
"Kamu nggak mau cerita sama aku siapa cowok tadi siang, Beb?" Jacob duduk di dekat calon istrinya setelah mengantarkan wanita itu ke kamar.
Sesuai perkataan Jacob, Anna akan tinggal dirumahnya sampai dia melamar Anna secara resmi.
Kedua pasangan itu sedang duduk berhadapan dengan satu buah meja kecil berada diantara mereka.
"Buat apa?" tanya Anna cuek.
"Ish, setidaknya kamu cerita apa hubungan kamu sama dia dulu, kan sama aku!" sahut Jacob ingin tahu.
Melihat dia yang dipaksa Anna pergi dari cafe tadi siang membuat Jacob penasaran dengan siapa sebenarnya pria bertubuh tinggi itu.
"Tunggu, emang selama ini kamu pernah cerita tentang masa lalu kamu sama aku? Tentang siapa aja cewek kamu dan apa aja yang kamu lakuin di masa lalu. Enggak pernah, kan?" telak Anna menjawab.
Jacob langsung diam, membenarkan perkataan Anna dalam hati.
"Selama kamu juga nggak pernah ngomong tentang masa lalu kamu sama aku. Aku juga nggak akan akan ngasih tahu kamu apa-apa!" sambung Anna tidak peduli.
Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin mengorek luka lama lagi. Butuh setidaknya waktu yang cukup lama untuk Anna menerima dan merelakan semua masa lalu pedih yang dia lewati bertahun-tahun lamanya.
Anna tidak mau disaat dia sudah move on, Jacob malah membuka luka yang masih saja membekas dalam hati.
"Aku tahu, Beb. Aku emang nggak pernah ngasih tahu kamu tentang masa lalu aku. Tapi selama ini, cuman kamu yang aku seriusin. Kamu bisa tanya mami sama papi kalo aku pernah ngenalin cewek ke mereka sebelumnya. Satu-satunya cewek yang pernah aku kenalkan dan bawa ke rumah ini, yah cuma kamu!" jujur Jacob.
Anna memicingkan mata, merasa ucapan Jacob terlalu mengada-ada. "Aku nggak percaya!" ujarnya bersedekap dada.
"Terserah, sih kalo kamu nggak mau percaya. Itu hak kamu. Tapi kalo aku emang boongin kamu, aku nggak akan nyuruh kamu nanya sama mami dan papi soal ucapan aku tadi," sahut Jacob. "Aku siap kamu tinggalin kalo aku emang terbukti boong!" sambungnya memberi keyakinan dihati Anna.
Wanita itu menatap dalam manik mata abu-abu Jacob di depannya. Bisakah pria ini dia percaya? Anna tidak mau terjebak lagi dalam kebodohan yang sama, pikirnya.
__ADS_1
"Dan selain wanita-wanita yang selalu temenin aku di club, dan hotel. Selain itu nggak ada lagi wanita lain di hidup aku," ucap Jacob lagi apa adanya.
Jacob berpikir tidak ada gunanya dia menyembunyikan apapun dari Anna. Toh, mereka juga bertemu di club waktu itu. Dan sebagai pecinta ruang tertutup dengan dentuman musik keras dan minuman memabukkan, Jacob tahu bagaimana kehidupan malam di sana yang berakhir sampai pagi.
Sedikit banyak Anna pasti tahu apa yang dilakukan pria single seperti dia di tempat seperti itu.
"Nah, sekarang giliran kamu, Beb. Ceritain sama aku gimana kehidupan kamu sebelum ketemu aku." Jacob tersenyum dengan wajah penuh harap.
Anna masih diam tidak memberi penjelasan sama sekali. Dia sendiri masih bingung apa harus mempercayai pria yang berkata mencintainya ini atau tidak.
Terlalu banyak rasa percaya yang pernah dia berikan dan juga kecewa yang dia rasakan. Anna takut jika dia kembali harus menelan pil pahit yang membuat hidupnya menderita seperti dulu.
"Tapi kalo kamu belum mau ngomong juga nggak pa-pa, sih. Aku bisa cari tahu sendiri semua tentang kamu kalo aku mau," sambung Jacob penuh keyakinan.
Anna tahu tidak akan sulit baginya mencari tahu hal itu. Apalagi calon ayah mertuanya juga yang membantu dia bisa pergi dari sini, Jacob pasti bisa bertanya padanya pikir Anna.
Dengan hati yang sesak Anna mulai berujar. "Sebenernya cowok tadi siang itu mantan aku, Jac. Kami pacaran hampir lima tahun tapi berakhir karena aku yang milih tinggalin dia."
"Awal pacaran semuanya manis-manis aja. Dia nunjukin sikap yang baik sampe berinsiatif ngebantu perekenomian aku sama bunda yang single parent. Josh emang datang dari keluarga berada dan juga keturunan ningrat katanya. Aku juga nggak begitu tahu, tapi semua keluarga dia memang orang-orang berada semua." Anna menggenggam ujung rok diatas lututnya dengan wajah yang berubah penuh kecemasan.
Setiap kali membahas masalah antara dia dan Josh, Anna akan bertingkah seperti ini. Jacob memperhatikan itu.
"Melihat semua kebaikan dia, aku nggak sadar sama sikap posesif dia ke aku. Aku dilarang deket sama siapapun terutama cowok. Semua pergerakan aku bener-bener di awasin sama dia. Dan kalo aku ngelanggar atau dia tahu aku pergi tanpa sepengetahuan dia, aku bakal di...." Anna tidak mampu meneruskan kalimatnya lagi.
Tangan bergetar diikuti rasa perih hampir di sekujur tubuhnya selalu Anna rasakan setiap kali membahas luka yang ditinggalkan Josh padanya.
Rasa trauma atas semua perbuatan Josh telah mengambil hampir separuh kewarasan Anna. Wanita itu mulai menitikkan air mata dengan dada yang makin sesak di dalam sana.
"Beb...." Jacob dengan cepat beranjak, mendekati dan memeluk wanitanya khawatir.
__ADS_1
Sepertinya ada luka yang sangat mendalam yang dirasakan Anna selama ini pikir Jacob.
"Maaf, Jac. Aku nggak bisa nerusin pembicaraan kita," lirih Anna dalam dekapan prianya.
Pernah berjanji tidak akan pernah menangis lagi karena pria itu, nyatanya tidak mampu dilakukan oleh Anna. Dia merasa pengaruh buruk Josh telah tertinggal dan mendarah daging dihidupnya. Anna merasa gagal melupakan semua kenangan buruknya selama ini.
Jika saja bisa lupa ingatan, Anna akan jauh memilih jalan tersebut daripada harus tersiksa dengan semua kenangannya bersama Josh. Dia hanya ingin hidup bahagia tanpa terbawa bayang-bayang luka masa lalu lagi.
"Iya nggak pa-pa, Beb. Sorry kalo aku udah maksain kamu cerita soal ini." Jacob mengusap punggung Anna yang masih bergetar hebat dalam dekapannya.
Hatinya berdenyut tidak tega melihat keadaan wanitanya. Separah apa kenangan buruk yang ditinggalkan pria gila itu pada Anna? Jacob semakin penasaran dengan kehidupan Anna sebelum bertemu dengannya dan bisa lepas dari Josh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Dukung terus karya author, yah
Jangan lupa Like dan Vote kalau kalian beneran sayang sama author 🤭😄