
"Kamu kemana aja Sayang? Kok, nggak pernah kesini lagi?" Wanita berpakaian seksi dengan dada yang hampir keluar, duduk di atas paha seorang pria berlesung pipit.
Dengan satu tangan merangkul lehernya, wanita itu mulai mengusap dada pria yang asik menyesapp brandy di tangan.
"Kangen tahu sama hentakann kamu...," sambung wanita itu lagi berbisik menggodanya.
"Gue lagi males, Lo aja yang main kalo mau...," sahut Gober cuek.
"Boleh emang?" Gober mengangguk.
"Yaudah, kamu maunya dari mana?" tanya wanita itu antusias.
"Terserah, yang pasti Lo yang main bukan gue."
"Ok." Wanita penghibur itu beranjak, duduk di atas paha Gober dengan dua kaki yang terbuka.
Bermaksud mencium lehernya yang wangi aroma parfum mahal, Gober buru-buru mendorong wanita penghibur itu menjauh.
"Nggak usah cium-cium segala. Cium biji gue aja kalo Lo mau," tolak Gober risih.
Wanita yang memang senang melakukan apa saja untuk memuaskan pelanggannya mengangguk patuh. Dia kembali turun dari atas paha Gober, menekuk lututnya di depan Gober yang duduk santai di kursi sofa dalam sudut ruangan club.
Cahaya lampu yang remang dengan musik yang berdentum kuat, membuat kegiatan memuja benda perkasa Gober akan terasa mengasyikkan. Penuh semangat wanita itu mulai menurunkan resleting celana Gober, mengelus benda yang masih belum tegak namun sudah sangat menggodanya.
Gober diam menikmati apa yang dilakukan wanita yang biasa dia pakai jasanya setiap kali datang ke club ini. Sesekali Gober mendorong kepala wanita itu dengan satu tangan menyesapp minuman memabukkannya.
Di tengah kegiatan menyabuni benda perkasanya dengan mulut wanita itu, mata Gober tidak sengaja melihat sosok wanita yang sangat dia kenal sedang berdiri di tengah lantai dansa, menikmati dentuman musik keras dengan goyangan tubuhnya yang indah.
Wanita berkulit putih dengan rambut cokelatnya tidak menyadari dirinya yang tengah menjadi pusat perhatian mata lelaki di sana. Tubuhnya yang seksi dengan goyangan yang terbilang cukup sensuall membuat siapa saja pasti tertarik ingin menyentuhnya.
Gober meyakinkan diri kalau itu bukanlah wanita yang selama ini dia kenal. Namun, saat melihat bagaimana wanita itu tersenyum pada satu orang pria yang mencoba mendekatinya, Gober jadi yakin jika dia adalah....
"Cima...." desis Gober tidak senang.
Pria itu beranjak, tidak mempedulikan wanita penghibur yang masih berlutut di depannya memuja benda perkasanya dengan semangat.
Terlalu kesal melihat Cima di dekati seorang pria asing yang tidak dikenal, Gober lupa kalau benda di antara pangkal pahanya sedang berada diluar dan tengah bergelantung indah kesana kemari mengikuti gerakan tubuh tuannya.
"Cima!" pekik Gober sedikit berteriak di dekat wanita yang tengah asik bergoyang itu.
"K-ka Gober?" kaget Cima dengan mata yang membola.
"Ngapain kamu disini?!" geram Gober. " Mana pake acara goyang-goyang segala lagi. Kamu nggak takut di deketin buaya buntung?!" sambungnya menunjuk pria di dekat Cima.
"Maksud Lo apa nunjuk-nunjuk ke gue trus bilang buaya buntung, hah?!" sahut pria asing itu tidak senang.
"Diem! Gue lagi nggak ngomong sama Lo!" sentak Gober kembali menatap Cima tajam.
"Kenapa kamu bisa ada disini Cima?!" tanya Gober lagi.
"A-aku...." Cima menggantung ucapannya, bingung harus menjelaskan apa.
Salahnya dia kenapa datang ke club langganan kakak laki-lakinya dan malah bertemu dengan Gober disini. Setelah ini dia yakin Gober pasti akan melaporkan perbuatannya pada Rama, pikir Cima.
"Ikut gue!" Gober menyeret Cima keluar dari tengah lantai dansa, membawanya keluar dari dalam club.
__ADS_1
Dari kejauhan, wanita penghibur yang belum mendapatkan apa-apa dari Gober berteriak marah. Dia kesal melihat Gober main pergi meninggalkannya dan malah menyeret wanita lain dari club.
Namun, begitu melihat benda yang sempat berada di dalam mulutnya tadi sedang berada di luar menggantung, wanita penghibur itu seketika langsung tertawa geli.
Dia membayangkan akan semalu apa Gober jika sampai ada orang lain yang melihat benda pribadinya di luar sana. Mungkin hukuman itu paling cocok untuk membalas Gober yang seenaknya meninggalkan dia.
Tiba di depan pintu utama club, Gober masih tidak menyadari miliknya yang masih berada di luar. Beberapa pengunjung club yang mengantri dan sempat melihatnya malah mengambil ponsel, dan memfoto benda perkasanya dengan tawa terbahak.
"Bos!" panggil security yang sangat mengenali Gober, berdiri di depannya.
"Apa?! Minggir, gue lagi ada urusan sama, nih cewek!" sahut Gober kesal jalannya dihalangi.
"I-Iya, Bos. Tapi itu...." Pria berbadan dua kali lebih besar dari Gober bingung harus berucap apa.
Gober semakin menjadi pusat perhatian pengunjung club di sana dan membuat riuh suara ribut di depan Club.
"I-itu..." sambung security masih menggantung ucapannya.
"Apa, Lo mo ngomong apa, sih?! Kalo nggak penting jangan ngalangin jalan orang!" kesal Gober mendorong security dengan satu tangannya.
"Tu-tunggu, Bos," tahan security lagi.
"Astaga ... mau Lo apa, hah?!" sahut Gober tidak sabar.
"Bijinya Bos ada diluar."
Gober mengernyit. "Maksud Lo?!"
"Itu...," tunjuk security yang diikuti pandangan mata Gober dan Cima yang berdiri di dekatnya.
Cima sontak memekik dengan satu tangan menutup matanya. "Aaaa...!"
Gober melepaskan tangannya dari Cima, berbalik dan memasukkan benda perkasanya ke tempatnya semula dengan cepat.
"Anjrittt!" maki Gober salah tingkah.
Riuh tawa kembali terdengar di depan Club itu. Gober merasa wajahnya sudah memerah sekarang. Sialan! Dia benar-benar lupa dengan kegiatan memuja bendanya tadi sebelum keluar menyeret Cima dari lantai dansa. Benda kebanggaannya pasti sudah menjadi tontonan orang banyak sejak tadi, pikir Gober.
Cima yang masih menutup matanya sedikit melirik dari antara jari jemarinya, benda panjang dan kenyal itu masih terbayang-bayang dalam pikirannya. Cima mendadak geli sendiri dibuatnya.
"Udah belum, Ka?" tanya Cima belum mau menurunkan tangan.
"Lain kali ditutup dulu baru keluar Bos. Nggak enak sama cewek-cewek jablay diluar sana yang pengen di elus," goda security tadi ikut tertawa geli bersama pengunjung club yang lain.
"Berisik Lo!" Gober berdecak, kembali menyeret Cima yang menutup mata dengan tangan kirinya.
"Jangan pegang-pegang aku, Ka...." rengek Cima jijik mengikuti langkah kaki panjang Gober.
"Apa, sih?! Nggak usah lebay!"
"Ih ... itu, kan bau, Ka...," rengek Cima lagi.
"Nggak ada, punya gue bau pandan. Enak pokoknya, Lo bakal suka sama baunya kalo Lo udah ngerasain." Gober membawa Cima ke mobilnya, memaksa adik sahabatnya itu masuk ke dalam.
"Cepet masuk," perintah Gober.
__ADS_1
Mau tidak mau Cima mengikuti ucapan pria berwajah manis itu diikuti Gober yang sedikit berlari masuk ke mobil pajero-nya, duduk di belakang kemudi.
"Cepet jelasin kenapa kamu bisa ada disini!" Gober menatap Cima yang sontak menunduk takut di sampingnya.
"Nggak ada, Ka. Aku cuma pengen cobain sekali-kali kesini aja," sahut Cima memainkan jarinya gugup.
"Jangan boong, kamu sama siapa aja kesini?!" tanya Gober mulai menginterogasi Cima.
"Sama temen aku, Ka. Tadi mereka ikut goyang juga, kok sama aku."
"Bener?"
"Iya, Ka." Cima masih menunduk, tidak berani menatap Gober yang tengah menatapnya curiga.
"Temen cowok apa cewek?"
"Cewek, Ka."
"Berapa orang?"
"Dua, Ka."
"Bener?"
"Iya, Ka."
Gober memicingkan mata melihat tingkah laku Cima yang sepertinya memang tidak berbohong padanya.
"Lain kali kamu nggak boleh ke tempat kayak gini lagi! Kamu nggak tahu bahayanya tempat ini buat cewek sepolos kamu Cima. Lagian kalo sampe mommy sama daddy kamu tahu, kamu pasti bakal langsung dikurung nggak bisa keluar-keluar rumah lagi. Kamu mau kayak gitu?"
Cima menggeleng. "Nggak mau, Ka. Ka Gober jangan bilang sama Ka Rama, yah? Ka Rama pasti bakal laporin sama mommy dan daddy soal ini," pinta Cima memohon.
Gober diam menatap Cima yang memandangnya dengan pandangan puppy eyes-nya. Jantungnya langsung menggila melihat wajah cantik dengan hidung mancung dan bibir tipis yang menggoda nalurinya sebagai pria dewasa. Cima memang selalu indah dipandang sejak dulu, pikirnya.
"Ok, aku nggak bakal ngasih tahu kakak kamu soal ini. Tapi sebagai gantinya ... kamu harus temenin aku selama sebulan ini kemanapun aku pergi."
.
.
.
.
.
.
.
Aduh, emang nggak ngerasain itu benda kesana kemari? 🤣
Dan, yah ...
namanya biji tetep aja biji, maunya ngambil kesempatan dalam kesempitan 🤭😆
__ADS_1
Cek story' IG author @adamvanda untuk visual Gober