
"Kemana aja sih, Mas?"
"Sorry, Ci. Tadi aku selesein berkas terakhir dari Pak Tono dulu. Udah lama, yah nunggunya?"
Cima berdecak, duduk dengan tangan dilipat di depan dada. "Udah berjamur aku nungguin kamu daritadi, Mas!" kesal wanita berhidung mancung itu.
"Iya maaf, deh. Aku nggak sempet telpon kamu karena hp aku juga low tadi. Sorry yah, Cantik? Nanti aku traktir makan es cream, deh...." Gober tersenyum sembari menaik turunkan alisnya duduk di samping Cima yang cemberut.
"Nggak mau! Aku lagi nggak mood makan es cream!" tolak Cima masih kesal.
"Yaudah kalo nggak mau. Makan bibir aku lagi aja gimana, mau nggak?" kekeh Gober berusaha membujuk wanitanya.
"Ish, dasar mesumm!" Gober tertawa terbahak, menarik lengan Cima agar duduk makin menempel dengannya.
"Ya kalo es cream nggak bisa bikin kamu berhenti marah sama aku. Aku cium aja lagi kamu kayak kemaren biar nggak marah-marah lagi," goda pria berwajah manis itu.
"Maunya Mas itu cium-cium nggak jelas sampe bikin aku susah napas!"
"Enak, dong berarti, Ci. Kata orang kalo ciuman sampe bikin susah napas, berarti yang dicium sama yang mencium jago bermain bibir. Berarti kita berdua udah sama-sama pro-lah buat hal yang begituan," canda Gober masih tertawa terbahak di samping Cima yang mendengus dengan wajah memerah.
"Terserah Mas ajalah! Dari dulu omongannya nggak pernah jauh-jauh dari hal yang nggak banget!"
Gober tertawa, melingkarkan tangannya di leher Cima dan mengecup sekilas pipi tirus wanita yang dia cinta, gemas.
"Udah jangan marah-marah lagi ... nanti kalo aku bujukinnya langsung ke pelaminan gimana?"
"Ya, nggak pa-pa. Itu lebih bagus daripada digantung nggak jelas sama Mas!" sahut Cima apa adanya.
"Eh, emang udah siap?"
"Siaplah...."
"Bener?"
"Iya."
"Yaudah besok pagi aku ke rumah ngelamar kamu."
"Hah? Beneran?" kaget Cima.
__ADS_1
"Iya. Katanya udah siap?"
"Ta-tapi masa besok pagi sih, Mas? Kenapa nggak Minggu depan aja?" sahut Cima mendadak gugup.
"Kelamaan Minggu depan, Ci. Lagian hari ini masa training aku udah selesai. Besok aku udah bisa ngelamar kamu dan resmiin hubungan kita. Uncle Richard pasti nggak bakal nolak aku lagi kalo tahu aku udah kerja dengan baik di perusahaan papi," ucap Gober penuh keyakinan.
Cima langsung bungkam seribu bahasa, bingung harus berkata apa. Hatinya memang bahagia mendengar Gober akhirnya mau datang ke rumah melamarnya. Tapi, apa ayah dan juga kakak laki-lakinya akan menerima Gober?
Dua pria yang sangat luar biasa menjaganya dengan posesif benar-benar sulit ditaklukkan. Cima takut Gober malah akan dipersulit dan diminta mundur sebelum pria itu sempat berjuang untuknya.
"Kok, diem?" tanya Gober mengusap pipi Cima, lembut.
"Nggak pa-pa, aku cuman kaget aja Mas tiba-tiba ngomong mau ngelamar aku."
"Nggak tiba-tiba kok, Ci. Selama ini, kan emang aku udah bilang mau ngelamar kamu jadi istri aku. Aku tinggal nunggu waktu dan status yang baik buat ngelamar kamu aja, kan...."
"Iya, tahu. Tapi denger Mas bilang mau dateng besok ke rumah, aku syok lah. Semua cewek juga bakal kayak aku kalo tiba-tiba di bilang mau dilamar," jujur Cima.
Gober tersenyum. "Tapi kamunya mau, kan aku lamar? Aku udah nyium-nyium kamu loh, Ci. Setidaknya aku mau tanggung jawab buat itu."
"Berarti gue yang udah tidur sama Lo, bakal Lo nikahin juga yah, Ber?!" Seorang wanita dengan pakaian yang serba minim tiba-tiba sudah berdiri di samping meja restoran tempat Gober dan Cima berada.
Sejak tadi wanita itu mendengarkan ucapan gombal yang dulu juga pernah diucapkan Gober untuknya, saat mereka berjanji temu di hotel.
"Seneng, yah sekarang dapet yang polos, Ber?!" ucapnya lagi sengaja membuat pria yang suka bermain-main dengan wanita itu malu.
"Lo siapa?" tanya Cima merasa terganggu.
"Lo mau tahu gue siapa? Tanya aja sama tunangan Lo yang suka ngumbar janji itu! Dia tahu gimana kita sempet ngabisin waktu di hotel sampe berjam-jam, cuman buat nyenengin bijinya yang nggak pernah puas!" sarkas wanita itu menatap remeh Gober dan Cima bergantian.
"Lo apa-apaan, sih gangguin orang aja!" sela Gober ikut kaget melihat wanita cinta satu malamnya di sini.
Wanita itu tersenyum sinis, sengaja memanas-manasi Cima. "Kenapa? Takut tunangan Lo nganggep Lo cowok suka main diluar?! Lagian emang bener, kan Lo cuman suka main-main aja sama cewek. Hati-hati sista, Lo nggak tahu aja gimana bejatnya, nih cowok sama kaum kita!"
Cima menggebrak meja, muak mendengar ucapan wanita yang membuat mood-nya kembali memburuk. Sontak ketiga orang itu langsung menjadi pusat perhatian pelanggan restoran yang lain di sana.
"Tolong jangan pernah nyebut kaum kita yah, sista. Kaum gue dan elo beda jauh! Sayangnya gue nggak termasuk sama kaum yang Lo bilang tadi. Jadi, kalo nggak ada yang penting lagi. Lo boleh pergi dari sini!" sahut Cima telak.
Wanita itu mengepalkan tangan dengan satu kaki menyentak lantai restoran sebelum akhirnya pergi dari sana dengan marah.
__ADS_1
Gober sedikit bisa bernafas lega setelah melihat wanita yang tidak dia harapkan muncul di saat dia sedang bersama Cima.
Cima kembali menyeruput jus semangkanya di atas meja, bersikap seperti biasa.
"Maaf yah, Ci?"
Cima mengernyit. "Maaf buat apa?"
"Itu tadi, aku juga nggak nyangka bisa ketemu dia di sini...," sahut Gober merasa bersalah.
"Biasa aja kali, Mas. Udah resiko aku ketemu sama angsa-angsa kamu dulunya. Terima kamu berarti aku juga harus siap terima masa lalu kamu!" ucap Cima terdengar bijak.
Hati Gober sedikit berdenyut mendengar kata masa lalu dari mulut Cima. Dia tahu bagaimana kelakuannya yang senang keluar masuk club mencari kesenangan bersama sahabat-sahabatnya, tidak baik.
Gober sedikit banyak menyesalinya sekarang, apalagi direndahkan seperti tadi di depan wanita yang dia cinta membuat Gober merasa kecil. Harga dirinya langsung jatuh tak bersisa.
"Buat aku, yang paling penting gimana sekarang Mas mau berubah dan natap masa depan bareng aku. Masa lalu bakal tetep jadi kenangan dan masa depan bakal jadi harapan. Aku cuman bisa berharap Mas bener-bener serius dan nggak bakal ngulang cerita-cerita masa lalu itu lagi!" sambung Cima terlihat santai namun sangat serius dalam ucapannya.
Gober mengangguk dengan hati bahagia, Cima memang wanita yang sangat baik untuk dia yang penuh coretan hitam dihidupnya.
"Makasih, Ci. Aku bakal buktiin gimana aku bakal berubah dan setia cuman sama kamu, doang. I love you Cima...."
.
.
.
.
.
.
.
Nah, kan
Mau ngegombal malah muncul kaum angsanya Gober 🤭
__ADS_1
Untung Cima legowo yah, Ber ... 😆