
"Ci ... nggak sabar, deh."
"Nggak sabar apa?"
"Nggak sabar pengen cepet-cepet nikah sama kamu," kekeh Gober malu-malu meong.
"Emang kalo udah nikah kenapa?" tanya Cima sengaja memancing pria berwajah manis itu.
"Yah, pasti lebih enak lah, Ci. Ketemu sama kamu tiap hari, meluk kamu tiap mau bobo, cium kamu sebelum bangun dari ranjang, dimasakin kamu, mandi bareng, bersih-bersih rumah bareng, sama ... momongin anak bareng. Serulah pasti itu. Hidup pasti bakal lebih berwarna kalo kita ngerjain semuanya bareng," sahut Gober dengan segudang impiannya dihati.
Cima tersenyum dengan hati membuncah. Bahkan hal seperti ini saja tidak pernah terpikirkan olehnya sama sekali. Gober benar-benar hebat sudah memikirkannya jauh sampai ke sana.
"Kok diem?" Gober menepuk punggung tangan Cima.
Wanitanya tersentak, bangun dari lamunan pikiran Cima sendiri. "Enggak, aku cuman lagi ngebayangin aja apa yang Mas bilang tadi. Kayaknya, sih seru dan nyenengin gitu dengernya."
"Nah benerkan? Aku juga ngebayanginnya, Ci. Pasti setiap hari kita bakal main terus dirumah." Tawa geli keluar dari bibir Gober yang ingin menggoda Cima.
Wanita itu berdecak, malu dengan wajah memerah. "Dasar!" ucapnya mencubit tangan kekar Gober.
"Aku udah bayangin nanti kita mau main di mana aja dirumah. Pasti seru kalo kita nyobain semua tempat di sana, Ci." ucap Gober lagi tidak peduli dengan calon istrinya yang makin malu mendengar perkataannya.
"Ish, nggak ada yang namanya main-main begitu. Mas lupa abis nikah daddy minta kita tinggal di rumah dulu tiga bulan?"
"Eh, emang jadi?" tanya Gober lupa.
"Jadilah Mas ... Mas tahu, kan gimana daddy yang nggak suka ditentang? Mending jangan macem-macem, deh kalo nggak mau dipecat jadi menantunya daddy...," jawab Cima setengah mengancam.
Astaga ... Gober tidak ingat sama sekali tentang itu. Gimana dia bisa bebas bermain bersama Cima jika tiga bulan masa-masa indah rumah tangganya harus mereka habiskan dirumah mertua?
Gober menghembuskan nafas panjang yakin kalau selama tiga bulan itu Richard pasti akan terus bergentayangan bolak balik ke kamar pengantin mereka.
Ah ... dilema punya mertua ayah sahabat sendiri yah, begini. Gober merasa hari-harinya dirumah orang tua istrinya akan dipenuhi drama diganggu pas lagi enak-enaknya.
"Nggak usah cemberut gitu, Mas. Nanti, kan kita masih bisa nyewa hotel satu dua hari kalo Mas mau...," sambung Cima mengerti dengan keterdiaman calon suaminya.
"Emang uncle Richard izinin?"
"Izinin lah pasti. Nanti biar aku yang ngomong sama daddy, Mas tenang aja."
Senyum langsung tersungging bibir Gober begitu mendengar ucapan Cima. Calon istrinya memang paling tahu dan mengerti kebutuhannya, batin Gober.
__ADS_1
"Makasih Ci-ci, Ma-ma sayang ... makin nggak sabar, deh kawin sama kamu," gemas Gober menarik wanitanya duduk makin rapat dengannya.
Duduk satu bangku di taman dekat kolam rumah Cima membuat keduanya bisa saling bersentuhan walau hanya sebatas tangan dengan tangan.
Sedekat ini saja sudah membuat hati pria itu bahagia, apalagi jika sampai mereka berpelukan di atas ranjang nanti. Gober makin tidak sabar menunggu waktu berharga mereka yang tinggal menunggu beberapa hari lagi ke depan.
"Aku cium, yah Cima?"
"Eh, jangan Mas," tahan Cima sebelum Gober sempat menyentuh pipinya.
"Jangan, nanti kalo daddy liat gimana?" sambung Cima khawatir.
Gober celingak-celinguk, menatap ke sekitar mereka memperhatikan apa ada seseorang di sana atau tidak.
"Nggak ada siapa-siapa di sini, Ci. Uncle Richard pasti lagi di kamar sama mommy Amanda. Bentar aja aku ciumnya. Boleh, yah?" pinta Gober memelas.
"Tapi kalo daddy pergoki lagi gimana?"
"Enggak. Lagian kita, kan udah mau nikah. Masa cium pipi aja nggak boleh. Bentar doang, kok. Cuman kecup aja nggak lama-lama." Cima ikut memandang kesekitar mereka sebelum akhirnya mengangguk memberi izin.
Gober merasa seperti mendapat undian berhadiah begitu mendapat lampu hijau dari Cima. Tidak pernah mencium lagi setelah di mobilnya waktu itu, Gober ingin kembali merasakan pipi kenyal Cima sekali lagi.
Dan kalau bisa, Gober juga ingin mencium bibir tipis Cima yang selalu saja tampak menggoda dimatanya.
"Gober...!" pekiknya emosi.
Gober tersentak mundur dengan cepat dan refleks berdiri. Gawat!
Pria dengan rambut yang mulai beruban dan rahang yang kini sudah dipenuhi bulu-bulu halus berjalan kesal mendekati kursi taman dekat kolam rumahnya.
Gober merasa dunianya akan runtuh sebentar lagi. Bagaimana ini? Kenapa pria tua ini hobi sekali muncul disaat dia baru saja ingin bermesraan dengan Cima? Langit sungguh kejam padanya, gumam Gober.
"Udah berani yah, kamu sekarang cium-cium anak Uncle?!" sentak Richard begitu tiba di dekat Gober dan Cima.
"Daddy apa-apaan sih, Dad?" ucap Cima malu.
"Diem! Daddy nggak ngomong sama kamu!"
Gober tertunduk, tidak berani menatap wajah penuh amarah Richard. Pria itu terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Heh, kamu biji! Jangan mentang-mentang udah mau nikah kamu udah berani, yah pegang-pegang sama cium-cium anak Uncle!" tunjuk Richard ke arah Gober.
__ADS_1
"Status kalian masih pacaran, belum suami istri! Kamu belum punya hak kontak-kontakkan fisik sama Cima!" ucapnya tidak suka.
Terbata-bata Gober menyahut. "Ma-maaf Uncle. Tadi aku kelepasan aja."
"Halah, alesan aja kamu! Kamu pikir Uncle bakal percaya sama omongan biji kayak kamu?! Bilang aja kalo demen!" sentak Richard lagi masih terus menunjuk-nunjuk wajah Gober yang menunduk.
"Chad!" Amanda ikut keluar ke taman dekat kolam setelah mendengar suara ribut suaminya.
Penyelamat datang, batin Gober.
"Kenapa, sih teriak-teriak begitu? Udah kayak orang budek aja kamu."
"Gimana nggak teriak-teriak, By. Ini anak biji Donal udah mulai macem-macem sama anak perempuan aku. Enak banget dia main-main cium Cima! Emang dia siapa seenaknya mau cium Cima?!" sahut Richard mengadu.
Amanda berdecak, mulai kesal menghadapi sikap suaminya yang dianggapnya sangat kekanakan setiap kali mengenai anak perempuan mereka.
"Kamu lupa dia calon suami Cima? Dia ini calon menantu kamu juga, Chad! Udah nggak usah lebay! Sini masuk, kamu masih utang satu ronde lagi sama aku!"
"Tapi, By—"
"Masuk, nggak?!"
"Iya, iya ... aku masuk," sahut Richard mengalah.
Gober bersorak dalam hati melihat pria yang masih saja menatapnya dengan tajam masuk ke dalam rumah meninggalkan dia dan Cima.
Pawang biji emang paling hebat! Sorak Gober dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Untung ada si pawang yah, Ber 🤭🤣