
"Masih ada jadwal apalagi abis ini, Bor?"
Pria berkacamata itu membuka layar tab, membaca jadwal atasannya setelah bertemu dengan rekan bisnis mereka dari siang menjelang sore ini.
"Kita masih harus ketemu satu rekan perusahaan kita lagi, Pak. Setelahnya udah nggak ada lagi."
"Hadeh ... emang nggak bisa besok aja yah, Bor? Aku capek banget daritadi pagi rapat mulu kerjaannya!" gerutu Rama menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di jok mobil.
"Tapi pertemuan ini udah Bapak tunda dari kemarin, Pak. Nggak enak kalo kita main tunda lagi sama mereka," sahut Bora mengingatkan.
Rama menghembuskan nafas panjang lupa kalau ini adalah pertemuan yang kemarin dia tunda demi bisa ke puncak bersama istrinya di cottage.
Rama melihat jam di tangan sebelum memutuskan akan kemana dia sekarang. Melihat masih ada hampir satu jam lagi sebelum dia menjemput wanitanya, Rama pun mengiyakan ucapan Bora untuk pergi menemui rekan perusahaan mereka.
"Yaudah kalo gitu, mau tunda lagi juga nggak mungkin, kan. Bilang sama mereka, kita udah on the way (dalam perjalan) ke sana!"
"Baik, Pak." Bora mulai melajukan mobil membawa mereka ke sebuah hotel yang menjadi tempat janji temu mereka dengan rekan perusahaan.
Baru saja keluar dari mobil setelah tiba di sana, ponsel Bora tiba-tiba berdering nyaring dari saku jasnya. Pria itu langsung merogoh ponselnya melihat nama seseorang yang juga menjadi kaki tangannya selama ini.
"Kenapa?"
"..............."
"Kamu yakin?"
"..............."
"Yaudah aku kesana sekarang." Bora menutup panggilannya, kembali masuk ke dalam mobil bersama Rama.
"Kok masuk lagi, Bor?" tanya Rama bingung.
Biasanya asistennya itu akan membukakan pintu untuknya sebelum dia turun dari mobil.
"Kita harus ke perusahaan, Bu Mulan sekarang, Pak."
"Kenapa, ada apa emangnya?"
"Orangku baru aja ngasih tahu kalo Pak Deno bertingkah mencurigakan, Pak. Dia baru aja masuk ke perusahaan, Bu Mulan dan minta ditinggalin di sana."
__ADS_1
"Apa?!" Rama sontak merasa perasaannya tidak enak, dia dengan cepat meminta Bora kembali memutar mobil menuju perusahaan istrinya.
"Cepet, Bor. Aku takut pria brengsek itu ngapa-ngapain Mulan di sana!"
Rama mengambil ponselnya mencoba menghubungi nomor Mulan. Wanitanya tidak kunjung mengangkat panggilan Rama hingga sampai lima kali. Rama makin gelisah duduk tidak tenang di tempatnya.
"Bu Mulan," panggil sekretarisnya masuk ke ruangan.
"Ada apa, Ni?"
"Maaf, Bu. Tadi Pak Rama telpon."
Mulan mendongak menatap sekretaris wanita yang baru hampir dua Minggu ini bekerja dengannya.
"Rama?" tanyanya memastikan.
"Iya, Bu. Beliau meminta Ibu turun ke lantai sebelas. Pak Rama menunggu Ibu di depan pintu darurat katanya."
Mulan mengernyit bingung. Tidak biasanya Rama menghubunginya lewat sekretarisnya. Apa pria itu sedang merencakan sesuatu?
"Yaudah, makasih yah, Nani...." Sekretarisnya mengangguk dan berlalu dari sana.
Awas saja kalau Rama mengajaknya main di tangga darurat, Mulan akan benar-benar memukul kepalanya karena berpikir yang tidak-tidak di dalam perusahaan tempatnya bekerja.
Wanita itu pun beranjak pergi menuju lantai sebelas yang berada di lantai bawah tempat ruangannya berada. Dia tidak sempat membawa ponsel saat Rama beberapa kali menghubunginya.
Berjalan dengan langkah panjang, suasana di lantai sebelas itu sangat sunyi. Mulan tidak melihat ada siapa-siapa di sana sampai dia membuka pintu darurat yang berada cukup jauh dari lift.
Mungkin benar jika Rama memang merencakan sesuatu yang membuat pria itu senang, pikirnya.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Mulan dibuat kaget dengan seseorang yang tiba-tiba mendorong dia dari belakang.
Mulan tidak sempat menggapai pegangan tangga di dekatnya saat tubuhnya melayang dengan cepat menyambar anak tangga yang cukup banyak.
Rasa sakit akan tubuh dan kepala yang membentur anak tangga dengan kuat membuat Mulan merasa sekujur tubuhnya remuk dan kepala yang berdengung hebat.
Sesaat sebelum menyentuh lantai tangga terakhir, Mulan masih sempat menyebut nama suaminya seakan meminta tolong padanya.
Deg...
__ADS_1
Jantung Rama mendadak berdetak tidak karuan dan seperti diremas sangat kuat dari dalam.
Perasaannya langsung gelisah, sedih dan tidak enak dengan rasa sakit yang sangat terasa. Ada apa ini? Kenapa perasaannya begini? Apa telah terjadi sesuatu pada wanitanya? gumam Rama menyentuh dada kirinya.
"Lebih cepet, Bor!" pekik Rama dari kursi belakang.
Rama langsung teringat dia harus menghubungi ruang sekretaris Mulan dan menanyakan di mana istrinya berada. Mungkin memastikan padanya akan memberi sedikit angin segar dihatinya, pikir Rama.
"Halo, Nani. Di mana Mulan?" tanyanya begitu telepon tersambung.
"Bu Mulan sudah turun ke lantai sebelas dari tadi, Pak."
"Lantai sebelas ... ngapain dia ke sana?"
"Loh ... tadi, kan Bapak yang minta Bu Mulan ke sana, Pak," sahut Nani bingung.
"Bodoh! Bukan saya yang telpon kamu tadi! Ngapain saya telpon kamu buat ketemu sama istri saya sendiri!" marah Rama merasa sekretaris Mulan tidak becus dalam bekerja.
"Sekarang kamu panggil satpam ke lantai sebelas secepatnya dan cari istri saya di sana! Saya masih dijalan menuju ke sana sekarang!" perintah Rama kesal.
Tanpa mendengarkan jawaban Nani di ujung telepon, Rama mematikan panggilan mereka sepihak.
Dia lanjut menghubungi pihak operasional perusahaan Mulan meminta seseorang mencari keberadaan Deno di dalam gedung. Pria tidak tahu malu itu harus berhasil dia tangkap sebelum Deno mencari alibi demi terhindar dari tuntutan hukum yang akan menjeratnya di kemudian hari.
Rama dan Bora tiba di perusahaan sesaat sebelum ambulance tiba. Rama dengan cepat berlari naik menggunakan tangga darurat karena merasa menggunakan lift akan memakan waktu terlalu lama.
Dia sama sekali tidak tahu jika istrinya masih tergeletak tidak sadarkan diri di lantai sepuluh tangga darurat dengan darah dimana-mana.
Rama langsung memekik kaget melihat istrinya tidak berdaya di depannya.
"Sayang...!" Rama menarik tubuh Mulan dari lantai, mengusap pipi wanitanya gemetar.
"Yang...," ucap Rama mencoba membangunkan wanitanya.
Air mata kesedihan jatuh begitu saja membasahi pipinya. Rama menggendong tubuh lemah Mulan membawanya keluar dari sana secepat mungkin.
Dalam hati dia berharap Mulan tidak akan apa-apa sampai ambulance datang membawanya ke rumah sakit.
To be continued
__ADS_1