Touch My Body

Touch My Body
Biji E


__ADS_3

..."Jadi Deno dikirim daddy ke Kutub Utara, Bor?"...


"Iya, Pak. Pak Richard bergerak cepat dengan mengirim Pak Deno ke sana malam itu juga." Pria dengan kacamata yang selalu dia pakai berdiri tegap di depan Rama atasannya.


"Cuma dikirim gitu aja, Bor?"


"Iya, Pak."


"Ish, kenapa nggak disiksa dulu, sih?! Dia udah celakain Mulan sampe segitunya cuman dikirim ke Kutub Utara, doang? Daddy nggak adil banget!" protes Rama kesal.


"Tapi, Pak. Perjalanan Pak Deno nggak bakal mulus selama ke sana," sahut Bora mencoba menenangkan pria yang tidak sabaran itu.


Rama mengernyit, menyandarkan tubuhnya di dinding dekat kamarnya dan Mulan. "Maksud kamu?"


"Selama ke sana Pak Deno bakalan beberapa kali ganti kapal, dan selama itu juga Pak Deno akan mendapatkan pengalaman yang berbeda di setiap kapal yang membawanya."


"Tunggu, tunggu ... gue nggak ngerti beneran, deh omongan Lo, Bor."


Bora menghembuskan nafas panjang dengan tangan merogoh ponselnya di saku celana. Bora menunjukkan satu buah gambar yang dia dapat dari orang suruhan Richard, yang tadi pagi mengiriminya gambar tersebut.


"Ini gambar terbaru Pak Deno, Pak." tunjuknya pada sebuah foto di layar ponsel.


Rama dengan cepat menyambar ponsel asistennya, sedikit terbelalak melihat keadaan pria itu.


"Ini—"


"Iya, Pak. Sekarang dia sedang ada di kapal ikan milik orang kulit hitam. Di sana dia dijadikan budak dan harus melayani 1x24 jam tanpa henti. Dan kemarin menurut laporan orang kita, dia sempat digilir bergantian oleh beberapa kru yang, yah ... Pak Rama tahulah maksud aku," sahut Bora tidak mau meneruskan ucapannya.


Dia terlalu geli dan jijik mengatakan hal menjijikkan apa yang sudah menimpa calon Wakil Presiden itu beberapa hari ini.


"Maksud elo dia diperkosa sama...." Bora mengangguk mengiyakan sebelum Rama sempat menyelesaikan ucapannya.


Pria itu sudah mengerti ke mana arah pembicaraan Rama tanpa perlu diberitahu. Rama langsung bergidik, antara ingin muntah dan geli sendiri dalam hati.


"Jadi, Pak Rama nggak usah khawatir. Dia bakal dapetin hal setimpal dengan apa yang udah dia lakuin sama keluarga Bu Mulan."


Rama mengangguk dengan perasaan lega. Setidaknya memastikan Deno menderita selama perjalanan menuju ke Kutub Utara, bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang. Pria itu harus mendapatkan balasan yang berlipat demi semua rasa sakit dan luka yang ditinggalkan Deno pada istrinya.


"Ya udah, pastiin aja manusia brengsek itu bener-bener menderita, Bor. Gue pokoknya nggak mau dia tenang selama sisa hidupnya!"

__ADS_1


"Pasti, Pak," sahut Bora penuh keyakinan.


"Oh, yah ... berita hilangnya tu orang gimana? Nggak ada yang tahu, kan siapa yang nyulik dia, Bor?" tanya Rama teringat salah satu masalah yang lebih penting itu.


"Enggak. Pak Rama tenang aja. Semua udah diatur sama Pak Richard. Aman ajudannya pun udah pulang ke kampung. Dia udah hidup tenang di sana sekarang, bulan depan mungkin dia bakal menikah...," terang Bora santai.


"Eh, Aman emang udah punya pacar?" Bora mengangguk.


"Kok, gue nggak tahu?" sambung Rama lebih kepada gumamannya sendiri.


"Emang Pak Rama bakal peduli gitu kalo pun aku juga udah punya pacar?" tanya Bora sempat mendengar gumaman atasannya.


"Ngapain juga gue peduli?! Buang-buang waktu aja gue ngurusin hidup Lo!" sentak Rama memutar mata malas.


"Ya udah, kalo gitu nggak usah kaget begitu pas aku bilang Aman mau nikah bulan depan, Pak...," sahut Bora sengaja menggoda pria berkening lebat di depannya.


Rama berdecak, malas menanggapi candaan garing dari asistennya. "Mau Lo nikah besok juga gue nggak peduli! Sana nikah, keburu biji Lo expired kalo Lo lama-lama nikah!" balas Rama meledek pria yang hanya beberapa tahun berbeda umur dengannya.


"Kalo udah dapet yang cocok, aku juga mau lah nikah, Pak. Siapa, sih yang nggak mau nikah, semua juga pengen. Tapi, ya itu ... sampe sekarang belum dapet aja yang pas," sahut Bora jujur dari hatinya yang paling dalam.


"Wih ... sok puitis Lo! Geli tahu nggak gue dengernya...," ledek Rama lagi.


"Lo sebenernya nggak perlu nyari yang pas, Bor. Lo cuman cukup nyari yang mau aja sama biji expired Lo!" kekeh Rama puas meledek pria berhidung mancung itu.


"Lo ngatain gue bekas?!" marah Rama tidak terima.


"Lah, siapa yang ngatain Pak Rama. Aku ngomong begitu nggak ada maksud mau nyindir Pak Rama kok," sahut Bora membela diri meski dalam hati memang ingin membalas ucapan Rama yang mengatakannya biji expired.


"Jangan boong Lo! Mau gue pindahin Lo juga ke Kutub Utara, hah?!" ancam Rama memicingkan mata.


Bora dengan cepat menggeleng, mengayun-ayunkan tangannya di depan dada. "Jangan dong, Pak. Nanti kalo aku ke sana siapa yang bakal Pak Rama suruh-suruh lagi? Pak Rama nggak bakal bisa dapetin asisten sehandal aku, Pak...," ucapnya membanggakan diri.


Rama berdecih, muak mendengar ucapan Bora. "Serah Lo! Males gue ngomong sama Lo lama-lama!"


Rama beranjak, pergi meninggalkan Bora yang tersenyum menang di belakangnya. Tidak ada gunanya juga dia membahas masalah jodoh pria itu.


Dalam hati Rama malah menyumpahi Bora yang semoga tidak akan pernah menikah dan bijinya benar-benar menjadi expired. Rama tersenyum sendiri dalam hati membayangkannya.


Turun ke lantai satu bermaksud ingin pergi ke dapur mengambil air minum, samar-samar Rama mendengar suara pria dan wanita yang tengah asik berbicara dan tertawa dari arah kolam renang mereka.

__ADS_1


Penasaran dengan siapa kedua orang itu, Rama akhirnya melangkahkan kakinya pergi ke arah kolam renang dan begitu terkejut melihat pemandangan mengesalkan di depannya.


"Cima...!" pekik Rama meradang.


Wanita berambut panjang itu mendongak, diikuti seorang pria berwajah manis di sampingnya.


Dengan langkah panjang Rama berjalan mendekati adik perempuan dan sahabat bijinya yang duduk berdekatan dan bahkan tidak ada jarak sama sekali diantara mereka.


"Ngapain kalian disini?!" sentak Rama tidak suka.


"Lagi ngobrol aja, Ka. Emang mau ngapain lagi," sahut Cima tanpa beban.


"Ngomong kok pake acara pegangan tangan segala?! Emang kalian lagi pada nyebrang jalan!" Rama menepis tangan Cima dalam genggaman tangan Gober yang entah kenapa sore ini terlihat sangat mesra satu sama lain.


"Kakak kenapa, sih?! Kita cuman pegangan tangan, nggak ngapa-ngapain...," sahut Cima malu diperlakukan begitu oleh kakak laki-lakinya di depan calon suaminya.


"Ish, pegangan tangan abis itu pegang yang lain!" Rama sedikit melirik pada sahabat bijinya yang diam tidak berkutik melihat kedatangannya.


"Udah nggak usah pegang-pegang tangan segala! Kalo mau ngomong yah, ngomong aja. Nggak usah pegang-pegangan tangan!" sambung Rama memberi peringatan keras pada keduanya.


Cima membuang nafas kasar, ikut beranjak saat ditarik Rama menjauh dari Gober. Kakaknya sama saja posesifnya dengan ayahnya, kesal Cima dalam hati.


"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana apalagi sampe nguping pembicaraan Kakak sama Gober!" perintah Rama kembali mendekati sahabatnya di ujung kolam.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aduh ... aduh ... aduh ...


Bakal diapain, yah si biji Gober 🤔🤭


__ADS_2