Touch My Body

Touch My Body
Ajakan


__ADS_3

"Bodoh! Gimana ceritanya kamu bisa kehilangan Mulan, Deno?!" Pria yang tidak lagi muda menggebrak meja di depannya kuat, begitu mendengar laporan anak laki-lakinya tentang Mulan yang menghilang.


"Ini udah mau seminggu dia hilang dan kamu baru ngasih tahu Papi?! Kamu mau orang-orang tahu tentang Papi yang punya anak diluar nikah?!" Cokro menunjuk wajah Deno marah.


Menghilangnya Mulan bisa menjadi boomerang yang tidak baik bagi keluarga mereka. Bukan hanya karena reputasinya sebagai mantan pemimpin negara yang bisa tercoreng, namun juga citra baiknya yang selama ini dia bangun demi untuk keluarga mereka.


Cokro tidak mau usahanya selama bertahun-tahun ini sia-sia hanya karena keberadaan Mulan yang akan diketahui publik. Untuknya nama baik keluarga adalah hal yang paling utama lebih dari apapun.


"Aku juga udah berusaha nyari dia, Pi. Tapi anak haram Papi itu emang nggak bisa ditemuin. Aku udah cek semua penerbangan laut dan udara sampe ke seluruh penjuru daerah, bahkan aku juga bikin pengumuman orang hilang di media sosial. Tapi sampe sekarang, sama sekali belum ada informasi apa-apa soal dia," terang Deno panjang lebar.


Usahanya mencari Mulan hampir seminggu berjalan ini memang tidak membuahkan hasil apapun. Deno sampai bingung di mana wanita itu berada hingga bahkan sehelai rambutnya pun tidak bisa ditemukan.


Deno yakin Mulan pasti sengaja menghilang atau kabur ke suatu tempat yang tidak bisa dia temukan.


"Trus kenapa kamu baru ngasih tahu Papi sekarang, hah?! Kamu mau bikin Papi jantungan?!" marah Cokro lagi pada anaknya.


"Nggak gitu, Pi. Aku pikir aku bisa handle masalah ini tanpa ngasih tahu Papi. Aku juga nggak nyangka Mulan bisa kabur sampe nggak bisa ditemuin kayak gini."


Cokro mendengus membuang nafas kasar. Anaknya memang lebih senang menyelesaikan masalahnya sendiri dibanding memberitahukannya padanya jika dia merasa masih mampu menanganinya.


"Trus kamu udah cek ke rumah mamanya belum?" tanya Cokro.


"Udah, Pi. Rumahnya masih kosong sampe ini, dia nggak pernah kesana. Aku udah suruh orang jagain rumah itu 1x24 jam. Mereka bilang nggak ada yang kesana sampe sekarang."


Cokro mengusap dagunya berpikir, jika Mulan tidak kesana lalu kemana wanita itu pergi? Apa mungkin dia tidur di kuburan ibunya selama ini?


"Aku juga udah cek kuburan wanita selingkuhan Papi, dia nggak pernah kesana kata penjaga kuburan," sambung Deno mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan ayahnya.

__ADS_1


"Nggak usah ngomong kayak begitu lagi! Wanita itu juga udah mati karena ulah kamu sama mami kamu, kan?! Masih belum puas kamu habisin nyawanya?" sinis Cokro menatap kesal Deno.


Anaknya memang selalu menyebut ibu Mulan dengan sebutan itu. Cokro hanya tidak suka jika Deno masih saja mengungkit-ungkit masalah yang sudah lama berlalu.


"Bukan aku sama mami yang habisin dia, Pi. Tapi emang udah nasibnya dia yang cuma bisa hidup sampe umur segitu. Siapa suruh mau aja jadi selingkuhan pria beristri. Kena, kan dia karmanya...," sahut Deno enteng.


Kejadian bertahun-tahun yang lalu itu masih sangat jelas dalam ingatannya. Deno bahagia bisa mendengar kabar kematian ibu Mulan yang meninggal saat Mulan masih berumur delapan tahun.


Wajah kebahagiaan ibunya menyambut berita kematian selingkuhan ayahnya sangat Deno ingat. Setidaknya setelah kematian wanita itu, Wati ibu Deno bisa kembali tersenyum seperti sebelumnya.


"Udah, nggak usah bahas lagi orang yang udah mati. Sekarang fokus kamu cari aja di mana Mulan berada. Setidaknya kalo kita tahu dia ada di mana, kita bisa mikirin langkah selanjutnya untuk nasib Mulan nanti."


Deno mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. Meski sangat membenci pria yang duduk manis di depannya, tapi Deno masih membutuhkan Cokro sebagai titik tumpunya kelak menjadi calon wakil presiden periode selanjutnya.


Deno akan menggunakan citra Cokro sebagai pria baik-baik yang bebas dari skandal dan kasus korupsi, demi kemenangan dia di kursi wakil presiden nantinya.


"Iya, aku udah denger berita itu, Pi. Kayaknya perusahaan ini emang punya kualitas dan kuantitas yang bagus. Kita harus bergabung sama mereka," sahut Deno tertarik dengan berita yang dia dengar juga kemarin.


"Yaudah, kalo gitu besok Papi bakal terbang ke Milan ketemu langsung sama bos mereka. Kata Bora dia udah di sana sekarang."


"Nggak usah, aku aja yang ketemu sama bosnya, Pi," ucap Deno menawarkan diri. "Besok kebetulan aku ada kunjungan kerja ke sana, aku bisa temuin dia di sela-sela kesibukan aku," sambung pria berkulit putih itu.


"Yaudah, Papi serahin semuanya sama kamu aja kalo gitu. Nanti Papi juga bakal bantu cari Mulan disini." Cokro beranjak, menepuk pundak Deno sebelum pergi meninggalkannya.


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, karena kehadiran Cokro di kantor Kementeriannya.


"Gimana, Bor? Udah ada kabar?" Pria blasteran dengan rambut yang mulai memutih duduk di depan meja kerjanya, tengah melakukan panggilan video dengan salah satu orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Semua udah beres, Pak. Mereka udah setuju mau kerja sama dengan perusahaan kita. Besok salah satu diantara dua orang itu bakal terbang ke Itali ketemu Pak Rama," sahut Bora memberitahukan rencana kedatangan keluarga Mulan itu.


Richard tersenyum puas mendengar laporan Bora. Rencana pertamanya berhasil berjalan dengan mulus. Richard akan memastikan rencana-rencana dia selanjutnya akan sama mulusnya dengan yang sekarang.


"Kerja bagus, Bor. Aku seneng dengernya. Pastiin kamu bantuin Rama biar bisa yakinin mereka dan nggak salah ngomong pas pertemuan. Sampe sekarang mereka masih nggak tahu siapa Rama, aku yakin keluarga nggak punya hati itu bakal langsung tergiur sama keuntungan yang kita kasih ke mereka."


"Pasti, Pak. Aku bakal usahain agar Pak Rama mau dengerin apa kata aku."


Richard tersenyum mengerti kemana arah pembicaraan Bora. "Kenapa? Kamu ragu Rama nggak mau dengerin apa kata kamu?" Bora mengangguk ragu-ragu.


"Nggak usah khawatir, Rama emang keras kepala dan nggak suka sama kamu. Tapi kehadiran kamu nanti pasti bakal bisa bantuin dia pas pertemuan. Percaya aja sama aku," sahut Richard memberi keyakinan dihati Bora.


.


.


.


.


.


.


.


Misi balas dendam udah mulai on the way, nih 🤭

__ADS_1


Double up buat pembaca setia Touch My Body 🥰


__ADS_2