
"Siapa kalian? Mau apa sama gue?!" Josh berdiri menatap nyalang tiga pria yang tidak dikenalnya.
Matanya tertumbuk pada satu pria yang kemarin sempat dia lihat bersama mantan kekasihnya di bandara.
"Oh, jadi Lo ke sini bawa pecundang-pecundang ini buat nantangin gue?" sinis Josh menatap Jacob.
"Kenapa, Lo takut hadepin gue sendiri sampe bawa dayang-dayang ke sini?!" cibirnya tersenyum remeh.
Orang suruhan Rama yang menahannya semakin merapatkan tubuh Josh ke mobil. Tangannya ditahan agar tidak bisa bergerak bebas. Josh sedikit meringis merasakan pergelangan tangannya yang berdenyut.
"Bangkee! Mulut Lo nggak pernah di sekolahin, yah?! Minta digilas nih, biji sialan!" Gober bersuara terpancing emosi dengan perkataan Josh.
Pria yang sedang ditahan itu malah menanggapinya dengan tawa meledek. "Biji? Kalo gue biji trus Lo apa? Kodok...?" ucap Josh semakin tertawa di depan tiga pria bertubuh tinggi hampir sama dengannya.
"Lo—"
"Udah nggak usah ditanggepin, Ber." tahan Jacob. "Nggak ada gunanya kita buang-buang waktu ngomong sama cowok berotak tumpul kayak dia. Cukup dia aja yang kelakuannya kayak binatang, kita jangan...."
Josh terdiam dengan wajah berubah marah. "Jaga omongan Lo, yah?! Gue bisa habisin Lo di sini kalo gue mau!"
Rama tertawa, memasukkan tangannya ke saku celana. "Dia nggak sadar dia yang bakal habis di tangan kita hari ini...!" selanya sengaja membuat Josh takut.
Gober dan Jacob ikut tertawa mendengar ucapan sahabat mereka. Wajah Josh semakin memerah menahan marah dan kesal.
"Lo pikir gue takut sama kalian?! Kalo berani sini maju satu-satu! Jangan cuman jago ngomong aja Lo pada!" tantang Josh menatap bergantian tiga sahabat itu.
"Males. Males gue tanding sama bancii yang suka mukulin cewek! Yang ada nanti Lo malah nangis kejer kalo kita gebukin satu-satu!" cibir Gober sengaja menyinggung Josh.
__ADS_1
"Iya, cuman bancii yang seneng mukulin cewek. Lo tinggal dipakein rok biar jadi bancii beneran!" sambung Rama tertawa terbahak diikuti dua sahabatnya yang lain.
Josh semakin meradang mendengarnya. Jika bukan karena orang suruhan Rama yang masih menahannya, Josh mungkin sudah maju menghantam bibir kurang ajar mereka.
"Cih, kalian ngomong begitu karena takut sama gue, kan? Kalian udah cocok jadi ibu-ibu arisan yang seneng berghibah!" Josh membalas ucapan Rama dan Gober, tidak mau kalah dengan sindiran pedas mereka.
Jacob sampai geleng-geleng kepala melihat pria yang sebentar lagi akan menerima nasibnya, masih saja bisa mengata-ngatai mereka dengan tidak gentar.
Muak? Iya. Jacob sudah muak melihat pria yang telah banyak menyakiti hati dan jiwa Anna. Tidak akan ada lagi kata ampun untuk pria gila ini, pikirnya.
"Tongkat gue mana?" Jacob bertanya pada satu orang mereka yang berdiri tidak jauh darinya.
Salah seorang diantaranya datang dengan cepat, membawa sebuah tongkat baseball di tangan.
"Ini, Pak." ucapnya menyodorkan tongkat tersebut ke tangan Jacob.
"Eh, udah mau langsung mulai, Cob?" kaget Gober melihatnya.
Satu orang yang menahan Josh menarik pria itu menjauh dari mobil dan seorang yang lain menahan tangan kanannya dari samping.
"Ma-mau apa Lo?" bergetar Josh melihat Jacob mendekatinya.
"Kenapa, takut?" Seringai berbeda terlihat dari wajah Jacob.
Pria berlesung pipit itu mengangkat tongkatnya ke bahu sambil meregangkan otot-otot tangan dan kepala.
Rama dan Gober berdiri tidak jauh dari mereka, keduanya tersenyum-senyum tidak sabar melihat pertunjukkan menegangkan yang sebentar lagi akan dimulai.
__ADS_1
"Nggak waras! Lo mau apa, hah?! Lepasin gue!" berontak Josh mulai ketakutan.
"Nggak usah takut, tongkat ini nggak bakal bikin Lo mati. Paling cuman patah tulang aja," santai Jacob.
"Sinting! Lepasin gue. Cuman pecundang yang main ngeroyok pake tongkat kayak Lo!" pekik Josh semakin memperkeruh keadaan.
Jacob tertawa, mulai mengayunkan tongkat ditangan. "Kalo Lo diem, sakitnya nggak bakal kerasa. Paling cuman satu dua detik, doang abis itu Lo cuman bakal ngerasa mati rasa aja nanti."
Dua orang yang menahan Josh semakin mengeratkan pegangan mereka begitu Jacob bersiap menyambar kaki kanan Josh.
Tangan Jacob terayun kuat mengenai lutut kanan Josh. Bunyi tulang tempurung yang pecah menjadi pertanda bagaimana kuatnya pukulan tongkat baseball Jacob mengenai lututnya.
"Aaaa....!" Teriakan kesakitan memenuhi telinga semua yang ada di sana.
Tubuh Josh seketika terkulai dengan kaki yang tidak mampu menopang tubuhnya lagi.
"Cemen! Baru segitu aja udah teriak-teriak kayak kucing minta kawin Lo!" Gober bersuara, meledek pria yang masih berteriak menahan sakit di depannya.
"Tadi aja jago banget nyinyirin kita. Dasar payah!" Rama ikut menambahi, tertawa mengejek menatap Josh yang dibiarkan terduduk begitu saja di atas aspal.
"Ini belum ada apa-apanya sama perbuatan Lo ke istri gue! Lo udah salah nyari perkara sama gue! Bikin Lo cacat udah paling pas buat bikin Lo kapok!" Jacob menarik tongkatnya lagi, bermaksud memukul lutut yang sudah tampak tak beraturan itu sekali lagi.
"A-ampun, ampuni gue. Maafin gue, gue nggak bakal gangguin hidup kalian lagi...," mohon Josh masih meringis menahan sakit.
Jacob berdecih jijik mendengar Josh. "Kalo maaf bisa bikin satu dunia hidup damai, polisi dan tentara nggak bakalan ada cuy...," sinisnya.
"Terima aja udah nasib Lo. Kita nggak bakal keluar dari sini sebelum Lo bener-bener sadar sama semua yang udah Lo lakuin ke istri gue!" Jacob mengangkat tongkatnya lagi menyambar lutut Josh kedua kalinya.
__ADS_1
Teriakan kesakitan menggema kembali di sekitar sana, bisa dipastikan Josh tidak akan bisa lagi berjalan normal seperti biasa.
"Inget, kalo Lo masih mau hidup tentram, jangan coba-coba nyari perkara sama gue dan istri gue. Ini peringatan buat Lo! Gue bisa muncul di mana aja dan kapan aja tanpa sepengetahuan Lo!" Jacob berbisik sebelum beranjak dari dekat Josh, mengakhiri pembalasan kemarahannya pada pria itu.