
"Mulan, kesini Sayang...."
Wanita yang memakai dress panjang berwarna merah dengan bahu yang polos hasil rancangan Amanda mertuanya, datang mendekati sekawanan ibu-ibu seumuran dengan Amanda.
Ada tiga orang wanita berpakaian sangat cantik dengan wajah yang mulus dan body yang bisa dibilang masih terlihat seperti gadis seusianya.
Sejak tadi Mulan memperhatikan bagaimana wanita-wanita itu tertawa dan berkumpul dengan heboh disini.
"Nah, jeng-jeng ... ini menantu cantik aku, namanya Mulan." Amanda mulai memperkenalkan Mulan pada tiga wanita yang lain.
"Wih, Rama tahu aja yang bening-bening begini...," goda Celin.
"Samalah kayak Bapaknya," sambung Manis.
"Iya bener, maunya yang bening dan seksi!" Mawar ikut menambahkan.
"Bisa aja kalian...." timpal Amanda.
Mulan yang dipuji hanya bisa tersenyum, menunjukkan gigi putihnya malu-malu. Sayangnya pernikahan mereka bukan karena atas dasar cinta.
Jika saja karena itu, mungkin Mulan akan jadi wanita paling berbahagia di dunia. Apalagi melihat Rama yang tampak gagah dan menawan di depan sana, Mulan yakin wanita yang mencintainya pasti akan sangat bangga menunjukkan pria seperti Rama.
Ah, kenapa gue jadi malah muji dia? Pikiran gue pasti ikut korslet semenjak kenal sama cowok mesumm kayak Rama, gumam Mulan membuang jauh-jauh pikiran tidak benarnya.
"Eh, tapi tadi aku liat Rama jalannya aneh, deh? Emang tadi abis gaya apa, Lan?" Celin tiba-tiba bersuara menatapnya, membuat Mulan salah tingkah.
"Ish, mau tau aja kamu urusan orang!" sahut Manis lebih dulu.
"Ya, kali aja ada gaya baru yang kita nggak tahu, kan...," goda Celin makin membuat Mulan malu.
"Udah, udah ... jangan bikin menantu aku nggak nyaman. Ngomongnya emang nggak pernah bener dari dulu!" sela Amanda menengahi pembicaraan tidak berfaedah keduanya.
"Nggak bener gimana, sih, Manda ... ini juga pelajaran yang baik buat pasangan baru kayak menantu kamu. Pahala tahu nyenengin suami luar dalem."
"Ck, udah nggak usah bahas itu lagi. Kamu sama Donal emang demen nyobain gaya baru, kan!" sahut Amanda balas menggoda istri sahabat suaminya.
"Lah, kenapa jadi gue, sih. Dasar!" ucap Celin tidak terima.
Keempat wanita yang lain sontak tertawa terbahak melihat wajah kesal Celin. Sejak dulu Celin memang selalu jadi bahan ejekan istri sahabat-sahabat biji itu. Celin yang blak-blakan dengan kehidupan ranjangnya, memang sering membagikan hal-hal yang bisa membuat pendengarnya panas dingin dibuatnya.
Seperti saat ini, Celin masih saja menggoda Mulan yang masih polos belum terjamah sama sekali oleh Rama, suaminya.
__ADS_1
"Udah nggak usah di dengerin apa kata tante Celin, Lan. Dia emang begitu dari dulu." Mawar bersuara.
Pernah bersitegang karena Donal, kini keduanya semakin dekat satu sama lain setelah Mawar menikahi sepupu Donal, Dira.
"Iya, nggak pa-pa Tante. Kayaknya abis ini aku harus belajar banyak dari temen-temennya Mommy," sahut Mulan terdengar meyakinkan.
Amanda sampai tersenyum bahagia mendengar ucapan Mulan. Wanita itu hanya berharap Mulan akan terus menjadi menantunya dan tidak akan kemana-mana setelah ambisi dia selesai.
"Iya, nanti Tante Celin ajarin, deh gaya isepp yang enak buat suami kamu. Dijamin Rama pasti bakal ketagihan minta dimaininn terus sama kamu, Lan," ucap Celin mulai memperagakan hal yang disukainya.
"Astaga...." Kompak teman-teman seumuran Celin bersuara, diikuti tangan-tangan mereka yang langsung memukuli lengan Celin.
"Apa, sih?! Sakit tahu!" ringis Celin mengusap lengannya.
Tawa terbahak kembali lagi terdengar dari perkumpulan wanita-wanita biji itu. Mulan tidak bisa menahan rasa geli dan juga lucunya saat mendengar omongan tanpa filter ibu Gober.
Manik mata cokelat mudanya tidak sengaja menatap Rama yang sepertinya sedang melihat kearahnya sejak tadi.
Mulan sengaja menatap pria yang pasti masih kesakitan itu mengejek, menunjukkan tatapan kemenangannya karena sudah membuat benda berharganya lecet. Mulan tahu Rama pasti sedang menahan kekesalan yang mendalam padanya saat ini.
"Ngomongin apaan, sih sampe rame begitu?" Tari mendekati mereka dengan tongkat di tangan.
"Ngomongin belah duren, Tante." Celin bersuara lebih dulu.
"Astaga ... orang belah duren aja kayaknya penasaran benget. Rasanya tetep samalah, sakit abis itu enak!" sahut Tari tanpa beban.
"Ya ampun, Mom." Amanda menggelengkan kepala.
"Apa? Bener, kan ucapan Mommy...?" sahut Tari lagi, santai.
"Iya bener, kok Tante. Abis itu cuman enak aja yang bakal dirasain, ditambah ketagihan." Celin tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
Wanita-wanita yang jika sudah berkumpul itu akan sangat berisik, membuat perhatian tamu undangan yang lain teralihkan.
Suami-suami mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kehebohan dari sudut ruangan tempat pesta pernikahan Mulan dan Rama diadakan.
"Pasti lagi ngebahas yang nggak bener!" Richard bersuara, duduk di dekat ayahnya Tommy.
"Dari dulu juga, kan begitu, Chad," sahut Tommy meminum minumannya ditangan.
Pria yang kini kemana-mana harus duduk di kursi roda karena terkena stroke beberapa tahun yang lalu, sedang menikmati waktu bersama anak laki-lakinya.
__ADS_1
Mereka sedang membahas sesuatu mengenai Mulan, wanita yang kini sudah menjadi menantu di keluarga Klose.
"Kamu udah hubungi pengacara kita buat ngurus masalah Mulan nggak, Chad?"
"Udah, Dad. Besok Mulan sama Rama bisa pindah ke Itali."
Tommy mengernyit. "Kok, cepet banget, Chad? Mereka nggak bulan madu dulu?"
Richard menggeleng. "Ngapain bulan madu kalo mereka nikah bukan karena cinta, Dad. Daddy ada-ada aja."
"Ya, siapa tahu mereka bakal jatuh cinta, kan abis ini...."
"Kalo itu biar mereka yang rasain sendiri, Dad. Aku nggak mau maksain perasaan mereka. Lagipula selama ini Rama itu nggak pernah serius sama cewek. Aku cuma berharap setelah dia nikah dan ngurus perusahaan di Itali, dia bakal belajar apa itu tanggung jawab. Apalagi dengan kepribadian Mulan yang tegas, Rama pasti bakal bisa berubah jadi lebih baik lagi kedepannya," sahut Richard panjang lebar.
Sebagai orang tua Richard memang membebaskan anak-anaknya memilih kehidupan mereka sendiri. Tapi, kebebasan inilah yang justru membuat Rama terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, bermain-main diluar sana sampai lupa tanggung jawabnya sebagai seorang pria.
Sudah cukup Richard membebaskan Rama bermain lagi diluar dan mengejar sesuatu yang tidak pasti. Richard ingin Rama hanya fokus pada satu tujuan, sembari menggapai cita-citanya sebagai seorang pelukis sama seperti dia.
"Daddy cuma bisa serahin semuanya sama kamu, Chad. Daddy tahu kamu pasti udah mikirin semua dengan baik. Intinya, kalo kamu pengen membantu Mulan balas dendam sama mereka, kamu juga musti siap sama resikonya nanti. Daddy cuma mau kamu jaga dan lindungi keluarga kita, kalo sampe hal itu terjadi."
Richard mengangguk. "Tentu, Dad. Aku bakal berdiri paling depan buat keluarga kita."
Richard tersenyum, dengan segudang rencana di kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Yah, kalo soal ranjang ... Celin udah jagonya 🤭😆
Up, dua yah hari ini khusus pembaca setia author 😁🤗
__ADS_1