Touch My Body

Touch My Body
Gotcha!


__ADS_3

"Pak!"


"Hmm?"


"Ini udah jam sepuluh."


"Terus?"


"Kita pulang aja yah, Pak? Ibu tua itu pasti nggak bakal dateng."


Rama berdecak, duduk dengan gelisah di kamar hotel sambil meneguk whisky di tangan.


"Udah gue bilang tunggu, Bor. Lo nggak denger apa kata gue daritadi?!" kesal pria bertubuh atletis itu meletakkan gelasnya ke atas meja, kasar.


"Percaya aja sama gue, dia pasti bakal dateng. Kecuali kalo elo yang nggak bener godain si ibu tua itu kemaren!" sambung Rama menekan kata goda.


Bora terdengar menghembuskan nafas panjang dari earphone yang keduanya pakai. Misi mereka malam ini adalah mendapatkan sesuatu yang mereka butuhkan dari Wati, ibu tiri Mulan.


Wanita berumur itu memang belum juga terlihat hingga jarum jam sudah menunjukkan diangka hampir setengah sepuluh malam.


Pasangan Bos dan asistennya sudah sama-sama resah dan gelisah karena Wati tidak kunjung datang sampai anak buah mereka yang lain memberitahukan kedatangan sebuah mobil BMW hitam di area parkiran basment hotel.


"Dia ibu tua itu, Bos...," ucap salah satu anak buah Rama yang berjaga di lantai satu hotel.


Bora sontak beranjak dari duduknya, bersiap dengan hati yang gugup begitu mendengarnya. Seumur hidup, Ini pertama kalinya dia melakukan hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan hanya diminta oleh anak atasannya.


Sampai saat ini dia tidak menyangka kenapa dia mau saja melakukan perbuatan diluar perikemanusiaannya sebagai pria dewasa pecinta nona muda, dan bukan ibu-ibu tua seperti neneknya.


"Bor! Lo denger, kan apa kata Darco? Udah siap-siap belum Lo?"


"Udah, Pak. Udah dari tadi malah," sahut Bora tidak semangat.


"Inget, yah ... jangan bikin dia curiga. Lo harus bertingkah kalo Lo bener suka sama tuh ibu tua. Pastiin Lo dapetin apa yang gue minta dari dia!"


"Iya, iya, Pak. Doain aja biar aku kuat dan nggak muntah pas pegang ato cium-cium tuh ibu tua."


Rama tertawa tertahan, berdehem agar tidak membuat asistennya kesal. Hanya Bora yang bisa dia andalkan saat ini, rencana mereka harus berjalan lancar setidaknya sampai apa yang dia cari dari Wati berhasil mereka dapatkan.


"Yaudah, gue doain abis ini Lo bisa dapet jodoh biar nggak kebayang-bayang kulit keriputnya si ibu tua yah, Bor...."


Bora mendengus, membuka dua buah kancing kemejanya sebelum Wati keluar dari lift yang tengah naik menuju lantai kamar yang Rama sewa.


Darco sudah memberitahukan kalau wanita itu telah masuk ke dalam lift dan sedang menuju padanya. Bora semakin gelisah mencari cara duduk di sofa yang terkesan dingin dan kharismatik.

__ADS_1


"Dia udah di depan pintu, Bor." Rama berucap saat melihat ibu mertuanya dari cctv hotel yang mereka retas.


Pria itu berada di kamar yang lain tepat bersebelahan dengan kamar di mana asistennya berada.


Buru-buru Bora beranjak pergi membuka pintu kamar dengan tangan yang tidak lupa mengusap rambutnya, untuk memberikan kesan berantakan namun tampan.


"Hai...," ucapnya menyambut wanita yang memakai syal menutupi wajahnya.


Wati masuk tanpa membalas sapaan Bora tidak ingin ada yang melihat kedatangan dia kesana.


Dari ujung earphone yang Bora pakai, Rama masih sempat memberi semangat untuk asistennya sebelum dia menutup pintu dengan pelan.


Wati berdiri membelakangi Bora, meremas syal yang dia pakai dengan dada yang berdebar tidak karuan. Bora merasa ini waktu yang tepat untuk mendekati wanita itu sebelum rencana mereka akan semakin lama dimulai. Tangan kekarnya perlahan merangkul pinggang kecil Wati, mendekap wanita itu dari belakang.


"Terima kasih sudah menemuiku disini Lady...," bisik Bora memulai aktingnya.


Wati menghembuskan nafas panjang memejamkan mata menikmati sapuan tangan kekar Bora di perutnya.


Pria itu mencumbu ceruk leher Wati, mulai memberi sentuhan-sentuhan sensitif ditubuhnya. Wati merasa ini adalah sesuatu yang baru, wanita itu masih ragu untuk memulai pergulatan bersama pria asing yang baru saja dia temui dua hari yang lalu.


Wati melepaskan tangan Bora, maju dan berbalik menatap pria yang memang sangat tampan dan muda di depannya.


"Kenapa?" tanya Bora berpura-pura tidak rela.


Bora tersenyum tipis merasa rencana pertamanya berjalan dengan sukses.


"Kamu mau wine? Aku hanya punya itu...," ucapnya mendekati Wati lagi.


"Boleh ... aku hanya butuh menenangkan diriku dulu."


"Tidak perlu gugup Lady, kita disini untuk bersenang-senang. Kamu akan sangat bahagia saat pulang dari sini." Bora membuka mantel panjang Wati sebelum dia menariknya duduk di atas pangkuannya.


"A-apa yang kamu—"


"Ssttt...." Tangan Bora menutup bibir Wati, melakukan hal yang sama pada saat mereka berada di toilet restoran.


"Kamu butuh minum, kan? Posisi begini akan membuatmu lebih rileks." Bora tersenyum, mengambil segelas wine yang sudah dia siapkan sejak tadi di atas meja samping kanannya.


"Ini, minum ini agar kamu bisa lebih rileks dan menikmati malam panas kita sebentar lagi." Wati menerima gelas berisi minuman memabukkan berwarna merah dari tangan Bora.


Keduanya sempat bersulang sebelum Wati meneguk minumannya sampai tandas. Dia memang membutuhkan alkohol. Minuman ini akan membuatnya lebih percaya diri dan berani, pikirnya.


Rama tersenyum puas mendengar pembicaraan keduanya dari earphone yang masih dipakai Bora di telinganya. Sebentar lagi obat yang mereka campurkan ke dalam minuman yang Wati minum akan segera beraksi.

__ADS_1


Kesempatan sebaik ini akan digunakan mereka untuk mengambil informasi dari wanita yang telah banyak membuat luka pada istrinya sejak kecil.


"Bagaimana, kamu sudah lebih tenang Lady?" tanya Bora mengusap paha Wati.


Wanita yang hanya memakai terusan sebatas pahanya sengaja berpakaian seksi dan menarik seperti yang diminta Bora kemarin. Wati sampai sempat ke salon demi memuaskan pria yang berkata menginginkannya.


"Iya, terima kasih. Aku memang membutuhkan alkohol dan pria muda saat ini...," sahut Wati mulai merasa hatinya lebih tenang.


Bora tertawa, masih mengusap paha wanita itu. "Baiklah, gaya apa yang kamu suka?"


"Gaya?"


"Ya ... kamu menginginkan hal yang indah di atas ranjang, bukan? Aku bisa memberikannya untukmu."


Wati tersenyum, tersipu malu mendengar ucapan blak-blakan Bora. Dia merasa kembali muda dengan percikan hasratt yang menggebu-gebu.


Wati mulai berani mengusap dada Bora yang terlihat bidang dari dua kancing kemejanya yang terbuka, mendekat dan berbisik sensuall di telinga Bora.


"Aku hanya mau kamu bermain diatasku sampai pagi!" ucapnya penuh nafsuu.


Sepertinya obat yang dicampurkan mereka mulai bereaksi, Wati duduk dengan tidak tenang diatas Bora dengan tangan mulai menjalar kesana kemari.


Bora mendengus, menahan tangan Wati dan mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga....


Wati pingsan di dadanya.


"Gotcha...!" Rama memekik senang dari balik earphone yang Bora pakai.


"Aku udah selesai, Pak. Selanjutnya tinggal urusan Bapak!" Bora beranjak, melemparkan tubuh Wati ke atas ranjang dengan kasar dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk berendam kembang tujuh rupa.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Rada-rada geli, yah guys 🤭😆


__ADS_2