
"Tumben Lo berdua kompak banget ngajak gue ketemuan?" Rama menjatuhkan diri, duduk di antara dua sahabat bijinya.
"Ngajaknya siang bolong begini juga, udah kayak ibu-ibu mau arisan aja Lo berdua!" sambung Rama tersenyum geli.
"Ish, Lo, kan tahu bagian malem udah jadi jatahnya ibu-ibu ratu. Mana bisa kita keluar malem sekarang," sahut Jacob lebih dulu.
Gober mengangguk setuju dengan ucapan pria yang sebentar lagi akan menikah juga sama sepertinya. Mereka tengah duduk menikmati siang yang panas di sebuah restoran bintang lima.
Musik lembut terdengar memenuhi ruang restoran yang siang itu cukup sepi dengan meja yang hanya ditempati beberapa pelanggan saja.
Gober dan Jacob kompak memilih restoran tersebut karena tempatnya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka masing-masing.
"Jadi sekarang udah pada sadar kodrat, yah?" cibir Rama pada dua sahabatnya.
"Dulu aja ngata-ngatain gue, sekarang malah kalian yang keliatan kayak tikus basah. Enak, kan kalo udah diborgol?!" sambung Rama menertawakan Jacob dan Gober.
Senang rasanya membalikkan ucapan pria-pria yang dulu selalu meledeknya dengan berkata bucin atau apalah itu. Rama tahu baik Jacob maupun Gober tidak akan bisa membantah ucapannya saat ini.
Terbukti dari keduanya yang hanya bisa berdecak kesal, namun tidak memberi tanggapan apa-apa padanya.
Perkataan Rama memang benar dan membuat Jacob maupun Gober memilih bungkam daripada dipermalukan lagi oleh Rama.
"Oh iya, ngomong-ngomong Lo kapan nikah, Cob? Daddy bilang Lo juga mau nikah, yah?" Rama beralih, fokus menatap Jacob.
Dia memang belum tahu tentang kabar pernikahan sahabatnya yang lain.
"Minggu depan," jawab Jacob singkat.
"What?! Tanggal berapa?" Gober lebih dulu bersuara ikut menatap Jacob.
"Tanggal tujuh belas. Kenapa emangnya?"
"Ya ampun ... itu juga, kan tanggal nikahannya Gober sama Cima, Cob." jawab Rama membola kaget.
"Hah? Beneran?" Gober menganggukkan kepala mengiyakan.
__ADS_1
"Astaga ... kok bisa sama gitu, sih?" sambung Jacob tidak habis pikir.
"Jangan-jangan tempat resepsi kalian juga sama." Rama berucap curiga.
"Eh, emang Lo bikin di mana, Cob?" tanya Gober mulai khawatir.
"Kalo nggak salah di hotel Ritz Carlton kata papi kemaren."
"Astaga...." Gober dan Rama kompak bersuara, menunjukkan wajah tidak percaya yang berbeda.
"Kenapa, sih?! Kok kayak kaget banget gitu?" tanya Jacob tidak mengerti.
"Itu juga tempat yang aku booking, Cob...," sahut Gober seketika lemas.
Suara tawa Rama langsung terdengar diantara tiga pria tampan yang duduk mengelilingi meja restoran. Pelanggan yang duduk tidak jauh dari meja mereka bahkan ikut menatap ke arah ketiganya.
Wajah lemas dan tidak bersemangat tergambar jelas di wajah Gober dan juga Jacob. Pikiran mereka seketika tertuju pada ayah masing-masing mereka.
"Ini pasti kerjaan papi!" keluh keduanya bersamaan.
"Ketawa lagi Lo! Bangkee bener!" Jacob melempar tisue bekas yang dia pakai ke arah Rama, kesal dengan tawa meledek Rama pada mereka.
"Apa, sih?! Suka-suka gue kali mau ketawa apa kagak. Lagian nasib kalian berdua miris banget dinikahin masal kek begitu," ledek Rama masih tertawa menahan perutnya yang mulai sakit.
"Papi Donal sama papi Mike pasti sengaja nikahin kalian ditempat yang sama biar lebih rame kayaknya." Rama terus meledek dua pria yang mendengus kesal di depannya.
Seperti ingin protes tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Jacob dan Gober tidak tahu harus bagaimana mengambil langkah menghentikan rencana gila orang tua mereka.
"Ck, papi sama mami ada-ada aja. Masa mau nikahin anak satu-satunya ditempat yang sama kayak temen anaknya juga. Bikin kesel aja!" Gober menggerutu diikuti Jacob yang duduk di samping kirinya.
"Iya, udah kayak nggak ada tempat dan waktu yang lain aja!" sambung Jacob menumpahkan kekesalan dihatinya.
"Ish, apa masih nggak cukup tiap kali kita ultah selalu dirayain bareng-bareng? Masa sampe nikah harus dibikin bareng juga?! Apa, sih mau mereka...!" Gober menggebrak meja, kesal membayangkan hari bahagianya harus terbagi dengan Jacob.
Mana bisa dia bersikap romantis bersama Cima saat mereka berada satu panggung dengan Jacob? Membayangkan saja sudah membuat Gober geli, apalagi harus mereka lewati bersama. Momen sekali seumur hidupnya pasti akan penuh dengan guyonan diantara dia dan dua sahabatnya yang lain, pikir Gober.
__ADS_1
"Udahlah nggak usah protes lagi Lo berdua. Kalian tinggal tau terima aja masih mau banyak bacott. Anggap aja kalian lagi ulang tahun kek biasa. Bedanya gue yang nggak ikutan berdiri sama kalian di atas pelaminan...." Rama terkekeh, tahu jika hari bahagia dua sahabatnya pasti akan berjalan dengan sangat seru.
Dia tidak sabar menunggu hari itu tiba dan meledek habis keduanya di atas panggung sukacita mereka.
"Ish, Lo nggak bisa apa bantuin gue sama Jacob bilang sama papi buat batalin itu, Ra?! Gue bener-bener nggak mau harus cium-ciuman sepanggung sama Jacob! Geli gue beneran, Ra...," pinta Gober putus asa.
"Udah terima aja kenapa, sih? Emang udah nasib Lo berdua harus kayak gitu, Ber. Terima aja terima. Gue bakal jadi suporter Lo berdua dari kursi vvip." Rama kembali tertawa, menertawakan wajah kedua sahabatnya yang makin kesal mendengar perkataan Rama.
"Dasar biji! Bukannya bantuin malah ngatain kita berdua! Nggak setia kawan Lo!" Jacob menyela, kembali melempar tisue bekas di atas meja pada Rama.
Makan siang yang tadinya ingin dilewati Jacob dan Gober dengan hati yang lebih tenang setelah tidak pernah lagi berkumpul cukup lama, malah membuat keduanya kesal.
Pokoknya begitu sampai di rumah, mereka harus memprotes rencana pernikahan masal mereka berdua Minggu depan.
.
.
.
.
.
.
.
Author minta maaf kalau di beberapa bab cuman dikit, yah guys
author bener-bener sibuk akhir-akhir ini
Jangan bosan-bosan menunggu up yah pecinta biji semua
Terima kasih 🥰
__ADS_1