
"Kamu juga nggak mau ngasih tahu aku ke mana kalian pergi tadi, Jac?" Anna menatap sayu pria yang sedang duduk di sampingnya.
Tangan kekar Jacob menggenggam tangan Anna, mengusapnya pelan. Jacob tahu Anna pasti akan terus bertanya tentang ke mana pastinya dia dan sahabat-sahabatnya pergi tadi pagi.
Meski ingin menyembunyikan yang sebenarnya, Anna pasti tidak akan percaya begitu saja dengan alasannya. Mungkin dia memang harus jujur pada Anna.
"Aku bukannya nggak mau ngasih tahu, Beb. Aku cuman takut kamu malah marah dan kesel kalo aku kasih tahu yang sebenernya."
Anna mengernyit. "Marah? Emangnya kamu ketemu cewek tadi?"
"Enggak, Beb. Nggak ada cewek-cewek yang aku temuin sama sahabat-sahabat aku," sahut Jacob cepat.
"Trus, ketemu sama siapa kamu?"
Jacob menghembuskan nafas panjang. "Kami ketemu mantan kamu tadi," jujurnya.
"Mantan aku? Ngapain?" Wajah Anna terlihat tidak senang.
"Nggak ngapa-ngapain, Beb. Aku cuman ngasih pelajaran dikit aja sama dia." Anna diam, menarik tangannya dari genggaman Jacob.
"Kamu nggak suka?" Jacob memperhatikan wajah Anna yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Apa wanitanya masih menyimpan perasaan pada Josh? Gumam Jacob dalam hati.
"Alesannya apa kamu ngasih pelajaran sama dia, Jac?"
Jacob mengernyit bingung. "Alesan? Perlu aku ngasih kamu alesannya, Beb?"
Anna memejamkan mata, bungkam seribu bahasa. Jacob mulai bingung dengan sikap istrinya yang terlihat tidak senang mendengar dia memberi pelajaran pada Josh.
Pikiran tentang Anna yang masih mencintai Josh langsung terbesit dipikirannya. Apa benar wanita yang dia cinta masih belum bisa move on dari pria gila seperti Josh?
"Kamu masih cinta sama mantan kamu?" Jacob akhirnya mengeluarkan uneg-uneg dihatinya. Lebih baik dia bertanya daripada sakit sendiri dengan prasangka buruknya.
Anna sontak membuka mata, menatap tajam suaminya. "Pikiran kamu, Jac! Sinting kali aku masih cinta sama dia!" sentaknya tidak suka.
Bisa-bisanya Jacob berpikir begitu. Hanya wanita bodoh yang masih mau bertahan dan mencintai pria sakit seperti Josh, pikir Anna.
Jacob bisa menghembuskan nafas lega, Anna tidak akan mungkin membohonginya.
"Trus, kenapa kamu nanya begitu sama aku tadi. Aku nggak boleh ngasih dia pelajaran gitu!?"
__ADS_1
Anna menggeleng. "Kamu nggak ngerti, Jac. Josh itu gila. Dia bisa lakuin apa aja buat ngebales kamu. Aku cuman nggak mau kamu—"
"Aku nggak bakal kenapa-napa, Beb!" potong Jacob cepat. "Dia nggak bakal berani. Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Cowok gila itu nggak akan berani lagi gangguin hidup kita abis ini! Aku sama Rama dan Gober nggak mungkin asal bertindak sebelum pastiin semuanya berjalan lancar dan nggak berbalik sama kita bertiga. Kamu tenang aja, ok?" Jacob tersenyum memberi ketenangan dihati Anna.
Dia yakin seratus persen Josh tidak akan pernah berani mengganggu kehidupan mereka setelah lutut kanannya hancur. Lagipula bisa dipastikan oleh Jacob, pria itu tidak akan bisa berjalan lagi setelah ini.
"Kamu yakin dia nggak bakal nuntut ato ngancem-ngancem kita nanti, Jac?"
"Enggak, Beb. Kamu percaya aja sama suami kamu ini. Aku udah pernah bilang aku bakal jagain kamu lebih baik lagi dari sebelumnya, kan? Hari ini aku akan buktiin semuanya sama kamu." Hati Anna mendadak menghangat mendengarnya.
Dilindungi oleh seseorang sungguh tidak pernah dia rasakan lagi semenjak ayahnya meninggal. Anna merasa bahagia dan tenang karena akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya rasa terlindungi dan dilindungi itu bisa kembali dia rasakan.
Anna tidak menyesal memilih pergi dari sisi Josh, kabur dan sengaja menghilang dari hidup pria itu hingga bisa bertemu dengan sosok malaikat tak bersayap seperti Jacob. Rencana Yang Diatas memang tidak bisa ditebak oleh manusia.
"Sekarang kamu cuman perlu bahagia dan cintai aku sedalam yang kamu mau, Beb. Keluarga kecil kita akan terus bahagia sampe nanti. Aku yang akan pastiin itu semua."
**************************
"Yang, please jangan marah-marah lagi. Aku udah jujur sama kamu, Yang...," bujuk Rama pada istrinya.
Mulan terus mendiamkan suaminya hingga mereka tiba dirumah. Bahkan Mulan tidak mengizinkan pria itu masuk ke dalam kamar bersamanya. Alhasil sekarang Rama sedang berdiri di depan pintu, mengetuk-ngetuk sambil terus meminta maaf memanggil-manggil nama Mulan.
"Yang, buka dong pintunya. Kamu tega biarin aku tidur diluar, Yang? Banyak nyamuk di sini, Yang." Tidak terdengar jawaban dari dalam.
Suara pria yang sedang membujuk wanita yang lain juga terdengar tidak jauh dari kamar Rama. Sahabatnya yang lain juga sedang membujuk adik perempuan Rama di depan kamar mereka.
"Ci ... buka, dong pintunya. Masa Mas malem ini tidurnya sama nyamuk, sih? Kasianin Mas, Ci." Gober mengetuk pintu dengan lembut, merengek minta dibukakan pintu.
Dua pria itu sengaja dikunci Mulan dan Cima dari dalam. Mereka pulang tidak semobil dengan pria-pria yang terlanjur membuat keduanya kesal. Malam ini mereka ingin sedikit memberi pelajaran pada Rama dan Gober karena sudah berani membohongi mereka. Salah satunya dengan tidak mengizinkan Rama dan juga Gober masuk ke kamar dan memaksa mereka harus tidur diluar malam ini.
Dari lantai bawah rumah, Richard dan Amanda baru saja pulang setelah kesibukan seharian mereka. Keduanya saling menatap begitu mendengar suara membujuk diikuti rengekan dari lantai atas.
Pasangan suami istri itu lalu ikut naik ke atas, mengecek apa yang sedang terjadi di depan kamar anak-anak mereka.
"Kenapa, Ra, Ber?" Amanda bertanya begitu tiba di dekat anak dan menantunya.
"Mom ... tolongin aku, Mom," pinta Rama setengah merengek.
"Kenapa emangnya, berantem lagi?"
Rama mengangguk lemah. "Iya, Mom. Bantuin aku bujukin Mulan, Mom. Dia nggak izinin aku tidur di dalem malem ini."
__ADS_1
Tawa langsung terdengar dari bibir Richard yang berdiri tidak jauh dari mereka. Menatap anak dan menantunya yang terlihat menyedihkan malah membuat pria paruh baya itu geli sendiri.
Drama-drama begini juga sudah banyak dilewati Richard selama ini. Entah kenapa melihat mereka malah membuatnya membayangkan dirinya yang berada di posisi Rama dan juga Gober.
Richard yakin malam ini akan menjadi malam terberat dalam kehidupan pria-pria yang bisa gila jika tidak memeluk wanita mereka semalaman penuh.
"Ck, Daddy pergi aja kalo cuman mau ketawain kita di sini!" usir Rama kesal dengan tawa ayahnya.
"Nggak usah buang-buang energi, Ra, Ber. Saran Daddy mending kalian terima nasib aja tidur diluar malem ini. Mommy kalian juga nggak bisa bantuin kalian sama sekali. Terima aja udah...." Richard menarik Amanda pergi dari sana tahu bagaimana sulitnya membujuk wanita yang jika sudah marah dan merajuk bisa membutuhkan waktu beribu-ribu lamanya hingga mau luluh.
Amanda hanya bisa menepuk pundak Rama dan Gober, memberi semangat dan kekuatan untuk keduanya melewati malam panjang ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Guys,
bentar lagi Novel ini bakal selesai, yah
Seperti biasa diakhir bab author selalu adain Giveaway ...
Dan kali ini author bakal ambil dari Ranking Mingguan, bakalan ada 3 pemenang yang beruntung.
Penilaian juga akan author mulai Minggu depan selama seminggu penuh, yah ... jadi siapin vote dan hadiah kalian sebanyak mungkin untuk kesempatan menangin Giveaway dari author ...
Terima kasih selalu setia menanti up pecinta biji
__ADS_1
author sayang kalian semua 🥰