Touch My Body

Touch My Body
Penuh Kebahagiaan (Final Part)


__ADS_3

"Bor, cepet dikit bawa mobilnya!" pekik Rama dari kursi belakang.


"Iya, Pak. Sabar, ini jalanannya juga lagi macet." Bora menjawab dengan nada serendah mungkin.


Sudah sejak mereka tiba di Bandara Ngurah Rai Bali atasannya terus berteriak memintanya bergegas menuju villa di mana Mulan berada.


Mereka tiba di Bali tepat jam enam sore dan terjebak macet selama hampir setengah jam. Rama semakin tidak sabar bercampur khawatir mengingat istrinya sedang berada jauh darinya dan tengah sendirian di sana.


Jika bisa menyewa helikopter, Rama mungkin lebih memilih menaiki alat transportasi udara tersebut dibanding terjebak lalu lintas seperti ini.


"Iya, Ra. Sabar aja, bentar lagi kita nyampe, kok." Amanda duduk di samping anak laki-lakinya, mengusap punggung tangan Rama hangat.


Richard duduk di depan samping kemudi bersama Bora. Pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu dibuat heboh dengan Rama yang meminta mereka ke Bandara tadi siang untuk berangkat dengannya ke Bali.


Bahkan semua keluarga mereka juga ikut pergi dan naik menggunakan mobil masing-masing dibelakang mobil mereka.


Permintaan Mulan ini membuat keluarga mereka terkejut sekaligus khawatir. Entah apa yang direncakan Mulan sampai meminta mereka semua ke Bali malam ini juga.


"Tenang aja, istri kamu nggak akan kenapa-napa di sana. Duduk diem aja di situ baik-baik!" timpal Richard ikut menambahi ucapan istrinya.


Sejak tadi dia juga sudah bosan mendengar rengekan pria bertubuh atletis itu dibelakang kursinya.


Bora sudah menceritakan pada Richard bagaimana awal mula menantunya sampai pergi ke Bali tadi pagi. Alhasil pria yang mulai beruban itu tidak terlalu khawatir seperti keluarganya yang lain.


Richard tahu menantu perempuannya pasti punya rencana kejutan pada mereka semua malam ini.


Mobil yang mereka tumpangi pun tiba bersamaan di depan villa dengan Rama bergegas turun sebelum Bora sempat menghentikan mobil yang masih melaju pelan.


Pria itu benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanitanya yang sudah sangat dia rindukan selama beberapa jam tidak bertemu.


"Astaga Rama ... kamu mau nyari celaka!?" Amanda setengah berteriak melihat anaknya berlari terburu-buru dan tidak menutup pintu mobil.


Wanita itu menggelengkan kepala dengan nafas yang menghembus kasar. Dia ikut turun begitu Bora memarkirkan mobil mereka.


"Nggak usah marah, By. Namanya juga lagi kangen bini, pasti begitu sikapnya." Richard merangkul bahu Amanda, menariknya ke dekatnya.


Amanda mencebik, melangkah cepat masuk ke dalam villa.


"Kok pada sepi banget...?" Cima berjalan tepat di belakang ibu dan ayahnya.

__ADS_1


Wanita itu juga ikut khawatir sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kakak iparnya, sampai meminta mereka sekeluarga datang ke Bali tiba-tiba begini. Disamping Cima berdiri Gober yang menggenggam tangannya dengan mesra.


"Iya, yah ... nih villa udah kayak kuburan." Jacob menyela dari belakang Cima dan Gober.


Anna berjalan disamping suaminya sembari memperhatikan keadaan sekitar. "Bora nggak salah bawa kita ke sini, kan?"


Semua yang ada di sana diam, hingga beberapa orang berseragam rapi mendekati keluarga besar mereka.


"Selamat malam Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Silahkan, ibu Mulan sudah menunggu semuanya di private pool."


Rama yang sudah lebih dulu berjalan di depan semua orang berbalik, kembali mendekati empat pegawai tersebut dengan bingung.


"Di mana, di mana kolamnya?" tanya Rama tidak sabar.


"Mari, Pak. Silahkan ikuti kami," jawab pegawai pria berseragam sopan.


Rama mengangguk dan berjalan mengikuti pria itu dengan semua keluarga mengikutinya dari belakang.


Memasuki lorong villa yang diterangi lampu-lampu dinding berwarna kuning, mereka tiba di depan kolam yang gelap gulita.


"Apa-apaan ini, Pak!? Mana istri saya?!" Rama meradang menemukan pemandangan di depannya tanpa adanya Mulan di sana.


"Aku di sini, Ra."


Suara lembut Mulan membuat semua yang ada di sana kompak menengok ke arahnya. Pandangan mata lega terpancar dari mereka, tidak terkecuali Richard ayah mertua Mulan.


Senyum merekah pun ikut tersungging di wajah tampan Rama dengan hati yang terasa plong. Pria itu bergegas melanjutkan langkahnya mendekati Mulan.


"Tunggu dulu, Ra. Tunggu disitu dulu. Aku mau nunjukin kamu dan semuanya sesuatu," tahan Mulan.


Langkah kaki panjang Rama terhenti seiring mendengar perkataan Mulan yang memintanya diam, tetap berada di tempatnya.


"Kamu mau nunjukin apa, Yang? Aku, kan bisa kesitu...," ucap Rama setengah merengek.


Mulan menggelengkan kepala. "Nanti ... kamu bisa ke sini abis aku kasih tahu sesuatu."


"Tapi aku kangen, Yang ... daritadi aku nggak meluk-meluk kamu. Nggak cium-cium kamu juga, aku nggak tenang sebelum pegang kamu, Yang...."


Dari belakang Rama, Jacob bersuara. "Nggak usah lebay, woii...! Di sini ada orang lain juga bukan cuman elo doang, biji!" cibirnya.

__ADS_1


Anna menepuk lengan Jacob, memperingatkannya agar diam dan tidak perlu banyak berkomentar dengan apa yang akan dilakukan pasangan suami istri itu di depan mereka semua.


Rama sempat melirik tajam ke arah Jacob sebelum Mulan kembali membuka suara.


"Jadi, aku minta kalian semua ke sini karena pengen ngasih kejutan yang juga baru aku tahu tadi pagi."


Mulan memberi kode pada salah satu pegawai untuk memutar satu video berisi rekaman pemeriksaannya tadi pagi di dokter OBYGN yang dia datangi.


Semua yang ada di sana sontak membola kaget, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat dan dengar.


"I-ini...." Rama menutup mulut tidak percaya. "Ka-kamu hamil, Yang?" ucapnya lagi terbata.


Jauh di depan sana berbatas kolam Mulan mengangguk. Manik mata coklat muda Mulan tampak berkaca-kaca dengan rasa bahagia yang terus menderanya seharian ini.


Tidak ada bahagia yang lebih indah lagi dari ini. Hidupnya terasa lebih sempurna dengan tumbuhnya buah cinta dia bersama Rama.


Pria yang masih setengah syok sedikit berlari mendekati Mulan, memeluk istrinya sembari mencium bibir dan wajah Mulan berulang kali. Bahagia dan lega menyatu di dalam hati Rama.


"Makasih, Yang. Makasih udah ngasih hadiah indah banget kayak gini. Aku bahagia juga bersyukur, Yang. Aku nggak tahu harus ngomong gimana lagi, aku bener-bener nggak nyangka dan masih nggak percaya. Ternyata usaha aku selama ini berhasil dan bisa bikin kita naik pangkat."


Mulan tersenyum geli mendengar ucapan suaminya. Pria ini masih saja bisa bercanda disaat begini, pikirnya.


Semua yang berkumpul di sana larut dalam suasana penuh haru. Ucapan kebahagiaan dan doa-doa penuh harapan mengalir deras bagi pasangan suami istri yang sebentar lagi akan berubah status menjadi ibu dan ayah.


Rasanya malam itu adalah malam paling membahagiakan bagi setiap mereka. Rama dan Mulan tidak henti-hentinya memuja, berkata cinta satu sama lain dan akan selalu setia sampai akhir nafas berhembus bersama anak-anak mereka nanti.


.


.


.


.


.


.


...The End...

__ADS_1


__ADS_2