Touch My Body

Touch My Body
Memantaskan Diri


__ADS_3

"Pi...."


"Kenapa?"


"Ada yang mau aku omongin, Pi."


Donal mengernyit, meletakkan tab yang dia pegang ke atas meja kerja. "Mo ngomong apa? Tumben banget kamu ngomong begini sama Papi. Jangan bilang kamu udah hamilin cewek yah, Ber...!"


"Ish, Papi ini ada-ada aja, deh. Mana ada yang begitu!" kesal Gober duduk di depan meja kerja ayahnya.


"Yah, adalah kalo kamu mainnya gak pake pengaman!" sahut Donal santai.


Bibir Gober seketika maju ke depan, menggerutu kesal dengan ucapan ayahnya.


"Kalo Papi emang udah mau jadi kakek, sih gampang aja. Aku bisa hamilin cewek yang aku mau!" ucap Gober balas menggoda Donal.


"Terserah ... kan, yang nanggung resiko kamu bukan Papi!" kekeh Donal tertawa geli.


Gober berdecak sembari bersedekap dada. "Udah ih. Ngomong sama Papi emang nggak pernah bener dari dulu!"


Donal masih tertawa dengan tangan mengangkat gelas berisi kopi panas yang tidak lagi panas di atas meja.


"Yaudah, kamu mau ngomong apa sama Papi, hm?" tanya Donal beralih ke mode serius.


Anak laki-lakinya ini tidak akan mungkin datang ke ruang kerjanya jika tidak ada sesuatu hal yang penting. Gober bukan tipe orang yang suka mengganggunya di saat dia sedang sibuk bekerja dirumah.


"Aku siap gantiin Papi di perusahaan," ucap Gober tiba-tiba.


Donal sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan anaknya, meletakkan gelas kopi yang dia pegang agar tidak jatuh.


"Kamu nggak kesambet, kan, Ber?" sahut Donal membola tidak percaya.


"Ish, Papi ini apa-apaan, sih. Kemaren aja paksain aku harus gantiin Papi di perusahaan, sekarang aku udah mau malah dikatain begitu. Maunya Papi apa, sih?!" sinis Gober dengan wajah yang kesal. Sejak tadi ayahnya seperti tidak ada habis-habisnya membuat dia kesal.


"Ya ampun, Ber. Kamu udah kayak cewek-cewek lagi PMS tahu, nggak! Sensitif banget kamu kayak Mami kamu!" sahut Donal menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Papi bukannya mau ngatain kamu, tapi Papi kaget aja kamu mau gantiin Papi dengan sukarela di perusahaan. Secara kemaren, kan kamu yang nolak mentah-mentah belum mau kerja dengan alesan masih pengen kesana kemari nikmatin hidup. Yah, Papi nggak nyangka aja kamu bisa secepat ini berubah pikiran, Ber." sambung pria berkulit sawo matang itu heran.


Pasalnya anaknya ini paling tidak suka dipaksa, persis seperti dirinya waktu masih muda dulu. Donal tidak mau dia yang pernah melarikan diri dari rumah karena menolak perjodohan, akan kembali terulang pada Gober.


Donal hanya mau anaknya bersikap dan berpikir dewasa datang dari dirinya sendiri dan bukan karena paksaannya sebagai orang tua.


"Ya itu, kan kemaren, Pi. Semua orang juga bakal berubah diwaktu yang tepat. Mungkin sekarang waktunya buat aku berubah, Papi harusnya seneng denger aku bilang gini sama Papi...," ucap Gober terdengar bijak.


Pertemuan dua hari yang lalu bersama ayah calon wanita terakhirnya telah banyak membuka pikirannya sebagai seorang pria. Apalagi mengingat dia yang harus membuktikan dirinya layak untuk mendapatkan Cima, Gober ingin mulai menata hidupnya lebih baik demi untuk mempersunting wanita pujaannya itu.


Gober juga ingin mendapatkan pengakuan dari Richard sebagai calon menantu terbaik darinya. Memantaskan diri harus dia lakukan dari sekarang sebelum semuanya terlambat dan Cima jatuh kepelukan orang lain.


"Iya, Papi senenglah denger kamu ngomong begini, Ber. Selama kamu udah segede ini, Papi belum pernah denger kamu ngomong bijak banget kayak Teguh, Teguh itu. Harusnya kita bersulang champaigne (sampanye) sekarang," ucap Donal terdengar menggoda anaknya.


Gober kembali berdecak, bersiap beranjak dari duduknya. "Hadeh, udahlah nggak usah ngomong-ngomong Teguh, Teguh segala, Pi. Pokoknya aku udah siap gantiin Papi di perusahaan. Papi tinggal atur aja kapan waktunya."


"Tunggu, Ber. Duduk dulu, Papi belum selesai ngomong," tahan Donal.


Gober mengernyit, kembali duduk ditempatnya. "Mo ngomong apa lagi? Papi belum puas daritadi godain aku terus?" tanyanya kesal.


Gober memutar mata malas, duduk dengan tidak sabar di kursinya. "Yaudah, Papi mau ngomong apa? Aku ada janji, nih abis ini."


Donal tersenyum, melipat tangannya di atas meja. "Kamu bisa aja gantiin Papi di perusahaan, tapi sebelumnya ... kamu bakal Papi uji coba dulu sebulan di sana. Yah, jadi anak magang lah kira-kira."


"Hah? Anak magang, Pi?" Donal mengangguk.


"Kok gitu sih, Pi? Katanya aku tinggal gantiin posisi Papi sebagai direktur, ini kok malah pake acara magang segala, sih?" sahut Gober tidak terima.


"Sekalipun kamu mau gantiin posisi Papi sebagai direktur, tapi kamu tetep harus ikutin prosedurnya lah, Ber. Nggak mungkin kamu bisa langsung jadi direktur sementara kamu nggak tahu apa-apa tentang perusahaan dan semua bawahan kamu. Ibarat kamu mau pergi ke suatu tempat, tapi kamu nggak tahu jalan mau kesana. Yah, kira-kira begitulah posisi kamu nanti, Ber. Papi cuma mau sebelum kamu gantiin Papi, kamu tahu gimana seluk beluknya perusahaan yang bakal kamu pimpin nanti...," terang Donal panjang lebar.


Gober terlihat diam berpikir, apa yang dikatakan ayahnya memang ada benarnya. Tidak mungkin dia langsung menggantikan ayahnya sementara dia sendiri masih buta dengan perusahaan turun temurun milik keluarga mereka. Yang ada nantinya dia yang akan ditertawakan oleh seluruh pegawai dan juga rekan bisnisnya.


Mungkin mengikuti saran ayahnya ada baiknya untuk kemajuan dirinya dan juga pembuktian dia sebagai calon suami yang bertanggung jawab.


"Kalo emang Papi maunya begitu, yaudah. Aku ikut maunya Papi aja gimana baiknya...," sahut Gober pasrah.

__ADS_1


"Eh, bener kamu mau ikut maunya Papi?" Gober mengangguk.


"Tumben banget, Ber. Biasanya, kan kamu harus dipaksa dulu baru mau...!" sambung Donal takjub.


"Kan, tadi aku bilang. Dulu yah dulu, Pi. Sekarang udah beda lagi ceritanya," sahut Gober tersenyum bangga.


"Tapi bener, kan kamu emang nggak lagi kesambet, Ber?" Donal maju, mengusap dahi anaknya khawatir.


Perubahan tiba-tiba yang ditunjukkan oleh Gober malah membuat pria yang tidak lagi muda itu was-was.


Tidak mungkin anak keras kepala dan susah diaturnya bisa berubah secepat angin. Donal merasa ada yang sedang tidak beres terjadi pada anaknya sendiri.


"Papi, tuh ngomong begini pasti karena kebanyakan nonton sinetron nggak bener. Udahlah, aku pergi dulu. Ngomong sama Papi terus bisa-bisa aku beneran kesambet jin setress!" Gober beranjak, kesal sendiridengan ucapan tidak masuk akal ayahnya.


Dia saat dia mau berubah, Donal malah mengatainya begini. Kalau saja ayahnya tahu siapa yang sudah membuat dia berubah seratus delapan puluh derajat, Donal pasti akan terus mengatainya dengan perkataan-perkataan yang lebih tidak masuk akal lagi, pikir Gober.


"Kalo gitu, besok kamu ikut Papi ke kantor, yah? Jangan lupa pake baju magang yang rapi!" teriak Donal sebelum anak semata wayangnya menghilang di balik pintu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Perjuangan Gober dimulai 😂

__ADS_1


__ADS_2