Touch My Body

Touch My Body
Extra Part


__ADS_3

"Gimana, Ci?"


"Positif, Mas."


"Astaga...." Gober beranjak dari ranjang tidur mereka cepat. "Mana aku liat?" pintanya.


Cima memberikan satu buah benda panjang dan pipih pada Gober. Sudah sejak kemarin benda itu di simpan Gober di atas nakas tepat didekat tempatnya tidur.


Semalaman pria berwajah manis itu tidak bisa tidur nyenyak memikirkan segala kemungkinan yang akan membuat hidup keluarga mereka berubah banyak hal.


"Itu ... disitu ditulisnya positif," tunjuk Cima menjelaskan bagaimana benda itu bekerja.


"Aku cobainnya dua sekaligus Mas, hasilnya juga tetep sama positif...," sambung Cima berkaca-kaca.


Dua buah tes kehamilan terpampang nyata di depan Gober saat ini. Antara percaya dan tidak tulisan pada layar keduanya tertulis positif. Gober sontak terdiam dengan tangan bergetar.


"I-ini bener nggak salah, kan, Ci? Kamu bener positif hamil, kan?" Gober menatap Cima dan tes kehamilan ditangannya bergantian.


"Kayaknya, sih emang iya Mas. Mommy bilang dicoba dulu pake itu, kalo hasilnya emang positif tingkat keakuratannya bisa sampe 99% bener."


Gober seketika tersenyum sumringah, meletakkan dua tes alat kehamilan istrinya di atas meja rias dan mendekati Cima bahagia.


"Berarti emang bener kamu hamil, Ci. Ada hasil juga pandan-pandan aku di dalem...," ujarnya terharu.


"Pandan?" bingung Cima.


"Iya pandan. Kan, punya aku baunya kayak pandan dan banyak, Ci. Mereka ngumpul jadi satu penuhin perut kamu sampe bisa tumbuh tunas bayi dari pertemuan keenakan kita berdua," terang Gober semakin tidak jelas.


Cima menggelengkan kepala mengerti ke mana arah pembicaraan tidak masuk akal suaminya kali ini.


"Moga aja anak kita nggak bakal bau pandan kalo gitu, Mas...," kekeh Cima diikuti tawa terbahak dari Gober.


**************************


"Jac-jac ... udah belum?"


"Iya, Beb. Bentar...!" pekik Jacob dari dalam dapur.


"Lama amat, Jac? Aku udah laper, nih!?" Anna masih memanggil nama suaminya berulang kali dari ruang TV.


Pria yang dipanggil sejak tadi oleh Anna sedang kewalahan sendiri di dalam dapur membuatkan sarapan yang di minta Anna sesaat setelah dia bangun.


"Iya, Beb. Lima menit lagi masak. Tunggu bentar lagi, yah Bebeb...," sahut Jacob lagi.

__ADS_1


Tangannya dengan lincah mengaduk-aduk sup jagung yang dibuat sendiri olehnya. Hampir setiap pagi Anna selalu meminta Jacob membuatkan sarapan seperti ini sebelum dia berangkat kerja.


Meski tidak memiliki cita rasa apa-apa dan terkesan tawar, Anna tetap memaksanya harus memasakkan sup jagung untuk dia makan. Alhasil Jacob yang seumur hidupnya tidak pernah sekalipun memasak, sebulan ini harus membiasakan diri berkutat dengan alat-alat masak di sana demi untuk istri tercintanya.


"Na, jangan teriak-teriak begitu. Kasian suami kamu di dapur." Ani datang mendekati anak perempuannya dengan tenang.


Drama seperti ini hampir setiap hari dia lihat dan dengar. Ani mulai merasa kasihan pada menantunya yang harus bangun pagi-pagi agar bisa membuatkan sarapan untuk Anna.


"Aku nggak teriak, Bu. Aku cuman minta Jacob lebih cepet aja masaknya...," kilah Anna.


"Iya, tapi nggak baik juga nyuruh-nyuruh suami kamu sampe teriak-teriak begitu, Na. Kasian Jacob masaknya sendiri nggak dibantu siapa-siapa. Lagian dia juga, kan belum lama di dapur. Masa makanannya udah langsung mateng."


Anna diam tidak mau membantah lagi. Kadang dia memang sedikit merasa bersalah dengan sikapnya yang selalu ingin semuanya serba cepat dari Jacob. Tapi, bukan maunya juga seperti ini. Terlalu lama menunggu malah membuat mood-nya cepat sekali berubah.


"Hari ini jadwal kamu kontrol, kan?" sambung Ani.


"Iya, Bu. Jam sebelas nanti."


"Mau Ibu temenin?"


"Nggak usah, Bu...." Jacob menyela, berjalan mendekati dua wanita berbeda usia itu.


Tangannya memegang nampan berisi satu mangkuk penuh sup jagung yang masih mengepul. Diletakkannya nampan tersebut di atas meja dekat Anna.


"Kamu emang nggak sibuk di kantor, Jac?" Anna bertanya.


"Udah enggak, Beb. Aku minta semua urusan perusahaan yang nggak terlalu penting dipegang dulu sama sekretaris. Aku mau fokus jagain kamu sampe anak kita lahir."


Hati Anna langsung menghangat mendengarnya. Memang sudah hampir empat bulan mengandung buah cinta mereka, Jacob kadang sekali menemaninya dirumah dan sibuk di kantor.


Waktu bersamanya hanya saat pagi hari seperti ini. Jacob biasanya akan pulang ke rumah jika hari sudah larut malam dan Anna sudah tertidur pulas di ranjang mereka.


"Bener nggak pa-pa, Cob? Ibu nggak masalah, kok kalo harus temenin Anna kontrol ke dokter dan jagain dia dirumah...," timpal Ani tidak enak.


"Nggak pa-pa, Bu. Anna istri aku, aku bertanggung jawab penuh sama dia. Ibu nggak perlu khawatir, ini sebagai bentuk kewajiban aku sebagai suaminya Anna."


Ani mengangguk dengan hati bangga dan bahagia. Anaknya punya seorang suami yang baik, pikirnya. Ani bersyukur kebahagiaan akhirnya kini menjadi milik anak tercintanya bersama keluarga kecil mereka kelak.


**********************


"Nggak ada yang lupa, kan, Bor?"


"Kayaknya, sih enggak, Pak. Semua udah aku cek satu-satu. Semua perlengkapan ibu Mulan dan baby ada dalem satu koper kata Bu Mulan kemaren, dan kopernya udah aku masukin di bagasi mobil di rumah dari jauh-jauh hari juga."

__ADS_1


Rama mengangguk dengan dada yang sejak tadi tidak tenang. Mulan baru saja mengabarinya kalau dia tiba-tiba saja merasakan mulas saat tengah berada dirumah bersama satu perawat yang Rama tugaskan menjaga istrinya.


Wanita itu terdengar merintih sakit ketika perawat menelepon Rama lima menit yang lalu. Pria berkening tebal itu dengan cepat meminta Bora menghubungi ambulance untuk menjemput Mulan dirumah mereka.


Tidak ada waktu lagi jika Rama harus kembali ke rumah, pikirnya. Dia memilih langsung ke rumah sakit bertepatan dengan datangnya ambulance yang membawa Mulan tiba di sana.


"Sayang...." Rama bergegas mendekati Mulan begitu di dorong beberapa perawat masuk.


Selang oksigen terpasang di hidung Mulan dengan dahi dipenuhi keringat.


"R-ra...."


"Iya, Yang. Aku di sini. Maaf aku malah ninggalin kamu di waktu kayak gini." Rama menggenggam tangan Mulan yang balas meremas tangannya kuat.


"Sa-sakit, Ra...." lirih Mulan dengan mata terpejam.


"Iya, iya. Garuk atau jambak aja aku buat ngurangin sakitnya, Yang. Aku nggak pa-pa, aku siap."


Mulan di dorong masuk ke ruang persalinan dan dipindahkan ke atas ranjang persalinan. Dokter yang menangani Mulan selama mereka tinggal di Itali sudah diberitahu lebih dulu dan telah siap membantu Mulan melahirkan anak tercintanya bersama Rama.


Mulan kini tengah bersiap mengejan mengikuti instruksi dokter kandungan pribadinya.


"Tarik nafas yang dalam dan dorong kuat begitu hitungan ketiga Bu Mulan. Buat sama seperti yang sudah sering saya ajarkan sebelumnya." Dokter mulai menghitung dan meminta Mulan rileks dan tidak terburu-buru.


Rama berdiri di samping kanan istrinya melihat bagaimana perjuangan wanita yang dia cinta melahirkan buah cinta mereka.


Pria itu akhirnya tahu apa arti kalimat 'surga berada dibawah telapak kaki ibu'. Inilah alasannya kenapa ibu adalah seorang pejuang yang luar biasa dan patut diberi penghormatan setinggi-tingginya.


"Selamat Pak, Bu. Anaknya perempuan dan sehat."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Extra Part End...


__ADS_2