
"Gimana, Bor ... aku udah bisa liat jenazah papi aku belum?"
"Bentar lagi, Bu. Polisi masih mengautopsi tubuh beliau. Mungkin kita harus nunggu sejam lagi baru dibolehin sama mereka."
Mulan menghembuskan nafas panjang, dari sejak ayahnya dibawa ke rumah sakit dari rumah mantan Wakil Presiden itu. Mulan sudah sangat ingin melihat Cokro.
Mulan tidak mungkin turun menunjukkan wajahnya di depan Deno yang masih ada di sana. Beruntung kakak tirinya tidak ikut dibawa ke rumah sakit dan langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Cokro hanya dibawa bersama Wati yang dimasukkan ke dalam mobil yang berbeda.
Mulan sempat melihat wanita yang selama dia hidup itu tidak pernah memperlakukannya dengan baik didorong oleh paramedis dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Hingga kini mereka masih menunggu dan mencari tahu kronologi kejadian pembunuhan Cokro yang sebenarnya.
"Gimana, Yang ... kamu masih mau nunggu disini atau mau pulang dulu?" tanya Rama duduk dengan setia di samping istrinya.
"Kita nunggu aja yah, Ra. Aku nggak bakal tenang kalo belum liat papi," sahut Mulan sedih.
"Yaudah, tapi kamu makan dulu, yah? Dari siang kamu belum makan, kan? Aku minta Bora pesenin makanan buat kita." Mulan mengangguk mengiyakan ucapan Rama.
Pria berkening tebal itu sempat mencium dahi Mulan sebelum keluar dari mobil, memberi perintah pada asistennya.
Mulan duduk bersandar di jok mobil dengan pikiran yang melayang. Beberapa bulan lalu, terakhir kali dia bertemu dengan ayahnya Mulan masih sempat berbicara empat mata dengannya.
"Papi panggil aku?" tanya Mulan sedikit gelisah.
"Iya, duduk!" ucap Cokro dingin.
Mulan yang selalu menggunakan baju seadanya itu duduk dengan tidak nyaman di depan pria yang tidak pernah menganggap keberadaanya sejak dulu.
Cokro sempat diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. "Kamu tahu, kan kenapa sampai sekarang aku tidak menyukai kamu?!"
Mulan diam tertunduk.
"Harusnya wanita itu tidak melahirkan kamu dan membuat aku membencimu seumur hidupku!" sambung Cokro dengan suara meninggi.
Mulan masih diam, tidak berani menatap ayahnya yang selalu saja berkata membencinya.
__ADS_1
"Tapi sudahlah, aku tidak mau membahas itu lagi denganmu. Aku memanggilmu kesini karena ingin mengatakan, sudah saatnya kamu membalas kebaikanku karena telah membesarkanmu dengan baik."
Mulan mengernyit namun tidak berani bertanya. Dia masih diam dengan jari-jari tangan meremas ujung celananya kuat.
"Besok bersiaplah, kamu akan pergi dengan Deno. Lakukan apa yang dia minta dan jangan banyak bertanya ataupun membantah! Kamu dengar kataku?"
Mulan akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala, terlalu penasaran dengan kemana dia akan pergi bersama Deno besok hari.
"Aku mau kemana dengan Deno, Pi?"
"Apa aku memintamu bertanya?!" sinis Cokro.
"Tapi, Pi—"
Brakkk....
Cokro menggebrak meja di depannya, memberi tanda dia tidak suka ditanya macam-macam oleh Mulan.
"Sekali lagi kamu bertanya, aku pastikan kamu akan pergi menyusul ibumu besok pagi!" ancam Cokro menatap marah anak hasil hubungan gelapnya.
Mulan yang kaget tidak bisa membantah lagi, wanita itu diminta keluar setelah Cokro memakinya habis-habisan, menumpahkan kekesalan dihatinya setiap kali melihat wajah Mulan yang sedikit banyak mirip seperti wanita yang pernah dia janjikan kehidupan bahagia menjadi istri kedua.
"Apa lagi yang kamu inginkan, hah?!" pekik Cokro semakin emosi. Mulan seakan menguji kesabaran pria berumur kepala enam itu.
"Cuma satu hal, Pi. Aku cuma pengen tahu, pernah nggak Papi sayang sama aku sedikit aja?"
Cokro sontak berdecih, muak mendengar pertanyaan Mulan. "Kamu terlalu berangan-angan kalau berpikir aku menyayangimu layaknya Deno. Sudah aku katakan berulang kali, kamu seharusnya tidak pernah dilahirkan ke dunia ini! Kamu membuat hidup dan keluargaku hampir terpecah belah! Jangan pernah bermimpi aku akan menyayangimu. Sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai anakku!"
Mulan merasa hatinya makin sesak di dalam sana, pria yang dia anggap bisa melindunginya dari kejamnya dunia ternyata adalah orang yang paling kejam dan paling menyakitinya.
Harusnya dia tidak bertanya hal yang sudah dia tahu jawabannya dan membuat hatinya sakit sendiri. Entah kenapa Yang Punya Hidup sangat kejam hingga membuat dia harus lahir dari wanita dan pria yang suka bermain api dan menjadikan dia satu-satunya korban disini.
"Kenapa, Yang?" Rama kembali masuk ke dalam mobil, kaget mendapati istrinya tengah menangis sesenggukan dikursi belakang tempat mereka duduk.
Rama bergegas menarik Mulan mendekat padanya, memeluk wanitanya penuh kehangatan. Melihat Mulan tiba-tiba menangis seperti ini, dia ikut menjadi sedih.
__ADS_1
Mulan mulai menangis meraung-raung menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Rama.
Bukan, bukan karena dia membenci ayahnya. Tapi karena di saat terakhir pria itu, Mulan malah tidak berada disisinya.
Mulan sangat menyayangi Cokro meski ayahnya tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Baginya Cokro tetaplah pahlawan dan cinta pertama dihidupnya.
Untuk seorang anak perempuan, ayah adalah sosok pelindung dan juga penjaga mereka. Seperti ibunya yang dulu sering berkata ayahnya adalah seorang yang hebat dan disegani oleh banyak orang, Mulan masih beranggapan seperti itu hingga saat ini.
Namun, siapa yang menyangka jika pria yang punya posisi penting di Negara mereka ternyata adalah pria yang sangat jahat dan tidak punya hati.
Mulan tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apakah dia yang terlalu percaya dengan perkataan ibunya, atau memang ayahnya yang adalah sosok iblis berwujud manusia.
"Nangis aja, Yang. Tumpahin semua yang kamu rasain. Aku ada disini sama kamu." Rama mengusap kepala Mulan, memberi ketenangan untuk wanitanya.
Meski tidak tahu apa yang membuat Mulan menangis sampai sepilu itu, tapi mendengar suara lirih yang ikut keluar bersama airmatanya. Rama tahu Mulan telah banyak menyimpan banyak kenangan pahit di hidupnya.
Rama berharap kehadirannya perlahan bisa menggantikan semua momen pahit, sakit dan kecewa Mulan selama ini.
Rama ingin menjadi kenangan terindah dan terbaik untuk wanita yang perlahan tertidur di pelukannya, karena terlalu lelah menangis dan memendam semua kesedihannya selama ini sendirian.
"Pak." Bora masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi.
Pria itu sempat mendengar tangisan Mulan yang sangat menyayat hati dan masuk setelah Rama memanggilnya melalui telepon.
"Kawal masalah ini sampe selesai, Bor. Gue nggak mau tahu, kalo si Menteri gila itu bebas ... Lo ambil semua asetnya dan buka semua korupsi yang dia lakuin ke publik. Gue udah capek dan kesel liat orang-orang yang nyakitin istri gue masih hidup enak sampe sekarang. Pastiin hidup mereka abis dan mereka nggak bakal gangguin hidup keluarga gue kedepannya!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Part sedih 🥺😩