
"Semuanya udah belum, Cob?"
"Udah, Ma ... ini udah keberapa kalinya Mama nanya gitu mulu daritadi sama aku."
Manis berdecak, memasukkan baju terakhir anaknya ke dalam koper. "Emang Mama nggak boleh nanya-nanya lagi sama kamu, yah sekarang? Udah gede jadi males gitu kalo Mama nanyain...," sahut wanita paruh baya itu merajuk.
"Yah bukan gitu juga kali, Ma. Ish, Mama nih gini nih kalo aku mau pergi kemana-mana bawaannya selalu rusuhin aku kayak gini. Bikin aku serba salah sendiri tahu nggak!" ujar Jacob kesal.
"Ya makanya kalo Mama nanya jawabnya jangan begitu, dong. Mama juga, kan bakal kangen sama anak Mama yang udah gede ini. Pasti nanti di sana kamu lebih sibuk ngurusin perusahaan dibanding ngangkat telpon Mama."
"Ya ampun, Ma. Kalo aku emang beneran sibuk nggak mungkin juga, dong aku angkat telpon Mama...," sahut Jacob frustasi. "Udah, ih ... pasti abis ini Mama langsung nangis kalo aku masih nanggepin ucapan Mama lagi," sambung Jacob beranjak dari atas ranjangnya.
"Ck, emang susah kalo cuma punya anak cowok. Nggak peka!" sahut Manis menyiratkan banyak arti.
Buru-buru Jacob berbalik, menatap ibunya yang tertunduk menatap kosong koper di depannya.
Jacob tahu wanita yang telah melahirkannya itu memang kadang lebay akan sesuatu dan pasti akan menangis sebentar lagi.
"Mama, kok ngomongnya gitu, sih? Trus Jacob mesti gimana, Ma? Jacob disini aja gitu nemenin Mama dan nggak usah ke Jerman?" tanya Jacob putus asa.
Manis seketika menggeleng, mengangkat wajahnya menatap anak semata wayangnya penuh cinta.
"Bukan gitu, Cob. Mama cuma pasti bakal kangen banget sama kamu. Kamu tahu, kan selama ini Mama selalu nggak rela kamu jauh-jauh dari Mama? Mama pasti bakal lebih kesepian dirumah kalo kamu nggak ada, Cob."
Manik mata coklat tua Manis mulai memerah. Membayangkan anaknya akan pergi jauh untuk pertama kalinya membuat hati Manis tidak tenang.
Mungkin begini dulu perasaan ibunya saat Manis mengatakan akan pergi merantau ke Jakarta mencari pekerjaan. Ternyata melepaskan seorang anak pergi dari sisi kita tidak semudah membalikkan telapak tangan, pikirnya.
Jacob yang putus asa terlihat menghembuskan nafas panjang. Dia pun mengambil tangan Manis, menggenggamnya dengan kuat.
"Mama, kan kalo kangen aku bisa langsung telpon ato terbang ke Jerman kunjungin aku. Aku nggak kemana-mana, kok. Aku masih punya Mama, anak Mama yang Mama jaga dan rawat sampe segede ini. Kita masih sama-sama cuman tempat dan waktunya aja yang berbeda." Jacob mengusap punggung tangan Manis, membalas tatapan penuh cinta ibunya.
"Mama nggak usah khawatir, Mama cuma perlu doain aku di sana biar selalu sehat dan sukses dan juga nggak akan bikin Grandpa ataupun Papa kecewa nantinya sama aku...," sambung Jacob berusaha memberi ketenangan dihati Manis.
Wanita yang mulai menitikkan air mata tersenyum sembari menganggukkan kepala. Manis tahu dia memang tidak boleh egois dan menahan Jacob untuk terus didekatnya.
__ADS_1
Ada saatnya anak-anak kita akan pergi meninggalkan kita. Entah itu mengejar cita-cita, menikah, ataupun tuntutan pekerjaan seperti yang dialami Jacob saat ini. Manis memang hanya bisa terus mendoakan anaknya agar selalu bahagia di luar sana tanpa ada dirinya di samping Jacob.
"Udah, jangan nangis lagi, Ma. Nanti kalo Papa liat dikira aku yang nyakitin Mama lagi...." Jacob mengusap pipi Manis lembut, membujuk ibunya agar berhenti menangis.
"Siapa yang nangis?" Mike tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, melihat pemandangan istri dan anaknya yang ternyata sudah sangat dewasa.
Sejak tadi Mike mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang yang sangat berharga dihidupnya. Pria blasteran itu masuk, mendekati Manis yang masih terisak disamping Jacob.
"Kamu bikin istri Papa nangis lagi, Cob?" ucap Mike berpura-pura tidak tahu.
"Enggak, kok, Pa. Tadi Mama sendiri yang nangis. Mama baper karena besok pagi-pagi aku udah berangkat," sahut Jacob tidak mau disalahkan.
"Iya, Mike. Tadi aku yang nangis sendiri karena inget aku bakalan kesepian dirumah kalo Jacob pergi," timpal Manis membela anaknya.
Mike memicingkan mata, masih dalam mode akting tidak tahunya. "Bener bukan karena dibikin sakit hati sama penerus biji aku ini?"
"Iya ... ish mulut kamu emang." Manis menggelengkan kepala, mengusap sudut matanya yang masih berair.
"Yaudah, kalo gitu. Ngapain kamu sedih? Kan, masih ada aku disini, Nis."
"Iya, iya ... ibu emang selalu paling sayang sama anak dimana-mana dibanding ayahnya. Aku juga pasti porsinya bakal beda kalo aku nanya sama kamu, kan? Pasti lebih gede porsinya Jacob daripada aku...," ucap Mike malas.
"Udah tahu ngapain nanya. Udah sana, aku mau nyelesein nge-pack bajunya Jacob dulu." Manis mendorong tubuh Mike yang bersandar di punggungnya.
"Aku juga, kan mau diperhatiin, Nis bukan cuma Jacob, doang. Udah seminggu, loh kamu cuekin aku. Kasian biji aku, Nis...," sahut Mike memelas, tidak peduli dengan Jacob yang masih berada di sana.
"Ish, aku masih ada disini, Pa. Ngomongnya yang bener dikit, dong!" protes Jacob beranjak dari dekat orang tuanya.
"Lah, ngapain kamu yang kesel?! Kalo nggak mau liat Mama Papa mesra-mesraan yaudah sana jauh-jauh! Ato nikah sana biar ada yang ngurusin, jangan taunya ngerepotin istri Papa mulu dari kecil. Udah setua itu masih aja belum nikah!" sinis Mike menatap remeh anak laki-lakinya.
"Terserah Papa mau ngomong apa yang pasti aku belum mau nikah! Aku masih pengen bebas cari betina berbau pandan kayak Papa dulu!" sahut Jacob yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Mike.
Pria itu dengan cepat berlari keluar dari kamar sebelum Mike menendang tulang keringnya seperti biasa setiap kali dia berbuat salah.
"Dasar anak nggak punya sopan santun!" pekik Mike kesal menatap anaknya yang menghilang dibalik pintu.
__ADS_1
"Nggak usah teriak-teriak begitu Mike, mo gimanapun Jacob, dia itu bibit kamu juga!" Manis tertawa geli mengingat bagaimana ayah dan anak itu kadang tidak pernah akur hanya karena masalah kecil sejak dulu.
"Makanya aku cuma minta satu waktu lalu, kan sama kamu. Bayangin aja kalo ada tiga ato lima yang modelnya kayak Jacob begitu? Bisa mati berdiri aku, Nis."
"Halah, inialesan kamu aja itu! Emang maunya kamu, kan nggak mau banyak anak biar cuma bisa milikin aku seorang! Dasar biji egois! Sekarang anak aku cuma satu dan dia bakal pergi ninggalin aku sendiri disini. Hidup aku pasti makin kesepian kalo dia nggak ada...!" sahut Manis dengan wajah kembali menyendu.
Mike tersenyum, melingkarkan tangannya di pinggang Manis dengan kepalanya berada di ceruk leher Manis.
"Kan, ada aku, Nis. Kalo Jacob udah resmi gantiin posisi daddy sama aku diperusahaan. Aku tinggal ngurusin kamu sama usaha pakaian kita. Aku janji bakal selalu temenin kamu dirumah dan di ranjang, deh abis ini."
Manis memutar mata malas mencubit lengan Mike yang melingkar di perutnya. "Ranjang aja pikiran kamu! Sadar umur Mike, pinggang kamu udah sering keseleo sekarang," sahutnya mengingatkan.
"Kalo soal itu nggak usah khawatir, Nis. Kan, ada koyo sama kamu yang bisa mijitin aku abis itu...." Mike terkekeh mencium gemas ceruk leher wanitanya.
"Main disini, yuk...," sambungnya menaikkan tangan meremass dada Manis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kita memori-memori dulu sama pasangan Mike dan Manis, yah part ini 😁
__ADS_1