
"Pak Deno, Bapak harus liat ini!" Asisten sekaligus ajudan pribadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu berlari masuk ke dalam ruang kantor atasannya dengan gelisah.
Di tangannya membawa satu buah notebook yang tengah memberitakan sebuah skandal tentang seseorang yang punya hubungan erat dengan Deno.
"Kenapa, sih lari-lari begitu!" sentak Deno tidak suka.
"Maaf, Pak. Tapi Bapak harus melihat ini...." Ajudannya menyodorkan notebook miliknya, meminta Deno melihat berita yang sedang panas pagi ini.
Deno mengernyit, mengambil notebook dari tangan ajudannya dan membaca isi dalam artikel tersebut.
"Apa ini?!" ucap pria itu kaget.
"Berita tentang nyonya Wati tidur dengan pria di hotel menjadi headline semua berita online pagi ini, Pak," terang ajudan Deno.
"Bahkan videonya juga ada, Pak." Ajudan itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana, memutar sebuah video panas Wati yang disebarluaskan disebuah alamat web yang bebas ditemukan oleh khalayak ramai.
Deno menarik ponsel ajudannya dengan kasar, membola melihat ibunya tengah berada di atas tubuh seseorang dengan tubuh bagian atasnya yang polos. Bahkan wanita itu bertingkah liar dengan mengulumm benda perkasa seorang pria dengan satu orang berada di belakangnya asik memaju mundurkan tubuhnya bermain dengan Wati.
"Sinting!" Deno membanting ponsel ajudannya hingga pecah, berteriak marah dalam ruang kerja dalam kantor Kementerian.
"Take down semua pemberitaan ini, Man! Suruh anggota kita meretas alamat web sialan itu!" perintah Deno pada ajudannya.
"Sudah, Pak. Aku sudah meminta anggota kita men-take down semua pemberitaan tentang nyonya. Tapi berita ini sudah menyebar dengan sangat cepat, kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Hanya alamat web video nyonya Wati yang sementara mereka usahakan untuk di banned, Pak. Mereka masih mengusahakannya hingga kini."
"Sialan!" pekik Deno makin berang. Pria itu dengan cepat menghubungi nomor ponsel ibunya, menunggu hingga panggilan itu diangkat.
"Halo...." Suara Wati yang terdengar baru bangun.
Saat ini di Milan sedang menunjukkan pukul tengah malam. Ibu dan ayahnya pasti masih tidur, pikir Deno.
"Bangun, Mi. Mami harus jelasin apa maksud berita-berita yang sedang heboh disini sekarang!"
__ADS_1
Wati mengucek mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Maksud kamu apa, No?" tanyanya tidak mengerti.
"Buka kamera Mami dan liat ini!" Deno memutar tv di ruangannya yang sementara memberitakan berita skandal panas ibunya dengan dua orang pria muda di sebuah hotel.
Wati begitu terkejut saat mendengar dan melihat isi dalam berita dengan tangan yang menutup mulutnya tidak percaya.
"A-apa, yang—"
"Apa ini, Mi?!" potong Deno mematikan tv-nya. "Jelasin apa semua ini, Mi! Mami main gila dengan dua pria yang bahkan seumuran dengan aku?!" teriak pria itu tidak terima.
"Tu-tunggu, Deno. Dengerin dulu penjelasan Mami." Wati diam, melirik ke arah suaminya yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Buru-buru wanita itu bangkit, pergi keluar dari kamar mereka sebelum Cokro bangun dan mendengar masalah ini.
"Cepet jelasin sama aku, Mi. Apa semua video-video itu bener?" tanya Deno saat Wati sudah berada di balkon rumah mereka.
"Vi-video?" kaget Wati tidak percaya.
Wati semakin gelisah dengan tangan yang mulai gemetaran. Apa yang terjadi, kenapa bisa ada video panasnya dengan dua orang pria malam itu? Bukannya dia hanya bermain dengan asisten rekan bisnis mereka? Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Wati bingung.
"Katakan, Mi. Apa semua video-video itu bener?!" tanya Deno ingin tahu.
Wati hanya diam menatap Deno takut dan gelisah. Anaknya pasti akan menganggap dia sebagai wanita yang menjijikkan, pikirnya.
"Mi, bener apa enggak, Mi?!" tanya Deno lagi tidak sabar.
Wati menutup mulutnya dengan air mata yang perlahan keluar. Rasa bersalah dan menyesal seketika menyelimuti hati dan pikiran Wati. Bagaimana mungkin dia bisa teledor dan sampai membuat anak juga keluarganya menanggung skandal memalukan begini?
Wati merutuki kebodohannya, yang dengan bodohnya pergi menemui pria berkacamata itu hingga dijebak seperti ini. Bagaimana Deno akan memandangnya sebagai seorang ibu yang baik lagi? Pasti sekarang anaknya sangat jijik dan malu memiliki ibu sepertinya.
"Ma-maafin Mami, No. Mami khilaf, Mami nggak tahu kalo dia—"
__ADS_1
"Jadi itu bener?" potong Deno tidak percaya.
"Dengerin dulu penjelasan Mami, No."
"Astaga Mami...," ucap Deno frustasi. "Mami gila, yah sampe ngelakuin hal yang menjijikkan begini?! Aku nggak percaya Mami nggak ada bedanya sama Papi. Bisa-bisanya, yah Mami ngelakuin hal sinting dan nggak waras begini! Kalian semua, tuh cuma tahu bikin aku malu punya orang tua yang kelakuannya nggak jauh beda sama binatang! Aku benci kamu, Mi! Aku benci...!"
Deno menutup teleponnya sepihak. Rasa amarah dan kesal menyelimuti pria berbadan tegap itu. Deno memekik marah, mulai membanting apa saja yang ada di dekatnya.
Ajudan sekaligus asisten pribadi Deno yang masih berada di sana dengannya mundur, berdiri sejauh mungkin dari atasannya karena tahu bagaimana gilanya Deno jika sedang berontak seperti ini. Pria itu pasti sangat terpukul dan malu mengetahui kelakuan ibunya jauh di negara sana.
Entah apa yang akan dilakukan Deno selanjutnya untuk menepis kabar ini di saat dia sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye di beberapa daerah di Indonesia. Semoga saja masalah skandal ibunya tidak akan berdampak besar pada pencalonan Deno sebagai wakil presiden periode berikutnya.
Tidak menemukan istrinya di sampingnya, Cokro bangun saat melihat pintu kamar mereka terbuka. Bermaksud ingin mencari di mana Wati berada, perhatian Cokro teralihkan ketika ponsel miliknya di atas nakas berbunyi.
Sebuah pesan masuk terlihat dilayar ponsel dan membuat Cokro penasaran. Dia pun memilih membukanya terlebih dahulu sebelum keluar mencari Wati. Manik matanya melebar saat melihat isi dalam pesan yang ternyata berisi video-video panas istrinya bersama dua orang pria muda yang tengah bercinta disebuah kamar hotel.
Pria itu berteriak marah dan pergi mencari istrinya yang ternyata sedang menangis di balkon rumah mereka.
Dengan cepat Cokro menarik Wati, menampar pipi kirinya, kuat. "Dasar wanita jalangg!" pekiknya marah.
"Berani sekali kamu mengkhianati aku Wati!" sambung Cokro menarik rambut istrinya, menumpahkan kemarahan dihatinya.
"Lepaskan aku!" pekik Wati menahan tangan Cokro dirambutnya.
"Dasar wanita nggak punya malu! Kamu masih nggak puas dengan aku sampe nyari dua pria muda dan ngangkangg sama mereka, hah?! Kamu punya otak nggak, sih Wati!" Cokro masih menarik rambut wanita yang terus menjerit di depannya, menyeret Wati masuk ke dalam kamar mereka.
Cokro mendorong tubuh istrinya begitu tiba di dalam. Kepala Wati tidak sengaja membentur sisi ranjang dan berdarah.
Cokro sama sekali tidak mempedulikannya dan malah kembali menampar Wati, hingga wanita itu pingsan dengan wajah lebam dan penuh darah.
To be continued
__ADS_1