Touch My Body

Touch My Body
Bertemu


__ADS_3

Plakkk...


Bunyi suara tamparan kembali memenuhi ruang apartemen pria bertubuh tinggi dengan garis wajah tegas dan terkesan garang.


Seorang wanita hampir menyambar dinding saat telapak tangan kekar mendarat kuat di pipi kirinya. Wanita itu merintih, memegang pipinya yang berdenyut dengan cairan asin yang terasa di lidahnya. Dia yakin bibirnya pasti saat ini sudah pecah seperti biasanya.


Wanita itu mulai memohon ampun atas sesuatu yang entah bagaimana ceritanya bisa menjadi kesalahannya.


Dia masih terus ditampar hingga tangan kekar yang memukulnya tadi kembali menarik rambut panjangnya, menyeretnya naik ke atas kasur.


"Dasar jalangg! Ngapain Lo deket-deket sama Toni, hah?!" berang Josh marah.


Emosi yang selalu meledak-ledak setiap kali dia tahu pacarnya bersama dengan pria lain, membawa Anna harus merasakan bogem mentah dari Josh.


Berpacaran selama hampir lima tahun nyatanya tidak membuat pria bertubuh tinggi itu percaya dan berhenti bersikap overprotektif padanya. Anna terus saja dipukul jika Josh tahu dia sedang atau kebetulan bertemu dengan pria lain seperti yang terjadi tadi sore.


"Lo tahu Toni itu temen gue, kan? Gue nggak suka Lo deket-deket cowok manapun Anna ... Lo itu milik gue!" Suara menggelegar keluar dari mulut pria yang memerah penuh emosi.


Tangan dan kakinya seperti tidak pernah lelah mendaratkan pukulan ke tubuh Anna yang kini terbaring lemah di atas ranjang apartemen.


Anna sampai terbatuk-batuk merasakan dada dan perutnya yang berdenyut bukan main merasakan amukan pria kejam yang adalah kekasihnya sendiri.


"A-ampun Josh, tolong maafin gue...," rintih Anna dengan sudut mata yang mulai membiru.


Tidak hanya tubuh yang menjadi sasaran pria yang selalu saja kasar memperlakukannya sejak dulu, namun juga wajah dan rambutnya juga ikut menjadi sasaran pria itu jika sedang marah seperti sekarang.


Josh berdecih, menarik rambut Anna hingga kepalanya ikut tertarik ke belakang. "Lo jangan lupa, selama ini gue yang hidupin hidup Lo dan nyokap Lo di sini! Sampe kapanpun Lo nggak bakal jadi milik siapa-siapa sebelum gue bosan sama Lo!"


Anna menahan tangan Josh di kepalanya, berusaha menarik tangan pria itu dari sana. Menyerahkan hidupnya untuk Josh ternyata tidak membuat hidupnya bahagia.


Dia memang bodoh, terlalu terlena dengan sikap manis Josh diawal hingga tidak sadar dengan sikap pria tidak waras ini yang telah banyak membuat hidupnya jauh menderita lagi.


"Hidup Lo udah jadi milik gue, Na. Jangan pernah mimpi Lo bisa lari dari gue!" Josh mendorong Anna sekali lagi, mendaratkan tamparan terakhir kalinya sebelum wanita yang lebam di sana sini itu pingsan.


"Kita udah sampai, Den." Suara Kang Slamet membuyarkan lamunan Anna tentang kejadian setengah tahun yang lalu.


Jacob turun dari mobil tanpa menunggunya. Anna tahu pria yang berkata mencintainya sedang kesal padanya saat ini.


"Makasih, Kang," ucap Anna sopan.


"Sama-sama, Neng. Maaf kalo saya kelamaan tadi." Anna mengangguk memberi tanda tidak masalah.

__ADS_1


Wanita itu ikut masuk ke dalam rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas di depannya.


"Lama amat, sih!" sentak Jacob ternyata menunggu Anna di depan pintu.


"Eh, aku pikir kamu udah duluan masuk," sahut Anna tidak enak.


"Emangnya kamu udah pernah kesini? Nggak mungkinlah aku tinggalin kamu, Beb." Jacob menekan bel rumah, menunggu seseorang dari dalam rumahnya membuka pintu.


Dia lalu mundur dan kembali berdiri di samping Anna. "Nanti nggak usah gugup, bersikap biasa aja kayak biasanya. Orang tua aku baik."


Jacob mengambil tangan Anna, menggenggamnya dengan hangat. Meski masih saja kesal karena dipaksa keluar oleh Anna saat berada di dalam cafe tadi, Jacob tidak mau merusak momen pertama wanitanya bertemu dengan kedua orang tuanya.


Mungkin nanti dia juga harus meminta penjelasan dari Anna tentang siapa pria arogan itu tadi siang, pikir Jacob.


Begitu pintu dibuka dari dalam, Anna lebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah sana. Detak jantung yang gugup dengan pikiran-pikiran takut tidak akan diterima oleh orang tua atasannya kembali menghantui pikiran Anna.


Manis membuka pintu dengan lebar, tersenyum menatap anak laki-lakinya dan satu wanita cantik berdiri di sampingnya.


"Jacob, anak Mami...." sambut Manis langsung menghambur memeluknya.


"Mi, aku udah gede, Mi ... ngapain dipeluk-peluk segala, sih?!" protes Jacob malu diperlakukan begitu di depan Anna.


"Ish, kamu tetep aja anak kecil Mami!" sahut Manis melepaskan pelukannya.


"Ini pasti calon menantu Mami, yah?" ucapnya bahagia.


"Udah tahu nanya!" ketus Jacob.


"Ck, Mami nggak nanya sama kamu! Minggir!" Manis mendorong Jacob, memaksanya melepaskan pegangan tangan dia dan Anna sejak tadi.


"Ayo, Sayang. Kita masuk," ajak Manis merangkul pundak Anna.


Jacob mendengus, kesal melihat wanita paruh baya itu mulai menunjukkan keposesifannya pada Anna.


Ketiga orang tersebut masuk dengan Jacob berjalan mengikuti ibu dan juga wanita yang dia cinta.


"Nggak usah malu-malu sama Mami. Calon istri anak Mami bakal jadi anak Mami juga." Manis mengajak Anna duduk dikursi ruang tamu dan ikut menjatuhkan dirinya disamping Anna.


Wajah gugup sangat terlihat dari wanita muda dengan manik mata coklat tuanya. Manis berusaha membuat suasana disekitar mereka santai dan penuh kehangatan.


"Mami, kok duduk disitu, sih?! Harusnya, kan aku!" protes Jacob lagi merasa ibunya semakin ingin mendominasi Anna.

__ADS_1


"Berisik! Duduk aja disitu!" jutek Manis.


Anna sempat tersenyum tipis melihat wajah kesal Jacob yang masih ingin membantah ucapan ibunya namun tidak berani. Manis memang ramah dan bahkan mungkin terlalu baik untuk seorang wanita berada. Sedikit banyak Anna mulai merasa nyaman berbicara sedekat ini dengan Manis. Mereka berkumpul, berbicara satu sama lain hingga pria berwajah mirip dengan Jacob datang.


"Papi, sini...," panggil Manis bersemangat.


Mike mendekati kursi tamu, duduk dekat dengan Jacob. Anna merasa jantungnya berdetak tidak enak begitu melihat sosok atasan yang pernah membantunya hingga bisa pergi sejauh mungkin dari Negara ini sudah tiba di sana.


"Ini loh, Pi. Dia ini calon istrinya Jacob." tunjuk Manis memperkenalkan Anna pada suaminya.


Anna sempat menunduk, tidak berani menatap Mike. Entah apa pikiran pria bermanik mata biru itu padanya sekarang, gumam Anna dalam hati.


"Yaudah, jadi kapan kalian kawin?" ucap Mike tanpa basa-basi.


"Ish, nikah, Pi bukan kawin!" sahut Manis meluruskan ucapan suaminya.


"Iya itu sama aja, kan artinya, Mi. Tetep aja bakal tidur satu ranjang dan main di sana!" seloroh Mike.


Manis berdecak menggelengkan kepala tidak habis pikir. "Ngomong sama Papi emang nggak pernah ada yang bener!"


Suasana yang ditakutkan Anna tadinya akan sangat menegangkan dan juga memalukan untuknya malah berbalik menjadi suasana penuh keakraban.


Anna setidaknya bisa sedikit bernafas lega dan tidak dibuat trauma lagi dengan penolakan dan juga penghinaan yang sempat dia dapati dari keluarga seseorang waktu lalu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Part Anna sama Jacob bakal diceritain pelan-pelan, yah 🤗


Jangan lupa dukungan kalian untuk novel ini guys 🤗


__ADS_2