
"Mau kemana lagi kamu, Ci? Baru juga nyampe dirumah." Richard menatap anak perempuannya yang sore menjelang petang itu sudah tampak cantik setelah belum lama pulang dari butik Amanda.
Wanita berambut panjang dengan hidung mancungnya tersenyum, mendekati Richard yang tengah duduk santai di ruang keluarga.
"Mau pergi sama temen, Dad," ucap Cima melingkarkan tangannya ke leher Richard.
"Temen siapa? Cewek apa cowok?" tanya Richard ingin tahu.
"Cowok."
"Apa? Cowok?" Cima mengangguk, melepaskan rangkulan tangannya dari leher Richard.
"Pacar kamu?" tanya Richard lagi.
"Bukan."
"Trus?"
"Calon mungkin," sahut Cima asal.
"Ck, jangan ngambang gitu jawabnya sama orang tua, Cima. Daddy nggak suka, yah kalo kamu deket sama cowok nggak jelas!" ucap pria yang tidak lagi muda itu posesif.
Menjaga Cima seperti menjaga berlian berharga bagi Richard. Semenjak kecil Richard selalu mewanti-wanti anak perempuannya agar jangan asal bergaul dan malah jatuh dalam pergaulan yang tidak jelas, apalagi sampai mengikuti jejak kakaknya Rama yang senang keluar masuk club.
Beruntung selama ini Cima selalu patuh dan tidak banyak membantah padanya. Richard selalu menanamkan nilai-nilai yang baik pada Cima, demi untuk masa depan anak perempuannya kelak.
"Siapa namanya, Daddy kenal nggak?"
"Kenal."
Richard mengernyit. "Siapa?"
"Ada, deh. Nanti juga Daddy tahu," goda Cima mencomot potongan apel dari piring Richard.
"Ish, dasar anak nakal. Daddy nanya malah dijawab begitu!" kesal Richard menepuk lengan Cima.
"Nanti aja Daddy kenalannya. Aku udah telat, dia udah nungguin aku di depan." Cima berjalan cepat, menyambar tas tangannya di atas meja dan berlalu meninggalkan Richard yang terus berteriak memanggil-manggil nama Cima.
Kadang menggoda ayahnya adalah hal yang disukai oleh Cima. Biar saja pria yang senang mengaturnya sejak dulu itu penasaran.
Bukan karena apa, tapi kadang Cima merasa ruang geraknya begitu terbatas sedangkan kakaknya tidak. Diumurnya yang sebenarnya sudah bisa menikah, Cima malah belum pernah punya pacar karena kelakuan ayahnya yang membuat pria-pria yang mendekatinya mundur duluan sebelum maju berjuang.
Sampai sekarang Cima tidak tahu apa yang dilakukan Richard sampai membuat pria-pria itu pergi dan terkesan menghindarinya setelah bertemu dengan Richard.
"Sorry lama." Cima masuk ke dalam mobil sport keluaran terbaru, duduk di kursi samping kemudi.
"Nggak pa-pa, nungguin kamu bertahun-tahun juga nggak masalah, kok buat aku."
Cima tersenyum, menarik seat belt dari samping kirinya. Menghabiskan waktu selama beberapa hari ini bersama pria berwajah manis itu, sudah menjadi hal yang biasa untuk Cima mendengarkan gombalan recehnya.
"Kita mau kemana?" tanya Cima setelah selesai memasang seat belt.
"Kamu maunya kemana?" tanya Gober balik.
__ADS_1
"Hah? Kok, malah nanya sama aku. Kan, Ka Gober yang ngajak pergi."
"Kalo aku ajak ke pelaminan mau nggak?" goda Gober mengulum senyum.
"Emang berani?" tantang Cima.
"Berani, dong. Yang penting kamunya mau aku ajak nikah."
Cima berdecak sembari menggelengkan kepala. "Udah, ih. Dari kemaren nggak berhenti godain aku mulu. Ada aja gombalannya."
"Siapa yang ngegombal, sih Cima. Aku serius kalo kamu emang beneran mau...," kekeh Gober.
"Terserah Ka Gober aja. Males aku nanggepin ucapan Ka Gober lagi."
Gober tersenyum merasa godaannya cukup sampai disini. Cima pasti akan merajuk tidak ingin pergi dengannya lagi jika dia masih terus melanjutkan pembahasan yang terbilang tidak serius namun sebenarnya sangat serius untuk dia.
Mobil yang hanya punya dua kursi itu pun perlahan meninggalkan depan rumah Cima menuju ke sebuah taman yang dulu menjadi tempat kesukaan mereka waktu kecil.
Gober memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana, dan turun lebih dulu membukakan pintu untuk Cima.
"Apa, sih? Lebay banget!" Cima keluar, risih melihat tingkah Gober.
"Nggak ada yang lebay buat tuan putri...," sahut Gober menutup pintu mobilnya pelan.
"Kamu tunggu di sana, yah? Aku mau beli sesuatu dulu." sambung Gober menunjuk tempat duduk yang sering mereka duduki jika mereka kesana berempat dengan sahabat-sahabat bijinya.
"Yaudah, jangan lama-lama!"
"Astaga ... nggak lama, kok. Tahan bentar aja kangennya, ok?" sahut Gober tertawa geli sendiri dengan ucapannya.
Meski kadang kesal, namun Cima juga cukup terhibur dengan gombalan dan tingkah Gober yang bisa membuat hatinya terhibur.
Seperti hari ini, Gober kembali sambil membawa satu baket es cream rasa vanila dengan dua sendok cup besar di tangannya. Pria itu tersenyum sumringah seperti anak kecil begitu dia duduk di samping Cima.
"Apa ini?" tanya Cima.
"Es cream. Kamu suka es cream, kan?"
"Suka, sih. Tapi ini, kan udah—"
"Aku seneng kalo kamu masih suka es cream," potong Gober cepat. "Untung tadi yang jualan masih ada, aku inget dulu kamu sering nangis tiap kali nggak kebagian es cream rasa vanila kesukaan kamu." sambung Gober meletakkan baket es cream yang dia pegang.
Hati Cima seketika menghangat mendengar ucapan Gober. Dia memang sering menangis jika es cream yang dia suka sudah habis terjual dulu. Cima tidak menyangka bahkan hal sekecil ini pun Gober masih saja ingat, pikirnya.
"Udah nggak usah tersipu begitu, aku tahu aku tampan." Gober bersuara sengaja membuat Cima salah tingkah.
Dia tahu wanita di sampingnya ini pasti sedang memuji-muji dirinya di dalam hati.
"Ish, GR!" sahut Cima mencebik tidak terima.
Gober tertawa dan menyodorkan satu sendok cup berukuran besar ke tangan Cima. "Nih, ambil. Makan sepuasnya biar kamu nggak nangis lagi abis ini."
"Emang aku anak kecil," gerutu Cima mengambil sendok itu dari tangan Gober.
__ADS_1
"Buat aku, kamu emang masih kecil, Ci...."
Cima mengernyit. "Apa maksudnya itu?"
"Iya, anak kecil yang selalu bikin aku kangen sampe sekarang. Kangen sama rengekan dan teriakan kamu kalo kamu digangguin sama aku dan Rama. Kamu biasanya selalu nangis kejer sampe susah dibujuk, trus abis itu kamu laporin kelakuan kita sama daddy Richard biar kita bertiga dihukum."
"Masa, sih? Emang aku begitu dulu?" tanya Cima berpura-pura lupa.
Padahal dia paling ingat bagaimana ketiga pria itu selalu dihukum setiap kali membuat dia menangis.
Richard yang notabene adalah ayah yang over protective, membuat Cima kadang menggunakan kesempatan itu untuk membuat ketiga pria yang beberapa tahun lebih tua darinya dihukum sampai ketiganya meminta-minta ampun.
Cima seketika tertawa mengingat bagaimana wajah nelangsa kakaknya Rama, Jacob dan juga pria disampingnya Gober saat itu.
"Tuh, kan kamu ketawa. Pasti kamu inget kejadian-kejadian waktu kita kecil, kan?" sahut Gober memicingkan mata.
Cima masih tertawa tidak mempedulikan wajah Gober yang sontak manyun di dekatnya.
"Kamu tahu nggak, sejak kita kecil ... aku, tuh selalu merhatiin kamu diem-diem, Ci...," ucap Gober tiba-tiba.
"A-apa?"
"Iya, sampe sekarang pun aku masih selalu merhatiin kamu, Ci. Buat aku, kamu itu cinta pertama aku."
Suasana disekitar mereka mendadak hening. Cima merasa jantungnya sedang berdebar tidak karuan di dalam sana. Gober berbicara sambil menatapnya dengan dalam. Apa pria ini sedang menyatakan cinta padanya?
Gober sama sekali tidak pernah berbicara serius dengannya selama ini. Gober adalah tipe pria yang senang bercanda dan juga bermulut manis setahunya. Apalagi dengan hobi celap celupnya di sana sini, makin membuat Cima yakin Gober berkata begini hanya untuk menarik perhatiannya saja.
Cima tidak akan mudah percaya dengan Gober yang begitu gamblangnya berkata seperti itu disaat keduanya selalu menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari kebelakang ini.
"Udah, nggak usah dipikirin. Aku cuma pengen kamu tahu aja soal itu, Ci. Aku tahu kamu pasti bakal mikir aku nggak serius, yang penting ... aku udah ngutarain apa yang aku rasa sama kamu," sambung Gober membelai rambut panjang Cima, lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Widihh...
Cinta pertama Guys...
Bener nggak, sih pengakuan Gober ini?
__ADS_1
Jadi penasaran 🤔🤭😆