
"Jadi Anna nggak cerita apa-apa sama kamu?" Jacob menggeleng.
"Yah, wajarlah aku rasa kenapa Anna susah ceritain masalah itu sama kamu, Pak Jacob. Anna selalu trauma tiap ngebahas itu," sambung Toni masih duduk di samping Jacob.
"Iya, makanya aku nggak mau maksain dia cerita dan milih cari tahu sendiri."
Toni mengangguk setuju. "Emang lebih baik begitu Pak Jacob. Nanya sama Anna, sama aja ngebuka luka dihatinya. Aku juga selalu berusaha meminimalisir membicarakan hal itu kalo lagi sama dia."
Jacob mengernyit. "Selalu sama dia?" tanyanya curiga.
Toni tersenyum, mengerti dengan kecurigaan pria bermata sedikit sipit itu. "Jangan mikir yang aneh-aneh, Pak Jacob. Aku emang ngebantuin Anna selama ini, tapi bukan berarti aku punya perasaan sama dia. Sebenernya dulu aku punya adik perempuan yang meninggal karena punya cerita sama kayak Anna. Dia nggak mampu nerima kekerasan yang dia dapat dari pacarnya sendiri. Waktu itu aku nggak pernah sekalipun bantuin adik aku karena terlalu fokus sama kerja. Beberapa kali dia sempet ngeluh dan minta tolong sama aku. Tapi begonya aku malah nggak percaya dan nganggep dia cuman mengada-ada supaya aku merhatiin dia. Dan berita dia meninggal bunuh diri di kost-annya bikin aku sadar kalo aku udah jadi kakak yang nggak berguna buat adik aku sendiri."
Wajah Toni terlihat menyendu seiring rasa sesal yang hingga detik ini selalu menghantui hatinya. Mungkin jika saat itu dia lebih peka dan peduli, adiknya pasti masih hidup dan bahagia hingga kini.
"Aku turut berduka Pak Toni," sahut Jacob tidak enak.
Ternyata kecurigaannya tidak berdasar, pikir Jacob.
"Makasih, Pak Jacob. Mungkin karena alesan itu juga aku tergerak pengen ngebantuin Anna setelah tahu temen aku Josh juga punya sikap yang senang mukulin cewek dengan alesan cinta."
"Eh, Pak Toni sama Josh temenan?" tanya Jacob kaget.
"Iya. Deket tapi nggak juga, sih. Sedikit banyak aku tahulah soal dia."
Jacob mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Mungkin dia bisa mencari tahu apa kelemahan Josh sebelum bertindak lebih jauh agar bisa melindungi wanita yang dia cinta.
"Jadi, apa Pak Toni mau bantuin aku?" tanyanya penuh arti.
Dua pria itu larut dalam pembahasan serius tentang rencana Jacob pada mantan kekasih Anna hingga Toni pamit begitu informasi penerbangannya terdengar.
"Semoga sukses Pak Jacob. Maaf aku nggak bisa hadirin nikahan kalian," ucap Toni sebelum beranjak meninggalkannya.
Jacob mengantar kepergian pria yang masih sempat melambaikan tangan padanya dan kembali ke rumah. Dia harus segera mencari ayahnya untuk membahas lebih lanjut rencana apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Seperti kata Toni, dia harus cepat bergerak sebelum Josh bertindak mengancam Anna menggunakan calon mertuanya.
"Pi, temenin aku ke rumah Anna," pekik Jacob begitu membuka pintu ruang kerja Mike.
Tidak memperhatikan siapa saja yang ada di dalam, Jacob dibuat salah tingkah saat melihat ada ayah, ibu, Anna dan juga seorang wanita berwajah mirip dengan calon istrinya tengah duduk di dekat Anna.
Ke empat orang itu kompak mendongak, menatap ke arah Jacob yang kaget mendengar suara pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar.
"Ya ampun, Cob. Kamu nggak bisa ketuk pintu dulu, yah?" Manis bersuara.
"So-sorry, Mi. Aku nggak tahu kalian punya tamu di sini."
Anna terlihat tersenyum tipis menatap geli calon suaminya.
"Yaudah, sini duduk." panggil Manis menepuk sofa disampingnya.
Jacob mendekat dengan patuh, duduk berhadapan dengan wanita yang memang mirip dengan Anna.
"Anak kami kebetulan baru saja sampai, Bu Ani. Dia ini yang akan menjadi calon suaminya Anna." Jacob tersentak, menatap ibunya bingung.
Manis ikut beralih menatap anaknya. "Ini ibunya Anna, Cob. Calon mertua kamu," ucapnya menjawab kebingungan Jacob.
"Eh, calon mertua?"
"Iya. Salim sana, gih." Jacob malu-malu mengulurkan tangan menyalami Ani yang tersenyum hangat membalas salaman tangannya.
"Ha-halo Tante," sapa Jacob gugup.
Baru saja dia berencana akan pergi menemui orang tua Anna sore ini karena takut Josh akan lebih dulu bertindak. Siapa yang menyangka ibu calon istrinya malah sudah berada di rumahnya sendiri. Apa ini rencana ayahnya? Gumam Jacob dalam hati.
"Halo, Nak Jacob. Terima kasih sudah menjaga Anna selama ini," sahut Ani lembut.
"Anna udah cerita sama ibu tentang rencana pernikahan kalian. Ibu seneng banget denger Anna akhirnya mau nikah dengan pria baik yang bisa gantiin Ibu jagain dia." Hati Jacob mendadak membuncah mendengar pujian Ani untuknya.
__ADS_1
Rasa bangga dan bahagia bisa diterima calon mertuanya sungguh adalah perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan jelas oleh Jacob. Dia senang karena meski sempat berteriak masuk ke dalam sini, penilaian Ani tentangnya bisa semanis ini pikir Jacob.
"Iya, Bu. Makasih juga karena udah izinin aku nikah sama Anna," sahut Jacob bahagia.
"Aku nggak akan janji tapi akan buktiin sama Ibu, kalo aku bakal jagain Anna dan cintai Anna sampai nanti." sambung Jacob beralih menatap wanita yang dia cinta tersipu malu di depannya.
Entah perasaan apa ini tapi Anna benar-benar bahagia mendengar perkataan Jacob pada ibunya. Apa mungkin keseriusan Jacob telah membuat dia jatuh cinta padanya? Anna hanya tahu dia bahagia dan ... bersyukur.
"Kalo gitu kita tinggal nunggu persiapan semuanya beres yah, Bu Ani. Semua bakal kami atur, Bu Ani nggak perlu repot apa-apa." Manis menengahi pembicaraan anaknya dan calon besannya penuh semangat.
"Nanti Bu Ani tinggal aja dulu di sini. Karena mengingat ada seseorang yang harus dihindarin, kami ingin Bu Ani dan Anna bisa aman sampai hari pernikahan anak-anak kita tiba," sambung Manis ramah.
Wajah Ani terlihat sedikit tidak enak mendengar rencana Manis. Namun mengingat bagaimana gilanya mantan kekasih anaknya yang masih saja meneror dia hingga tadi malam, Ani jadi tidak punya pilihan lain lagi.
Ani pun akhirnya bersuara, "Baiklah. Kami ikut pengaturan, Bu Manis aja gimana."
.
.
.
.
.
.
.
.
Untung si biji senior Mike gercep yah, gengs 🤭🤣
__ADS_1