
"Pak...."
"Hmm."
"Lusa keluarga Pak Cokro tiba di Milan, Pak."
"Trus?"
"Ya nggak pa-pa, Pak. Cuma mau ngasih tahu aja ini waktu yang tepat kalo Pak Rama mau ketemu beliau," sahut Bora memberitahukan maksud dan tujuannya mengatakan hal tersebut.
Rama diam, masih membaca laporan hasil pergerakan saham mereka seminggu ini. Rama masih belum mau diganggu sampai pekerjaannya mengecek kurva dan angka-angka di atas kertas itu selesai.
"Oh yah, Pak. Bapak nggak ada rencana gitu buat besok?" tanya Bora lagi berdiri di depan meja kerja atasannya.
"Kenapa emangnya?"
"Besok, kan hari Valentine, Pak. Aku pikir Pak Rama udah punya rencana sama Bu Mulan." ucap pria berkacamata itu tersenyum tipis.
Perhatian Rama sontak teralihkan begitu mendengar perkataan asistennya yang terakhir. Dia mendongak, meletakkan berkas pekerjaannya di atas meja.
"Sejak kapan Lo ngomong nggak sopan begitu sama gue?" sentak Rama menatap tajam Bora.
"Eh ... maaf, Pak. Aku tidak sengaja," sahut Bora kembali berbicara formal.
Rama seketika tertawa terbahak, mengatur duduknya dengan nyaman di kursi kebesarannya.
"Gue cuma becanda kali, Bor." ucap Rama santai. "Nggak pa-pa lagi Lo ngomong begitu sama gue. Gue justru seneng Lo sekarang keliatan lebih manusia dibanding jaman kerja sama bokap gue dulu. Mulai sekarang Lo ngomong pake bahasa manusia aja sama gue, Bor." sambung pria itu meledek asistennya.
Bora mendengus dengan wajah yang kesal, kalau dulunya dia bukan manusia lalu apa dia sekarang? Siluman jadi-jadian? Ada-ada saja pria ini pikirnya.
"Dan buat besok, gue mau Lo nyewa kapal pesiar buat gue sama Mulan pake tiga hari dua malem," ucap Rama lagi memberi perintah.
Bora langsung membola dengan wajah berubah tidak percaya. "Kapal pesiar, Pak?" tanyanya memastikan.
"Iya, gue mau Lo nyari kapal yang bener-bener privasi dan tentunya mewah. Kalo bisa di kapal cuman ada kapten sama beberapa pelayan, doang. Gue nggak mau ada banyak orang di dalam kapal trus gangguin quality time gue sama Mulan."
Bora mengangguk mengerti, sepertinya Rama akan menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pendekatan dengan nyonya bosnya.
Dia yakin Rama pasti sudah punya perasaan dengan Mulan, jika tidak kemarin saat Mulan mengajaknya makan pria itu tidak akan menatapnya dengan tatapan kesal dan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kalo gitu aku permisi dulu, Pak. Aku takut kapal yang Bapak minta nggak ada, soalnya--" melihat jam ditangannya-- "Ini udah jam tiga sore, Pak. Mudah-mudahan semua kapal pesiar terbaik di kota ini nggak di booking sama orang kaya yang lain," ucap Bora meminta izin.
"Pokoknya gue nggak mau denger alasan begitu yah, Bor. Lo harus dapet kapal pesiar yang gue minta gimana pun caranya! Awas aja kalo Lo berani nggak dapet!" ancam Rama sebelum Bora keluar meninggalkannya.
Bayangan malam indah ditengah laut lepas dengan hembusan angin laut menari-nari dipikiran Rama. Mereka pasti akan melewati malam-malam yang sangat romantis dan menyenangkan pikirnya.
Rama senyum-senyum sendiri membayangkan dia akan memeluk istrinya berhari-hari di atas kapal yang tengah berlayar tanpa diganggu oleh siapapun.
__ADS_1
Rama sampai membayangkan dirinya yang bercinta dengan Mulan hingga tubuh mereka sama-sama kelelahan karenanya. Rama merasa jantungnya berdebar tidak karuan membayangkan tubuh polos Mulan tengah mengerangg nikmat dibawahnya.
"Ra...!" Suara seorang wanita mengagetkan Rama yang tengah larut dengan pikiran liarnya sendiri.
Pria itu seketika berjengkit, berteriak kaget diatas kursi kebesarannya. "Aaaa...!" pekik Rama menutup mulut.
"Apa, sih teriak-teriak begitu, Ra?!" ucap Mulan ikut kaget mendengar suara suaminya.
"Lo ngapain disini? Tadi, kan gue cuma bayangin elo, Lan?"
Mulan mengernyit bingung. "Bayangin? Bayangin apaan maksud Lo?" tanyanya tidak mengerti.
"Tadi gue...." Rama tidak meneruskan ucapannya, berdehem dan mengatur duduknya kembali seperti biasa.
"Nggak pa-pa, Lo ngapain kesini?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan, dengan raut wajah yang seketika berubah seratus persen.
Jangan sampai wanita yang tengah menatapnya bingung ini tahu tentang apa yang baru saja dia bayangkan dan pikirkan tentangnya.
Mulan berdecak, meletakkan sebuah kotak berukuran sedang diatas meja kerja Rama. "Gue anterin ini, tadi Lo minta dibawain makan siang, kan? Ini gue bawa pesenan Lo."
Rama menatap sekotak makan siang berwarna biru muda dengan gambar Doraemon di atasnya. Bentuknya yang lucu menggambarkan Mulan seperti sedang membawa bekal untuk anak berusia lima tahun.
"Ini makan siang gue?" Mulan mengangguk.
"Lo becanda, kan?" Mulan menggeleng.
"Ck, dirumah gak ada kotak bekal, Ra. Ini aja gue cuman pesen online tadi. Mereka kayaknya salah masukin kotak yang gue pesen, nggak ada waktu lagi kalo gue mau protes ke mereka. Daripada mubazir yaudah gue pake aja...," sahut Mulan beralasan.
Dirinya yang mulai diajarkan Rama menggunakan aplikasi belanja online sampai hal-hal menyangkut segala macam benda elektronik, memudahkan Mulan memesan apa saja yang dia butuhkan.
Untuk pertama kalinya Mulan menggunakan aplikasi belanja online-nya dari ponsel mahal yang ikut diberikan Rama padanya.
Mulan pun membuka kotak makan siang Rama dengan wajah yang datar. Sudah capek-capek masak dan naik Uber kesini nyatanya tidak membuat pria di depannya ini berterima kasih, kesalnya dalam hati.
Makanan yang terbilang sederhana itu tampak menggugah selera Rama ketika hidung mancungnya mencium aroma masakan yang enak.
Rama dengan antusias mulai mengambil peralatan makan yang ikut dibawa Mulan, mencicipinya dengan tidak sabar.
"Enak, Lan...," ucapnya dengan mulut yang penuh makanan.
"Nggak boleh ngomong kalo lagi makan!" tegur Mulan membuka botol minuman untuk suaminya.
"Lo udah makan belum?" tanya Rama tidak peduli.
"Lo duluan aja, gue masih kenyang."
Rama berdecak, menarik tangan Mulan yang berdiri disampingnya, membawanya duduk di atas pangkuan dia.
__ADS_1
"Apa-apaan, sih, Ra!" kesal Mulan kaget dengan kelakuan suaminya.
"Duduk dulu, Lo pasti udah capek, kan? Kita makan sama-sama aja disini."
"Tapi, kan nggak perlu pangku-pangkuan kayak gini juga, Ra. Gue duduk di sana aja," risih Mulan mencoba beranjak dari pangkuan Rama.
"Nggak usah, disini aja udah," tahan Rama menarik istrinya kembali duduk di pangkuannya.
"Buka mulut Lo," sambungnya menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Mulan.
"Ih apa sih, Ra. Lo aja yang makan duluan, gue masih kenyang...," tolak Mulan manja.
"Jangan ngebantah apa kata suami. Katanya mau belajar buka hati, ayo buka mulutnya...," pinta Rama kembali mendekatkan sendok ke mulut Mulan.
Mau tidak mau wanita berambut panjang itu membuka mulutnya lebar, mengikuti apa kata Rama.
Pria bertubuh atletis itu seketika tersenyum sumringah dengan hati yang membuncah melihat Mulan langsung patuh padanya begitu dia berkata belajar membuka hati. Sepertinya Mulan juga serius ingin belajar menerima dan mencintai dirinya apa adanya.
"Gitu dong, kalo gini, kan enak...," kekeh Rama ikut menyuapi dirinya sendiri.
Mulan mendengus menguyah makanannya dengan cepat. "Udah, ih. Nanti kalo ada yang masuk gimana. Malu tau, Ra...," manja Mulan lagi.
"Ngapain malu sih, kan elo bini gue, Lan. Udah disini aja temenin gue sampe abis makan. Gue kangen mau peluk elo kayak gini." Rama melingkarkan tangannya ke pinggang Mulan dengan satu tangan asik mencicipi makan siang buatan istrinya.
Semua makanan yang dimasakkan Mulan untuknya memang sangat lezat. Rama yakin anak-anak mereka nanti tidak akan ada yang kelaparan jika ibunya sangat pandai memasak seperti ini.
Tunggu, anak?
Astaga ... belum apa-apa gue udah pikirin anak? Hadeh, pecah gawang aja belum, gimana mau punya anak? Rama tersenyum geli sendiri dalam hati merencanakan sesuatu di pikirannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Up Double, yah khusus hari ini
__ADS_1
Stay tuned 🤗