Touch My Body

Touch My Body
Kita Bertemu Lagi


__ADS_3

"Siapa yang mau kita temui hari ini, Bor?" Rama duduk di kursi belakang, membolak balikkan dokumen laporan perusahaan properti milik ayahnya.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju menuju tempat janji temunya dengan rekan kerja mereka yang baru.


"Namanya Deno, Pak. Dia Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kita yang sekarang."


"Apa, Menteri?" kaget Rama.


"Iya, Pak. Beliau anak dari Pak Cokro wakil presiden kita sebelumnya," terang Bora mulai menjelaskan siapa rekan bisnis mereka yang termasuk dalam jajaran orang-orang penting itu.


"Ya ampun, Bora. Lo kenapa baru ngomong sekarang, hah?!"


Pria yang duduk di belakang kursi kemudi mengernyit. "Kenapa memangnya, Pak?" tanya Bora tidak mengerti.


"Ck, harusnya Lo ngomong dari kemaren siapa rekan bisnis kita hari ini Bora. Kan, biar gue juga ada persiapan pas ketemu dia...," sahut Rama mulai gugup.


Seumur hidup dia belum pernah bertemu dengan seseorang yang punya posisi sepenting ini. Apalagi mendengar rekan bisnis baru mereka bukanlah orang yang sembarang, Rama takut dia tidak akan mampu meyakinkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu agar mau bekerja sama dengan perusahaan mereka.


"Pak Rama tidak perlu khawatir, aku sudah menyusun hal-hal apa saja yang perlu Bapak sampaikan pada calon rekan bisnis kita nanti. Semuanya ada dalam dokumen itu, Pak. Bapak hanya tinggal mempelajarinya saja," sahut Bora terdengar santai.


Meski kadang menyebalkan dan tidak bisa diandalkan, tapi sebenarnya Rama sama hebatnya dengan Richard. Kehebatan Richard dalam meyakinkan orang lain turun pada anak laki-lakinya, Rama. Bora tahu Rama pasti bisa melakukan hal sekecil ini dengan sangat mudah nantinya.


Perjalanan yang memakan waktu selama dua puluh menit lamanya, terasa seperti lima menit bagi Rama. Dia yang sibuk membaca dokumen yang diberikan Bora benar-benar menggunakan waktu sesempit itu untuk mulai mempelajari apa yang akan dia katakan nanti pada Deno.


Rama bahkan tidak sempat memarahi Bora karena baru memberitahunya tentang ini. Dia hanya fokus dan mengingat apa saja yang perlu dia katakan nanti pada calon rekan bisnis mereka.


"Silahkan, Pak." Bora membuka pintu mobil begitu mereka sampai di lobby hotel ternama di Kota Milan.


Pria yang memakai setelan rapi dengan sepatu mengkilap turun dengan gagahnya sembari mengancingkan jas yang dia pakai. Saat ini jantung Rama seakan dipaksa memompa seluruh darahnya ke sekujur tubuh.


Rama merasa tangannya ikut berkeringat karena kegugupan yang dia rasa. Entah kenapa dia bisa segugup ini, Rama mendadak merasa ragu dengan dirinya sendiri.


"Ada apa, Pak?" Rama tiba-tiba berhenti di depan Bora yang berjalan mengikutinya.


Rama berbalik dengan tangan yang terulur padanya. "Mana ponsel Lo," pinta Rama.


"Buat apa, Pak?"


"Kasih aja sini, cepet!" pinta Rama lagi setengah memerintah.


Mau tidak mau Bora merogoh ponselnya dari saku jas, menyerahkan itu ke tangan Rama yang diambilnya dengan cepat.


"Toilet di mana?" tanya Rama begitu memegang ponsel Bora.

__ADS_1


"Mmm, kayaknya di sana, Pak." tunjuk Bora di samping kanan mereka.


"Ok, Lo tunggu sini. Gue mau ke toilet bentar." Rama beranjak, meninggalkan Bora yang kebingungan melihat tingkah anak bosnya.


Jika hanya ingin ke toilet untuk apa dia membawa ponselnya? Apa Rama sudah tahu sesuatu dengan rencana Mulan? Bora mendadak gelisah sendiri dibuatnya. Dia hanya berharap Rama tidak akan membuka apa-apa di ponselnya, dan menemukan sesuatu di dalam sana.


"Halo...." Suara seorang wanita terdengar di telinga Rama begitu nomor yang dia hubungi diangkat.


Hati Rama seketika menjadi tenang hanya dengan mendengar satu kata itu terucap dari bibir wanita itu.


"Ngapain?" tanya Rama mengatur dasinya di depan kaca besar dalam toilet.


"Rama? Ngapain Lo telpon gue pake nomornya Bora?"


"Kenapa? Ngarepin banget, yah kalo Bora yang nelpon elo?" sahut Rama tidak terima.


"Ya secara ini, kan nomornya Bora bukan nomornya elo! Lagian Lo udah kayak nggak punya ponsel aja!"


"Bodo! Suka-suka gue, lah. Kan, bosnya gue bukan dia!"


Wanita diseberang sana berdecak, kesal sendiri mendengar ucapan Rama. "Trus mau Lo apa nelpon gue? Bukannya Lo ada pertemuan penting, yah sekarang?"


"Iya, emang ada."


"Pengen aja."


"Hah? Lo nggak kepentok apa-apa, kan tadi pas dijalan? Geli gue denger Lo ngomong begini tahu nggak."


Rama tersenyum tipis mendengar perkataan wanita diseberang sana. Ternyata berdebat dengannya bisa membuat kegugupan Rama perlahan hilang.


Tidak salah Rama memilih menghubunginya demi untuk menghilangkan kegundahan yang dia rasa dihatinya. Walau harus menggunakan ponsel orang lain, Rama tidak masalah.


"Yaudah, makasih udah mau angkat telpon gue, yah. Gue masuk dulu, doain biar semuanya lancar, ok? Bye, Mulan." Rama menutup panggilan mereka dengan hati yang ringan.


Pria itu bergegas keluar dari dalam toilet mendekati Bora yang berjalan mondar mandir dengan wajah khawatir.


"Kenapa, Lo?" tanya Rama merasa asistennya sedang menatapnya dengan aneh.


"Tidak ada apa-apa, Pak," sahut Bora bisa bernafas lega.


Rama sepertinya belum tahu apa-apa tentang misi balas dendam Mulan, pikirnya. Mereka pun kembali melanjutkan langkah menuju kamar hotel di mana pertemuan ini akan diadakan.


"Permisi, Pak. CEO perusahaan properti yang kita tunggu sudah tiba, Pak."

__ADS_1


Deno mengangguk, bangkit dari kursinya dan berbalik. "Persilahkan mereka masuk," ucapnya bersiap.


Deno ingin menunjukkan pesonanya sebagai seorang Menteri dan juga pengusaha yang sukses. Calon rekan bisnisnya ini harus bisa dia dapatkan untuk memperlebar sayap bisnisnya di luar negeri.


Bora sudah memberitahukan padanya bagaimana hebatnya perusahaan baru ini yang dalam sebulan saja sudah berhasil meraup keuntungan yang cukup besar. Deno tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebaik ini.


"Pak, mereka sudah disini." Asisten sekaligus ajudan Deno membawa Rama dan juga Bora masuk ke dalam.


Rama sedikit terkejut begitu melihat sosok di depannya adalah pria yang waktu itu sempat mengejar Mulan hingga Mulan meminta pertolongan padanya.


"Anda...." Deno menggantung ucapannya, ikut teringat dengan kejadian malam saat adik tirinya menghilang.


"Halo Pak Deno, kita bertemu lagi...," sahut Rama tersenyum ramah.


Meski terkejut dan tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan pria ini, Rama tidak mau Deno curiga padanya. Dia yakin pria yang ternyata adalah seorang Menteri ini pasti masih mencari keberadaan Mulan sampai sekarang.


Rama berpikir mungkin setelah pertemuan mereka usai, dia harus bertanya pada Mulan tentang hubungan keduanya. Rama merasa ada sesuatu yang sangat penting diantara mereka sampai Mulan memohon-mohon padanya waktu itu untuk menolong dia dari kejaran Deno.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai...


Maafin author baru sempat up, yah


Hari ini author banyak kerjaan 🥺


Jangan lupa dukungan kalian buat pasangan ini 🥰

__ADS_1


Terima kasih 🌹


__ADS_2