
Pecinta biji ...
Selama bulan puasa author bakal up malam, yah
Karena ini cerita 21++ jadi usahakan untuk semua pembaca yang berpuasa, membaca novel ini setelah berbuka atau sebelum sahur demi kenyamanan kita bersama ...
Jadi nanti kalau ada part manis atau main jangan protes lagi sama author, yah 😁
Selamat berpuasa untuk yang berpuasa 🥰
----------------------------------------------------------------
"Sayang...." Mulan mengerjapkan mata berulang saat mendengar suara pria yang sangat dia kenal.
Rama duduk di samping ranjang dengan wajah khawatir namun juga bersyukur dalam hati. Mulan mulai membuka mata perlahan seiring rasa lega dihatinya.
"Yang, ini aku Yang," ucap Rama lagi.
Mulan mengalihkan pandangannya ke arah Rama dengan kepala yang terasa berat.
"Ra...," lirih Mulan.
"Iya, Yang. Ini aku." Rama mengambil tangan Mulan, mengusap punggung tangannya sebelum menggenggamnya.
"Sakit, Ra."
"Yang mana, yang mana yang sakit?" tanya pria berkening lebat itu panik.
"Tangan aku."
"Tangan?"
__ADS_1
"Iya, tangan aku sakit banget kamu remass kuat kek gini," keluh Mulan merasa tangan kirinya ikut berdenyut nyeri.
"Eh ... sorry, sorry, Yang. Aku terlalu seneng liat kamu udah bangun," kekeh Rama kembali mengusap punggung tangan Mulan.
"Lagian liat kamu tidurnya lama banget, aku sampe nggak bisa tidur berhari-hari, Yang. Ternyata liat mata kamu terbuka aja udah bisa bikin hati aku deg degan selain kamu buka baju," sambung Rama sengaja menggoda istrinya.
Mulan berdecak, ikut tersenyum bersama suaminya. "Otak kamu emang nggak pernah jauh-jauh dari hal begitu!" ucapnya tidak kaget.
"Ya itulah namanya cinta, Yang. Namanya juga suami istri. Selain saling menjaga yah, saling main di atas ranjang...," ucap Rama tertawa geli.
Suasana yang tadinya tegang perlahan mencair seiring senyum Mulan yang makin merekah dari bibir tipisnya.
Rama bersyukur karena dokter mengatakan keadaan istrinya akan berangsur pulih selama beberapa hari ke depan.
"Maafin aku, yah Sayang. Gara-gara aku kamu sampe terluka kayak gini," ucap Rama di sela canda tawa mereka.
Mulan mengernyit, bingung menatap suaminya. "Kok jadi kamu yang minta maaf, Ra? Emang kamu yang nyuruh orang buat dorong aku dari tangga darurat?" Rama menggeleng.
"Jadi, ngapain kamu minta maaf? Ini, bukan salah kamu Rama...," sambung Mulan terdengar lembut.
Masih sangat jelas diingatan Rama bagaimana keadaan Mulan saat dia menemukannya di tangga darurat waktu itu.
Hingga kini Rama masih terus menyalahkan diri karena tidak mampu melindungi Mulan disaat istrinya sangat membutuhkan kehadirannya sebagai pelindung dan penjaga di hidupnya.
"Enggak, Ra. Ini bukan salah kamu. Aku juga yang bego kenapa percaya aja kamu maunya ketemu di tangga darurat dan nggak langsung masuk ke ruangan aku. Kamu nggak perlu nyalahin diri kamu sendiri, yang namanya musibah juga kita nggak ada yang tahu. Aku nggak pa-pa, masih bisa hidup dan ketemu kamu aja aku udah bersyukur banget, Ra...," ucap Mulan penuh ketulusan.
Mulan mengerti bagaimana perasaan Rama saat ini, dia hanya mau suaminya berhenti menyalahkan diri dan menganggap kejadian naas yang menimpanya kemarin adalah kesalahannya.
"Tapi aku—"
"Udah, nggak pa-pa. Aku masih hidup, kan sampe ini? Kita nggak perlu ngebahas kejadian yang udah lewat lagi, Ra. Kamu terus ada disisi aku aja selama ini udah lebih dari cukup. Aku bahagia bisa liat kamu lagi." Rama sontak terdiam dengan pandangan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Wanita yang masih pucat dengan jarum infus menancap di tangannya terlihat seperti seorang malaikat tak bersayap dimata Rama.
Beruntung mungkin adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Rama memiliki Mulan saat ini.
"Makasih, Yang ... aku juga bahagia banget bisa milikin kamu. Mungkin diantara beribu cowok diluar sana, aku yang paling beruntung karena bisa dapetin wanita sebaik kamu. Makasih udah izinin aku masuk ke dalam hati kamu." Rama mendekat bermaksud ingin mengecup bibir merah muda Mulan.
Baru saja saling memejamkan mata menyambut pertemuan bibir mereka. Donal datang membuka pintu ruang perawatan Mulan dengan tiba-tiba.
"Astaga...!" ucap pria berkulit sawo matang itu kaget.
Rama sontak mundur diikuti Mulan yang memalingkan wajah malu.
"Uncle, ngapain sih masuk nggak ngetuk pintu dulu?!" sentak Rama kesal, kegiatan kesukaannya terganggu.
"Ya mana Uncle tahu kalo kalian lagi mau ciuman, Ra ... lagian kamu juga ada-ada aja, deh. Istri kamu baru aja sadar kamunya udah main nyosor aja kayak nggak ada hari esok yang indah!" sahut Donal tidak mau disalahkan.
Rama berdecak, memindahkan kursinya sedikit menjauh dari ranjang perawatan Mulan.
"Udah belum, sih kalian mesra-mesraannya?" sambung Donal yang ternyata menutup mata sejak tadi.
Bukan apa-apa, dia hanya tidak nyaman saja melihat anak sahabatnya yang hampir berciuman di depannya. Donal seketika teringat bibir istrinya yang dia suka.
"Apa, sih?! Udah daritadi kali, Uncle!"
Donal sedikit mengintip dari sela jarinya dan perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajah.
"Nanti kalo kalian mau cium atau main, kasih tahu Uncle aja. Uncle bakal pasang papan penanda di depan pintu buat kalian."
"Ish, nggak usah ngeledek Uncle! Uncle kayak nggak pernah muda aja!" sahut Rama masih kesal dengan ayah sahabatnya.
Donal terkekeh, mengitari ranjang perawatan Mulan dan berdiri disisinya yang lain. "Biasa itu, Lan. Kamu nggak perlu malu. Dulu waktu masih muda kelakuan Uncle beti-betilah kayak kalian begini."
__ADS_1
Mulan merasa wajahnya semakin memerah mendengar ucapan Donal. Bisa-bisanya pria yang tidak lagi muda itu terlihat sangat santai setelah melihat dia dan Rama yang hampir saja berciuman barusan.
Mulan hanya tersenyum keki membalas ucapan Donal dengan perasaan ingin membenamkan diri ke dasar lautan.