bora seketika mencebik dalam hati melihat kecemburuan Rama yang tidak pada tempatnya. Jika bukan anak dari atasannya, mungkin pria gila itu sudah lama dia lempar dengan sepatunya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mode Bucin on the way 🤭😆


Btw


Untuk yang nggak bisa bersabar menanti, up


author nggak maksain kalian harus tetap disini, yah...


Sebagai pembaca kalian punya hak pergi kemana aja kalian mau, tapi tolong jangan maksain author harus up banyak atau apalah itu...


Author banyak kerjaan juga di dunia nyata, jadi mohon agar pembaca mengerti dan jangan sampai meninggalkan coment yang nyelekit.


Author juga bakal selalu usahain double up, tapi kalo nggak bisa berarti author bener-bener sibuk.


Mari kita sama-sama menikmati novel ini yang masih on going sampe tamat.


Pembaca senang, author pun bahagia...

__ADS_1


Terima kasih,


sekian curhat dari author 😩


__ADS_2