Touch My Body

Touch My Body
Nasib Bawahan


__ADS_3

"Ra...."


"Apa?"


"Kita nggak usah pegangan tangan aja, yah?"


Rama mengernyit. "Kenapa emang?"


"Aku malu...," sahut Mulan dengan suara yang semakin pelan di akhir kalimat.


"Ngapain malu, sih? Kamu, kan istri aku. Aku udah pegang-pegang yang lain juga kamu nggak pernah ngomong malu tuh sebelumnya," goda Rama.


"Ish, i-itu, kan lain, Ra...," sahut Mulan gelagapan.


"Lain gimana, hm?"


Mulan berdecak kesal dengan wajah memerah. "Udah ih, nggak abis-abis kalo aku masih nanggepin ucapan kamu!"


Rama tertawa, menarik tangan Mulan yang dia genggam menempel di dadanya.


"Yaudah, kalo gitu nggak usah protes lagi aku pegang tangan kamu. Ayo, mobilnya udah dateng," ajak Rama turun dari kapal pesiar yang dia sewa selama tiga hari dua malam.


Keduanya turun melangkah menuju mobil di mana Bora sudah menunggu mereka di sana. Wajah malu-malu yang ditunjukkan istri atasannya meyakinkan Bora kalau Rama pasti sudah berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Itu juga terlihat dari Rama yang terus menggenggam tangan Mulan posesif dengan kepala yang diangkat tinggi ke atas. Pria berkening tebal itu pasti sangat bangga dalam hatinya, batin Bora.


"Selamat datang kembali Pak Rama dan Ibu Mulan," sapa Bora sopan.


"Makasih, Bor. Kita langsung pulang, yah?" ucap Rama membukakan pintu untuk istrinya.


"Baik, Pak." Bora berlari cepat memutari mobil dan gantian membukakan pintu untuk Rama.


Mereka meluncur meninggalkan dermaga dengan kecepatan sedang.


"Pak, nanti sore kita ada pertemuan dengan rekan bisnis kita dari Indonesia." Bora bersuara, memecah keheningan di dalam mobil.


"Jam berapa?"


"Jam lima, Pak. Sepertinya sekalian mau makan malam juga." Rama mengangguk, kembali diam sambil mengusap punggung tangan Mulan.


"Kamu nggak pa-pa, kan aku tinggal bentar?" tanya Rama pada istrinya.


"Nggak pa-pa...," jawab Mulan singkat.

__ADS_1


"Jawabnya jangan singkat-singkat begitu, dong Sweety. Aku jadi ragu tahu mau ninggalin kamu apa enggak." Bora refleks terbatuk, duduk dikursi belakang kemudi.


Mendengar atasannya memanggil Mulan dengan sebutan Sweety membuat pria berkacamata itu geli sendiri dalam hati.


"Kenapa Lo, hah?!" sentak Rama menendang kursi di depannya.


"Ng-nggak, Pak. Tenggorakan aku tiba-tiba gatal...," sahut Bora beralasan.


Rama berdecih, kembali menatap istrinya. "Bener kamu nggak pa-pa aku tinggal bentar, Sweety?" tanya Rama lagi memastikan.


"Iya, nggak pa-pa. Kamu, kan kerja masa aku harus ikut juga sama kamu," sahut Mulan apa adanya.


Sebenernya, sih bisa aja kamu ikut. Tapi ini bukan waktu yang tepat, Lan ... gumam Rama dalam hati.


"Yaudah, sini deketan lagi." Rama menarik Mulan semakin menempel padanya.


"Jangan jauh-jauh, nanti aku kangen...," sambung Rama sengaja menggombali wanitanya.


Bora kembali terbatuk, berusaha menahan tawa agar tidak keluar disaat yang tidak tepat. Ini pertama kalinya Bora mendengarkan anak atasannya berbicara sangat manis begitu pada wanita. Rama seperti bukan pria yang dia kenal saja, pikirnya.


Mendengar suara batuk Bora lagi, Rama mendengus, menatap asistennya dari kaca spion samping kemudi dengan kaki yang kembali menendang kursinya. Dia tahu Bora pasti sengaja mengolok-oloknya sekarang.


"Sekali lagi Lo batuk-batuk begitu, Bor. Gue turunin Lo dijalan!" ancam Rama yang langsung mendapatkan cubitan dari Mulan.


Bora merasa tawanya akan semakin meledak sekarang, apalagi melihat tingkah atasannya yang selalu galak padanya selama ini membuat Bora tidak percaya seorang Rama bisa juga bucin dan bertingkah konyol seperti ini.


"Ngomong yang lembut dikit, Ra...," ucap Mulan sedikit berbisik.


"Yah Bora yang lebih dulu, kok aku yang kena cubitan, sih?! Harusnya Bora, tuh yang kamu cubit!" protes Rama tidak terima disalahkan.


"Ish, malu-maluin aja kamu!" kesal Mulan kembali mencubit lengan suaminya.


Rama yang tidak terima, menahan kedua tangan Mulan, maju dan menyandarkan wanita itu ke jok mobil dan mencium bibirnya tanpa peduli Bora yang masih menatap tingkah pasangan suami istri itu dari kaca spion samping kemudinya.


Kaget dengan pemandangan di belakang sana, Bora refleks menginjak rem mobil hingga Rama jatuh terlempar ke kursi depan.


"Aduh...!" pekik Rama memegang kepalanya yang berdenyut seketika.


"Astaga ... maafin aku, Pak." Cepat-cepat Bora membantu Rama beranjak, duduk kembali ke kursi belakang samping Mulan.


"Kamu nggak pa-pa, Ra?" tanya Mulan khawatir. "Mana yang sakit?" tanyanya lagi mengamati tubuh suaminya.


"Taii ... mau gue pecat Lo, Bor!" marah Rama memegang kepalanya

__ADS_1


"Sakit banget ini Sweety...," tunjuk Rama pada kepala bagian atasnya.


"Kamu kenapa sih, Bor? Kok ngerem mendadak begitu?" Mulan ikut marah-marah pada asisten suaminya yang tertunduk merasa bersalah.


"Maaf, Bu. Tadi ada kucing yang tiba-tiba menyebrang," bohong Bora.


Tidak mungkin dia berkata jujur, Rama pasti akan langsung menendangnya turun dari mobil saat ini.


"Ya ampun ... lain kali bawa mobilnya hati-hati, Bor. Untung aja Rama nggak apa-apa, kalo dia kejedot trus lupa ingatan gimana?" Mulan masih terus menceramahi pria berkacamata itu dengan tangan yang masih memijit-mijit lembut kepala Rama.


Pria yang dibela oleh Mulan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dalam hati. Perasaannya tidak pernah seberbunga ini diperhatikan oleh wanita. Sesekali Rama sengaja merintih di samping Mulan untuk terus menarik perhatian wanita yang tampak sangat khawatir padanya.


"Masih sakit?"


"Iya, Ty...," manja Rama.


"Yaudah, sini rebahan dulu. Kepalanya sandarin di paha aku." Rama mengangguk cepat, buru-buru menjatuhkan kepalanya di paha istrinya.


Pria itu merangkul pinggang Mulan dengan tubuh menghadap perut ratanya dan kedua kaki yang ditekuk ke dalam. Seperti anak kecil yang tengah tidur di pangkuan ibunya, Rama merasa sapuan lembut tangan Mulan di kepalanya dengan bantal paha yang empuk mengingatkannya pada perlakuan Amanda saat dia masih kecil dulu.


Hangat dan nyaman, Rama akhirnya bisa merasakan hal seperti ini lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Hati pria itu menghangat dengan rasa bahagia memenuhi hati dan pikirannya.


Dari kursi depan Bora berdecih kesal dalam hati. Harusnya dia menyuruh orang lain saja yang menjemput mereka berdua daripada melihat kemesraan yang ditunjukkan pasangan suami istri itu.


Ah ... nasib bawahan tanpa adanya pacar membuat perjalanan menuju rumah atasannya terasa sangat lama dan mengesalkan. Bora bisa mendengar suara-suara aneh diikuti bunyi kecapan yang bergantian dengan tawa kecil dari keduanya di belakang sana.


Bora lagi-lagi hanya bisa mendengus, berusaha menulikan pendengarannya sendiri dari godaan-godaan berbahaya yang membuat jiwa jomblonya meronta.


.


.


.


.


.


.


.


Ada yang mau daftar pengen temenin Bora nggak? 🤭😆

__ADS_1


__ADS_2