
Rama masuk ke dalam rumah saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu di ruang utama sudah padam dan hanya tersisa satu lampu di dapur yang dibiarkan Mulan menyala setiap malam.
Langkah kaki yang gontai dengan mata yang mulai sayu, Rama melangkah naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Ruangan lima kali empat yang dulunya selalu sepi dan dingin dan hanya ditempati oleh Rama sendiri, kini sudah terisi dengan satu orang wanita yang dia cinta.
Matanya sempat teralihkan pada sosok wanita yang tengah tidur dengan selimut tebal, menutup sampai ke batas lehernya. Rama sempat tersenyum sebelum masuk ke kamar mandi, membersihkan diri.
Pria berambut tebal itu harus memastikan tubuhnya bersih dan juga wangi sebelum naik ke ranjang, tidur memeluk wanitanya sampai pagi.
Selimut yang cukup tebal dan hangat membuat Mulan tidak sadar kalau suaminya sudah kembali. Wanita itu tetap tidur sampai Rama perlahan naik ke ranjang, merangkul pinggang rampingnya dari belakang.
"Selamat malam, Sweety...," bisik Rama lembut di telinga Mulan.
Wanita yang sedikit merasakan gangguan di tubuh belakangnya bergerak tidak tenang saat tangan kekar Rama menerobos masuk baju tidurnya yang tipis.
Rama sedang mengusap-usap perut rata Mulan dengan nafas yang mulai terasa berat di ceruk lehernya.
Tidak butuh waktu lama bagi benda perkasa Rama menegang, menginginkan kelembutan istrinya sebelum terlelap dalam mimpinya.
Tangan yang tadinya berada di perut kini naik ke dada Mulan yang malam ini tanpa ada sesuatu yang biasa menutupinya. Sepertinya Mulan mendengarkan permintaan Rama kemarin.
Beralasan demi kesehatan dua benda menggemaskan istrinya, Rama mengatakan Mulan akan lebih sehat dan umur panjang jika tidur tidak memakai braa. Meski sebenarnya tujuan Rama adalah hal yang lain, tapi di lain pihak dia membenarkan sebuah artikel yang sempat membahas tentang wanita yang lebih sehat jika tidur tanpa braa.
Kesempatan sebaik ini tidak akan disia-siakan begitu saja oleh pria penuh nafsuu itu. Rama merasa malam-malam dia ke depannya akan semakin indah dan menggairahkann.
Dan seperti malam ini, Rama tengah asik memainkan puncak merah muda Mulan dengan gemas. Pria itu mulai mencium ceruk leher wanitanya, membaui sudut-sudut leher jenjang Mulan dengan penuh semangat.
Rama menarik tubuh Mulan tidur terlentang di sampingnya dan bangkit naik ke atas tubuh Mulan.
Wanita yang masih sangat mengantuk itu hanya beberapa kali bergumam namun tidak kunjung bangun. Rama menggunakan kesempatan ini untuk menyingkap baju tidur istrinya dan membenamkan diri di dada Mulan yang menantang.
Wangi aroma mawar bercampur vanila yang lembut langsung tercium di hidung Rama. Mulan ternyata sudah menggunakan sabun mahal yang sempat dia beli khusus untuk wanitanya.
Bau wangi itu semakin membuat Rama penasaran ingin mencium dan merasai kulit tubuh Mulan yang halus dan mulus. Pria itu seperti tidak pernah bosan meninggalkan jejak-jejak cintanya yang sudah cukup banyak tertinggal di sana.
Bibirr dan lidah yang tidak pernah berhenti bermain di atas dada Mulan, turun perlahan menyentuh perut rata istrinya sekali lagi.
Rama menarik turun celana tidur berkaret yang dipakai Mulan dengan mudah, hingga dia berhenti di atas bulu-bulu haluss Mulan.
Setiap jengkal tubuh yang disinggahi Rama begitu harum dan memabukkan. Pria itu semakin tidak sabar membenamkan dirinya lagi di bawah sana, mengecapi rasa manis yang dia suka dari Mulan.
__ADS_1
Rama akhirnya menarik penutup terakhir tubuhh inti Mulan yang kini menyisakan pandangan indah dan memanjakan mata. Nalurinya sebagai pria matang langsung bergelora seiring hasratnyaa yang kian memuncak.
Rama masuk, mengecap dan memainkan lidahnyaa sebelum memulai pergulatan mereka yang sebenarnya.
"Pak!" Suara Bora tiba-tiba membangunkan Rama yang sedang tertidur pulas di sofa ruangannya.
Rama langsung berteriak, mendorong Bora hingga pria itu terjungkal ke belakang menyambar sudut meja di dekat kursi sofa.
"Aduh...." ringis Bora memegang belahan bokongnyaa yang sakit.
Rama beranjak dari duduknya dengan peluh membanjiri dahi hingga ke sekujur tubuhnya. Sial! Ternyata dia hanya bermimpi. Pangkal pahanya mendadak terasa nyeri karena menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam sana.
"Lo apa-apaan sih, Bor?! Gangguin orang aja!" Rama menendang lutut Bora, kesal karena pencapaian tertingginya terganggu.
Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi sebelum celananya basah bermandikan aroma-aroma pandan khasnya.
"Astaga ... apa salah hamba, yah?" keluh Bora mengusap lututnya yang juga ikut sakit.
Terseok-seok Bora duduk di kursi sofa mencari posisi enak untuk bokongg dan juga lutut kanannya, sambil memikirkan kesalahan apa yang sudah dilakukan nenek moyangnya dulu sampai hidupnya saat ini begitu apes dan menyedihkan.
"Rama mana, Bor?" Mulan yang baru tiba membawa makan siang untuk suaminya langsung masuk begitu melihat pintu ruangannya terbuka lebar.
"Eh, Bu Mulan...," kaget Bora refleks beranjak dari duduknya.
"Aduh...," ringis Bora lagi memegang bokongnyaa yang sakit.
"Kamu kenapa?" Mulan mendekati Bora khawatir.
"Nggak pa-pa, Bu. Cuma keseleo aja tadi," sahut Bora dengan wajah masih menahan sakit.
"Bener kamu nggak pa-pa?"
"Iya, Bu. Pak Rama lagi di toilet, mungkin bentar lagi keluar. Aku permisi dulu, ada kerjaan yang masih harus aku urus." Bora melangkah pelan meninggalkan istri atasannya dengan cara jalan yang aneh.
Mulan memperhatikan pria berkacamata itu sampai dia menghilang di balik pintu yang ditariknya tertutup. Mulan semakin merasa ada yang tidak beres begitu melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
"Sweety?" kaget Rama melihat istrinya sudah berada di ruangannya.
Mulan memicingkan mata, meletakkan kotak makan siang di atas meja dan mendekati Rama.
"Kamu ngapain mandi siang-siang begini di kantor?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"A-apa? Siapa yang mandi?" jawab Rama gelagapan.
"Trus ini, kenapa rambut kamu basah?!" tunjuk Mulan menarik rambut Rama.
"Oh, ini karena...." Rama menggantung ucapannya bingung harus menjelaskan tentang mimpinya siang ini pada Mulan.
Rama khawatir Mulan malah akan salah beranggapan padanya dan berpikir kalau dia tidak cukup membuat pria itu puas semalaman tadi.
"Karena apa, Ra? Kamu nggak ngapa-ngapain sama Bora, kan?!" tanya Mulan tidak sabar.
"Bora? Kenapa sama Bora?" tanya Rama bingung.
"Ish, kamu nggak ngapa-ngapain sama dia, kan Rama? Tadi aku liat jalannya jadi aneh pas pergi dari sini! Mana dia sempet pegang-pegang bokong dia lagi, kamu nggak abis colak colek dia, kan?!"
"Astaga Sweety ... kamu pikir aku cowok nggak normal, apa? Rambut aku, tuh basah karena aku abis main sendiri di kamar mandi tadi. Aku mimpiin gerayanginn kamu sampe Bora dateng dan gangguin mimpi aku. Bora kayaknya begitu karena aku sempet dorong dia dan bokongnya nggak sengaja kejedot tepi meja...," sahut Rama membela diri.
Mulan memicingkan mata, mendekat dan mengendus tubuh suaminya.
"Ya ampun, Sweety ... kamu nggak percaya sama aku? Aku cowok tulen, Ty. Kamu udah ngerasain sendiri gimana perkasanya aku di ranjang, kan? Apa untungnya coba aku nyari sesama biji?!" sambung Rama frustasi.
Mulan mundur, menatap suaminya dengan kesal. "Terserah! Aku mau pulang!" ucapnya membalikkan badan.
Rama berdecak, merasa ucapannya sia-siakan jika dia berkata dan tidak ada pembuktian apapun darinya. Pria itu pun dengan cepat menggendong Mulan, membawa istrinya ke kamar mandi untuk melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terganggu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya ampun ... gegara mimpi basah semua jadi korban prasangka tidak benar 🤣
__ADS_1