
"Bor!" panggil Rama.
"Iya, Pak." Tergopoh-gopoh pria berkacamata itu mendekati Rama.
"Pastiin tuh, bangkee tutup mulut dan nggak laporin hal ini ke polisi! Lo tahu harus kayak gimana, kan?"
"Iya, Pak. Semua udah aku atur, Pak Rama tenang aja." Rama mengangguk, memakai kacamata hitamnya dan menaikkan jendela mobil.
Ketiga pria yang baru saja selesai bermain-main dengan Josh pergi dari sana meninggalkan kekacauan yang ditinggalkan Jacob.
Seakan baru saja mendapatkan undian berhadiah, wajah Jacob terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Guratan kelegaan dan hati yang plong begitu dirasakan Jacob setelah puas membuat pria bernama Josh itu terluka.
Bisa Jacob pastikan mantan kekasih gila istrinya tidak akan berani mengganggu hidup mereka lagi setelah ini.
"Nanti kita mau ngasih alesan apa kalo ditanya sama bini-bini kita abis dari mana, Ra?" Gober duduk dikursi belakang menatap sahabatnya yang terlihat santai membawa mobil.
"Jawab aja abis ketemu orang. Gue bilang sama Mulan, Jacob ngajak gue ketemu kenalannya."
"Hah? Kenalan apaan, Ra?" Jacob bertanya.
"Ya, kenalan aja. Gue nggak jelasin siapa kenalan Lo."
"Astaga ... gue malah bilang ke Anna elo yang ngajakin gue ketemu klien Lo di restoran deket rumah sakit, Ra...."
Rama terkejut menatap sekilas ke arah Jacob yang duduk di sampingnya. "Serius Lo, Cob?"
"Iya, Ra. Anna nya tahu gue ikut Lo karena mau ketemu klien."
"Aduh ... gawat ini." Rama menekan pedal gas, menembus jalanan yang sedikit lengang siang ini.
Pikirannya mulai tidak tenang mengingat Mulan pasti akan marah jika istrinya tahu dia sudah berbohong.
Wanita-wanita mereka pasti sudah saling berbicara ke mana mereka pergi hari ini pikir Rama.
"Kenapa sih, Ra?" Gober mengernyit melihat pria berambut tebal itu sedikit terburu-buru keluar dari mobil.
Bahkan Rama hampir saja terantuk palang di dekat parkiran rumah sakit saking cemasnya dia memikirkan Mulan saat ini.
"Nggak pa-pa. Ayo cepet, bini-bini kita pasti udah kesel nungguin kita dari tadi!" Rama berjalan lebih dulu, meninggalkan Jacob dan juga Gober yang kebingungan melihatnya.
Begitu masuk di lift, Gober kembali membuka suara. "Jadi nanti kita ngomongnya apa sama mereka, Ra, Cob? Kita musti satu alesan biar mereka nggak curiga sama kita."
__ADS_1
"Pake alesan aku aja, Ber," sahut Jacob lebih dulu.
"Eh, jangan ... bisa mati berdiri gue kalo Mulan tahu gue boongin dia, Cob. Pake alesan gue aja," pinta Rama.
"Lah trus kalo gue pake alesan Lo, gue dong yang diomelin Anna, Ra...," protes Jacob.
"Yah itu urusan elo lah, Cob. Pokoknya gue nggak mau bini gue marah-marah sama gue karena lindungin Lo!"
"Ish, nggak boleh gitu dong, Ra. Gue...." Dua sahabat itu mulai berdebat karena tidak mau disalahkan oleh pasangan mereka masing-masing.
Gober hanya bisa membuang nafas panjang mendengarnya. Jika mereka takut istri-istri mereka marah, apa bedanya dengan dia? Bisa Gober pastikan Cima akan langsung menatapnya dengan tatapan singa betina yang kelaparan nanti. Mereka lupa dia juga sudah punya istri sepertinya.
Begitu pintu lift terbuka, Rama dan juga Jacob masih terus berdebat tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka masih tetap bersikukuh dengan alasan masing-masing, Gober akhirnya harus bertindak sebelum dua pria dewasa itu berakhir dengan guling-gulingan di lorong rumah sakit seperti kelakuan mereka dulunya jika sedang bertengkar.
"Woi ... mo sampe kapan Lo berdua berdebat nggak jelas, hah?!" sentak Gober bosan mendengar keduanya.
"Saran gue mending nanti begitu kita masuk, kita langsung bawa bini-bini kita pulang, Ra. Biar nanti nggak bakalan ada drama marah-marah lagi dari mereka di dalem. Gimana?"
Rama dan Jacob diam, memikirkan saran dari sahabat mereka.
"Yaudah gitu aja. Gue setuju sama Lo, Ber..."
Gober dan Rama sepakat akan langsung menarik istri mereka pulang begitu ketiganya masuk ke dalam ruang perawatan Anna.
Bermodalkan keyakinan dan fokus harus cepat pergi dari sana, Jacob membuka pintu begitu mereka tiba di depan kamar.
Dua wanita yang duduk di dekat ranjang di mana Anna berada sontak beralih menatap tiga pria yang berjalan masuk beriringan mendekati mereka.
Pandangan mata tajam menyambut Rama, Jacob dan juga Gober begitu mereka tiba di dekat wanita-wanita itu.
"Dari mana?" Mulan, Anna dan Cima kompak bertanya.
Yang ditanya refleks menelan saliva susah, saling melirik sebelum menjawab. "A-ada urusan dikit," jawab ketiganya terbata.
"Urusan apa?" Kompak tiga wanita itu bertanya lagi.
"Urusan—"
"Ci, tadi mami telpon. Dia minta kita pulang ke rumah...," potong Gober sebelum Jacob menyelesaikan ucapannya.
"Mmm tadi Bora juga telpon, Yang. Aku musti ke perusahaan daddy sebentar. Kita duluan aja, yuk...," ajak Rama ikut mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Tiga wanita di depan mereka memicingkan mata, makin curiga melihat gerak gerik suami-suami mereka.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan. Cepet jujur kalian dari mana!" sentak Cima bersedekap dada.
Gober seketika ciut melihat tatapan singa betina Cima yang sangat mirip dengan ayah mertuanya. Dia yakin malam ini jatah sebelum tidur dan tengah malamnya akan hangus begitu saja.
"Iya, cepet bilang kalian dari mana aja!" Mulan ikut menambahkan.
Rama merasa dahinya mulai berkeringat sekarang, Mulan seakan sedang membakar tubuhnya dengan tatapan tajam khas wanita yang sedang marah.
"Jac, kamu juga mau boongin aku yang lagi sakit gini?" Meski lemah, Anna masih bisa menatap tajam menembus ke jantung Jacob.
Pria itu menahan nafas, mulai resah mendengar istrinya berkata seperti itu.
"Siapa yang boongin kalian, sih? Kita cuman—"
"Boong dikit?" Cima memotong ucapan Gober.
"Yah, nggak juga, Ci...." Suara Gober perlahan melembut seiring tatapan tiga wanita yang seakan ingin mencekik mereka sekarang juga.
Nyali tiga pria itu menciut begitu melihat Mulan dan Cima beranjak dari kursi, mendekati Rama dan Gober.
Mengambil ancang-ancang, Mulan dan Cima mengangkat tangan menyambar telinga kanan suami mereka dan menariknya dengan kesal.
"Dasar biji! Udah berani yah, sekarang boongin kita!" pekik Mulan dan Cima diikuti teriakan kesakitan dari mulut Rama dan Gober.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan macem-macem, deh kalo sama bini yah, biji 🤭😆
__ADS_1