
"Jadi kita nggak ada acara lepas-lepas bujang, nih, Ra?"
Rama menggeleng, duduk malas di kolam belakang rumah orangtuanya. Pria bertubuh atletis itu tidak diizinkan keluar oleh Tari.
Wanita tua itu bahkan sengaja tidak pulang ke rumahnya demi menjaga Rama dirumah. Tari tidak mau kejadian ayahnya dulu terjadi lagi pada Rama.
"Trus kita sampe pagi duduk kayak patung begini?" tanya Gober lagi, sahabat Rama.
"Astaga ... baru sekarang pesta lajang cuman duduk diem dirumah sambil minum jeruk peras, doang...." Jacob ikut bersuara, menggoyang-goyangkan gelas berisi air berwarna orange ditangan.
Mereka tidak pernah mengikuti pesta lajang sebelumnya dengan keadaan menyedihkan seperti ini.
Harusnya sekarang mereka berada di dalam club langganan, menikmati musik keras dan minuman memabukkan yang mereka sukai.
"Udah nggak usah berisik! Lo berdua temenin gue aja disini. Gue juga sama kesel kayak kalian, jadi nggak usah protes!" sahut Rama dengan hati yang kalut.
Dia tidak habis pikir kenapa omanya harus melarang dia pergi bersama sahabat-sahabatnya malam ini.
Jacob berdecak, duduk dengan gelisah dikursinya. Tahu begini dia tidak mengiyakan ajakan Rama datang kerumahnya, pikir Jacob.
"Ngomong-ngomong Ade, Lo di mana, Ra?" tanya Gober menatap ke sekitar mereka.
Sejak tiba di sana dia sama sekali tidak melihat kehadiran wanita berwajah manis itu.
"Ngapain Lo nanyain Ade, gue?"
"Ya, nggak pa-pa. Kangen aja liat muka dia, udah lama, kan kita nggak ketemuan," sahut Gober beralasan.
"Halah, bilang aja Lo mau godain Cima. Lagak Lo pake ngomong kangen segala!" sinis Jacob ikut menimpali pembicaraan dua sahabatnya.
"Emang masalah buat Lo, gue godain si Cima? Bilang aja Lo cemburu...!" sahut Gober tidak mau kalah.
"Ish, ngapain juga gue cemburu sama Lo?! Gantengan gue juga dimana-mana!"
"Berisik banget, sih Lo berdua!" Rama menyela dengan suara meninggi.
"Bukannya hibur gue, Lo malah berdebat nggak jelas disini!" sambung Rama menatap kesal Jacob dan Gober.
"Ade gue nggak ada! Dia ikut sama Mulan ke hotel. Mereka bakal nginep di sana malam ini."
Jacob dan Gober kompak menganggukkan kepala dan seketika diam. Pantas saja rumah ini terlihat sepi karena tidak adanya wanita iseng itu.
"Mending sekarang Lo berdua bantuin gue biar kita bisa keluar dari sini. Gue bosen, gue butuh hiburan. Gue nggak mau malam terakhir gue sebagai bujangan malah abis dirumah!" Rama menggaruk kepalanya frustasi.
Sudah dipaksa menikah, malam lajangnya pun harus dia habiskan dirumah dengan kebosanan. Rama tidak mau malam ini hanya lewat begitu saja tanpa ada kenangan apa-apa untuknya.
"Gimana caranya?" sahut Jacob lebih dulu.
"Grandma biasanya duduk di depan TV jam segini. Lo masuk trus bawain minum ato apa kek, trus masukin ini...." Rama menyodorkan sebungkus obat tidur ke hadapan Jacob.
"Ih, Lo gila, yah, Ra. Oma sendiri mau diracunin!" ucap Gober kaget melihat bungkusan putih itu.
__ADS_1
"Eh, taii ... emang siapa yang bilang ini racun?! Ini, tuh obat tidur. Oma gue nggak bakal kenapa-napa, dia cuma bakal ketiduran aja nanti. Udah Lo diem aja, biar ini jadi urusan gue sama Jacob!"
"Lah kenapa jadi gue, Ra?" sahut Jacob tidak terima.
"Ya karena Lo yang paling di sayang sama Oma, gue, Cob! Udah pokoknya sekarang Lo pergi ke dapur, trus bikinin minum dan campurin ini kesitu!"
"Tapi, Raβ"
"Udah nggak ada tapi-tapian lagi!" potong Rama cepat.
"Lo mau ke club, kan?" Jacob mengangguk. "Kalo mau, yah Lo kerjain apa yang gue suruh! Sana pergi!" perintah Rama lagi, mendorong Jacob dari kursi.
Pria berambut gelombang itu pasrah, menyeret kakinya menuju dapur rumah orang tua Rama. Dia pun memang ingin ke club sekarang, lebih baik dia menghabiskan waktunya bersama betina pandan daripada berdiam diri di rumah sepi ini.
"Dasar durhakim Lo, Ra! Nggak takut kualat Lo ngerjain orang tua?! Gue nggak ikut-ikutan nanggung dosa Lo berdua kalo ketauan, yah?!" ucap Gober mengingatkan.
Dia lebih takut pada Tari, dibanding ibunya sendiri. Wanita tua itu dikenal sebagai wanita yang sangat galak dan tegas sejak mereka masih kecil.
"Kalo gitu Lo tinggal aja disini sama Grandma, temenin dia sampe dia bangun. Gue sama Jacob aja yang ke club." Rama bangkit, mengikuti sahabatnya masuk ke dalam.
"Eh, kok gitu, sih, Ra...." Gober ikut masuk, tidak mau ditinggal begitu saja oleh dua sahabatnya.
Di dalam sana Jacob sudah siap dengan semua rencana mereka. Pria itu mendekati Tari yang tengah asik menonton TV.
"Hai Grandma," sapa Jacob.
Tari mendongak, menatap Jacob yang berdiri di sampingnya. "Kamu, kok disini? Rama sama Gober mana?" tanyanya tidak melihat dua pria yang lain.
"Oh, yah? Emang itu apa?" tanya Tari penasaran.
"Jus tomat, Grandma." Jacob menyodorkan segelas jus berwarna merah, yang diterima Tari dengan senang hati.
"Wah ... kayaknya enak." Tari membaui isi dalam gelas itu, mencicipinya sedikit.
"Kok rasanya aneh?"
"Aneh gimana, Grandma?" tanya Jacob mulai gugup.
"Rasanya nggak kayak yang biasa Grandma minum. Coba, deh kamu rasain." Tari menyodorkan kembali gelas berisi jus tomat itu kehadapan Jacob.
"Eh, aku udah kenyang Grandma. Tadi aku minum satu gelas juga dibelakang, rasanya enak-enak aja, kok," tolak Jacob berusaha terlihat biasa.
"Masa, sih? Tapi emang rasanya aneh, Cob. Coba kamu panggil Rama sama Gober kesini, biar mereka yang rasain jus ini."
Jacob menelan salivanya susah, bagaimana ini? Apa Oma sahabatnya tahu tentang obat tidur yang dia campurkan ke minumannya? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Jacob mendadak bingung harus berbuat apa.
"Mmm ... nggak usah, deh Grandma. Nanti coba aku buatin lagi buat Grandma." Jacob menarik gelas itu, membawanya secepat kilat ke dapur.
Tari merasa ada yang tidak beres dengan gelagat yang ditunjukkan Jacob padanya. Wanita tua itupun memutuskan mengikuti Jacob dari belakang.
"Gimana, Cob? Berhasil nggak?" tanya Rama begitu melihat sahabatnya kembali ke dapur.
__ADS_1
"Gagal, Ra. Oma Lo udah tahu duluan ada yang aneh sama minumannya!" Jacob menunjukkan isi gelas yang masih penuh seperti tadi pada Rama dan Gober.
"Hah? Kok bisa, sih? Lo pasti yang nggak bener ngasihnya sama Grandma."
"Ck, akting gue udah meyakinkan banget tadi, Ra. Nggak tahu aja kenapa Oma Lo malah bilang rasanya aneh. Dia cuma nyicip dikit doang tadi...," jujur Jacob.
"Gue juga bilang apa, Lo berdua bakal kualat kalo mainin orang tua. Liat, kan sekarang. Belum apa-apa, rencana kalian udah gagal!" cela Gober.
"Berisik Lo! Ini, tuh obat tidur paling mujarab yang nggak ada rasanya. Nggak mungkin Grandma bakal tahu ada obat di dalam minuman dia!" sahut Rama makin kesal mendengar ucapan sahabatnya.
"Apa kamu bilang, obat tidur?!" Tari tiba-tiba masuk, mendekati tiga sekawan itu dengan marah.
"Gra-grandma...," ucap ketiganya terkejut.
"Dasar anak-anak nakal! Berani kalian, yah boongin Grandma! Kesini, kalian...!" Tari menarik telinga Rama, Jacob dan Gober bergantian.
"Aduh, Grandma ... sakit Grandma," ringis mereka berbarengan.
"Kalian mau Grandma cepet mati, yah?! Dasar biji-biji nggak ada akhlak!" kesal Tari ikut memukuli kaki ketiganya dengan tongkat besi miliknya.
Pria-pria seumuran itu akhirnya menghabiskan malam mereka dengan berdiri di sudut ruangan dengan satu kaki yang diangkat tinggi dan dua tangan di telinga, persis seperti ketiga ayah mereka dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kualat, kan π€π
Jangan macem-macem sama Grandma Tari π
Untuk yang minta double sama triple up, maafin author belum bisa, yah
Author sibuk dengan dunia nyata dan 1 karya juga di GN...
Mohon bersabar, yah
Moga nanti author bisa up banyak sesekali
__ADS_1
Terima kasih πΉ