
"Kenapa Lo?"
"Lemes."
"Wihh ... abis berapa air Lo tadi malem?" goda Rama duduk di dekat sahabatnya.
"Ck, air apaan. Air comberan yang ada!" keluh Jacob duduk tidak tenang di kursi.
"Air comberan? Mandi Lo semalem?"
"Kagak!"
"Trus?"
"Dia sakit perut semaleman!" sela Anna baru saja tiba di restoran hotel tempat mereka menginap.
"Hah? Sakit perut?" Rama sontak tertawa mengerti kenapa sahabatnya malah membahas air comberan dan bukan air kehidupan yang dimaksudkannya.
"Bangkee! Ketawa lagi Lo!" kesal Jacob mencebikkan bibir.
"Jadi Lo dianggurin dong, Na semaleman?" Rama masih tertawa sengaja menggoda pasangan suami istri baru itu.
"Ck, nggak usah panas-panasin keadaan Lo biji! Tahu istri gue lagi kesel sama gue!" Jacob bersuara, menyahut ucapan Rama yang ditujukkannya pada Anna.
"Yah udah panteslah bini Lo marah sama Lo, Cob. Mana ada malem pertama pake drama-drama sakit perut kayak elo. Kalo gue jadi bini elo, udah gue kunciin Lo di kamar mandi biar sekalian tidur di sana." Rama terus meledek Jacob yang mendengus, memanyunkan bibir lima senti ke depan.
Anna tidak terlalu mempedulikan dua sahabat itu karena sedang asik berbicara dengan Mulan dan juga ibu mertuanya. Keluarga besar tiga biji senior berjanji berkumpul pagi ini di restoran hotel sebelum pasangan pengantin yang kemarin baru menikah pergi ke tempat bulan madu mereka masing-masing.
"Gober sama Cima mana, Manda?" Celin duduk berhadapan dengan wanita yang masih tampak awet muda dengan rambut panjangnya yang tergerai indah.
"Nggak tahu, Cel. Tadi aku telpon nggak diangkat sama mereka berdua."
Yang ditanyakan baru saja masuk dari pintu depan ruang restoran VVIP hotel. Cima berjalan lebih dulu diikuti Gober dari belakang.
"Ciyee pengantin baru, baru nongol." Rama bersuara, ikut menggoda adik perempuan dan sahabat bijinya yang baru masuk.
Pasangan itu duduk sebaris dengan Jacob dan juga Anna.
"Enak yah, Ber abis basah-basahan sampe ini?" Rama melirik rambut Gober yang masih setengah basah, sengaja menjadikannya senjata untuk menggoda Gober.
"Ck, ini basah bukan abis basah luar dalem, Ra!" sahut Gober terdengar kesal.
"Terus?"
"Keramas karena stress digangguin mulu dari tadi malem!"
Rama mengernyit, mengikuti ke mana arah mata Gober melirik. "Ituβ"
__ADS_1
"Udah jangan berisik!" Richard memotong pembicaraan keduanya ikut mendengar percakapan anak dan menantunya.
Semua mata sontak mengarah pada Richard yang bersuara cukup keras di sana.
"Kenapa, Chad?" Amanda bertanya.
"Semua udah di sini, kan? Ayo makan, aku udah laper." Baik Donal maupun Mike mengangguk mengiyakan ucapan Richard.
Tidak ada sama sekali yang curiga dengan apa yang dilakukan pria paruh baya itu semalaman tadi hingga Cima tiba-tiba bertanya.
"Dad. Daddy ngapain tadi malem bolak balik ke kamar aku sama Mas Gober?"
Semua yang tadinya sedang fokus dengan makanan mereka di atas meja kembali mengarahkan pandangannya pada Richard.
Richard dengan santainya menjawab. "Daddy lagi ngecek aja, Ci."
"Ngecek apaan?" Donal menyela penasaran.
"Ish, masa Lo nggak tahu ngecek apaan!"
Donal mengernyit, tidak mengerti dengan maksud ucapan sahabatnya. "Maksudnya?"
"Itu, loh. Pembicaraan kita waktu kalian dateng ke rumah pas lamaran itu, Nal."
Hening.
Tidak ada yang tahu dan mengingat tentang apa yang dibicarakan Richard.
"Soal mau dicek mainnya berapa ronde!" gerutu Gober bersedekap dada.
"What?! Lo bener ngecek soal itu, Chad?" pekik Donal kaget.
"Iya lah, masa enggak!" tandas Richard santai.
"Astaga...." Amanda, Celin dan Donal kompak bersuara.
Pria yang mulai beruban itu tampak bangga dengan apa yang dia lakukan semalaman suntuk hingga hampir pagi.
"Jadi kamu bolak balik keluar kamar tadi malem karena itu, Chad?!" tanya Amanda tidak percaya.
"Iya, By. Aku, kan mesti pegang kata-kata aku sebagai pria sejati."
"Astaga...." Amanda menghembuskan nafas panjang, tidak habis pikir dengan tingkah suaminya.
Rama, Mulan, Jacob dan Anna tertawa tertahan seiring wajah Gober yang makin kesal mendengarnya.
Bisa mereka bayangkan bagaimana rusaknya acara malam pertama pria berwajah manis itu semalam. Rama yakin Gober pasti uring-uringan dan sakit perut karena menahan sesuatu yang sudah lama tidak pernah keluar lagi sejak memutuskan serius dengan adiknya.
__ADS_1
Cima yang duduk di samping Gober, menepuk-nepuk lengan suaminya memberi ketenangan pada Gober agar bisa lebih sabar lagi. Kegiatan ini sudah dia lakukan sejak semalam karena Gober terus mengomel kesal di dekatnya.
"Kenapa, sih? Lagi ngomongin apaan?" Mike menyela, tidak mengerti dengan arah pembicaraan keluarga sahabatnya sejak tadi.
"Ya ampun, Mike. Lo nggak tahu aja gimana gilanya temen biji Lo yang satu ini semalem!" Donal mengusap wajahnya kasar, geleng-geleng kepala dengan kelakuan Richard.
"Kenapa emangnya sama Richard?"
"Dia gangguin malem pertama anak dan menantu gue semalem Mike...."
"Apa?! Yang bener?"
"Nggak! Siapa yang gangguin, sih?!" timpal Richard tidak terima. "Gue cuman ngecek doang. Nggak ada yang gangguin mereka pas lagi main!" sambungnya membela diri.
"Ck, emang Daddy-nya gangguin, kok semalem!" sergah Cima ikut kesal dengan ayahnya.
Amanda beralih, menatap anak perempuannya yang cemberut. "Gangguin gimana maksud kamu, Ci?"
"Tiap tiga puluh menit diketuk pintu aku sama Daddy, Mom. Mas Gober nggak bisa main gara-gara digangguin mulu sama Daddy!" jujur Cima menunjuk ayahnya jengkel.
Bagiamana tidak jengkel, setiap kali Gober baru saja akan bersiap menyatukan diri dengannya, Richard malah mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka dengan kuat dan menekan bel berulangkali.
Cima ikut kesal karena disaat dia sudah sangat menginginkan Gober, Cima malah harus ikut menahan diri karena kelakuan ayahnya yang entah sengaja atau tidak mengganggu malam panjangnya bersama Gober.
Alhasil sampai tadi pagi mereka tidak kunjung bercengkrama panas dan malah hanya habis sampai dimenyesapp satu sama lain.
"Ya ampun ... keterlaluan banget Lo, Chad! Anak sendiri lagi main malah digangguin!" Mike mendorong pundak Richard yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Ish, bukan murni salah gue semua lah, Mike. Siapa suruh anak biji Donal nggak ada gercep-gercepnya. Udah tahu mau malem panas malah lama banget kayak gitu. Tiap gue dateng ngecek bilangnya masih belum. Kan, ngeselin itu namanya!" dalih Richard masih membela diri.
Amanda berdecak, melempar serbet ke arah suaminya. "Ngeles aja kamu tahunya! Pokoknya seminggu ini jangan harep dapet jatah dari aku!" ancamnya penuh keseriusan.
"Loh, By. Kok jadi ngancem-ngancem soal itu, sih?"
"Bodo! Biarin!" Riuh suara tawa terdengar memenuhi ruang restoran, pria yang tadinya mengaggap diri tidak bersalah seketika beranjak mendekati istrinya dan bermohon-mohon minta dimaafkan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Biji Richard emang reseh! ππ