
"Pikirin apa yang Papi bilang tadi, Cob. Untuk sementara Papi nggak akan ngomong apa-apa dulu sama Mami dan ibu Ani. Kamu jagain Anna aja dan fokus sama kesembuhannya. Papi kesini lagi besok." Mike pulang bersama Richard setelah memastikan menantunya sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan dalam keadaan yang baik.
Mike bahkan ikut menyediakan makan malam untuk anaknya dan mengingatkan Jacob agar tetap menjaga kesehatan, demi bisa menjaga Anna selama keluarga mereka yang lain tidak tahu mengenai kejadian hari ini.
Jacob menutup pintu dibelakangnya pelan begitu Mike dan Richard keluar. Dia berjalan mendekati ranjang perawatan Anna yang masih terlelap karena pengaruh obat.
Apa yang mesti aku lakuin, Na? Aku bener nggak rela kalo cuman karena pria brengsek nggak tahu malu itu kamu mesti nanggung malu dibully sama semua orang. Aku takut kamu makin terluka, Na. Aku takut aku nggak bisa lindungin kamu dan nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu....
Gumaman kesedihan memenuhi hati dan perasaan Jacob. Memikirkan rencana ayahnya tadi, sungguh sangat membuat Jacob dilema.
Dia hanya takut Anna tidak akan bisa menerima semua konsekuensi ke depan dan berimbas pada hubungan mereka berdua. Memastikan hidup Anna tidak akan pernah menderita lagi adalah salah satu kewajibannya sebagai suami Anna. Jika wanitanya terluka, Jacob akan merasa lebih terluka lagi.
"Jac...." Lirihan lemah membuyarkan lamunan dan pikiran Jacob yang tidak fokus.
Anna mengerjapkan mata menatapnya sayu.
"Beb." Jacob mengambil tangan wanitanya, kaget. "Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
Anna menggeleng lemah. "Nggak ada. Liat kamu aja udah bikin semua sakit aku ilang, Jac."
Jacob tersenyum tipis, bahagia wanitanya masih bisa bercanda di saat begini. "Kamu mau minum?"
"Iya." Sigap, Jacob menumpah air di gelas, perlahan membantu Anna minum memakai sedotan.
Mata Jacob teralihkan pada tanda lebam di pipi sampai ke bawah mata Anna yang membiru. Kedua pergelangan tangan Anna pun sama membiru dengan luka bekas kekerasan di paha dalamnya.
Jacob menghembuskan nafas panjang sakit sendiri melihat keadaan Anna. Meminta wanitanya kuat membuka permasalahan masa lalunya dengan Josh, rasanya pasti sangat sulit.
Jacob harus berpikir dua kali sebelum membicarakan masalah ini dengan Anna.
"Jac."
"Iya?"
"Kamu nggak ngasih tahu mama, kan soal ini?"
"Kenapa? Kamu nggak mau mama tahu?" Jacob meletakkan gelas di atas nakas.
"Iya," lirih Anna. "Aku cuma nggak mau mama sedih lagi liat aku kayak gini," sambungnya dengan wajah yang sendu.
__ADS_1
Jacob menarik tangan Anna, mengusap punggung tangannya lembut. Dia mengerti kenapa Anna tidak mau ibu mertuanya mengetahui hal ini.
"Iya, Beb. Aku emang belum ngasih tahu mama sama mami. Kita bakal di sini sampe kamu sembuh." Anna mengangguk, tersenyum lemah.
"Aku ... aku mau minta maaf, Beb." ucap Jacob lagi.
"Buat apa?"
"Aku nggak bisa jagain kamu, Beb. Harusnya tadi aku—"
"Ini bukan salah kamu, Jac!" potong Anna cepat. "Emang udah kesialan aku kayaknya nggak bisa lepas dari bajingan itu! Dia udah kayak hantu, terus ada disekitar aku tapi nggak bisa aku liat." Anna diam, memendam sakit dihatinya.
Bukan salah Jacob dia harus berakhir seperti ini. Anna malah merasa sebaliknya.
"Setelah aku sembuh, kamu bisa tinggalin aku, Jac."
Jacob tersentak. "Apa maksud kamu, Beb?"
"Kita pisah aja...."
"Apa?!" kaget Jacob.
Jacob mendengus tidak terima. "Jangan pernah ngomong begitu lagi, Beb!" sergahnya. "Pantes enggaknya kamu sama aku, aku yang lebih tahu! Kamu udah sempurna buat aku. Mau hidup kita nggak bakal tenang atau dalam bahaya sekalipun, aku nggak peduli! Yang penting kita tetep bisa sama-sama. Kamu cuma cukup percaya sama aku aja."
Anna diam memalingkan wajah, dia hanya ingin Jacob bahagia tanpa perlu mengurusi masa lalunya yang masih terus menghantui hubungan mereka.
Anna tidak mau Jacob harus ikut bertanggung jawab dan ikut menjadi korban atas sesuatu yang bukan menjadi kesalahannya.
"Liat aku, Beb." Jacob menarik dagu Anna.
"Kita udah janji sama Yang Diatas bakal terus bersama dalam keadaan susah dan senang, kan? Sekarang waktunya, Beb. Kita bakal terus sama-sama, kamu cuman perlu percaya dan yakin sama aku. Kejadian seperti ini nggak bakal terulang lagi. Aku janji jagain kamu lebih baik lagi kedepannya."
Manik mata coklat muda Anna terasa memanas. Jika saja dia tidak bertemu dengan Josh tadi pagi, mungkin sekarang mereka tengah menikmati indahnya pasir putih di Hawaii. Melihat indahnya matahari terbenam sambil terus berpelukan tanpa pernah bosan.
Anna merasa hidupnya selalu saja sial. Ada saja hal-hal yang membuatnya jatuh dan terpuruk bahkan disaat dia baru akan mulai melangkah bahagia bersama Jacob.
"Udah, kamu nggak usah mikirin apa-apa dan jangan pernah ngomong lagi kayak tadi. Fokus aja sama kesembuhan kamu, Beb. Mau sesulit apa jalan di depan kita nanti, kita berdua bakal lewatin semuanya sama-sama." Jacob mengakhiri pembicaraan menguras emosi keduanya dengan ciuman hangat di dahi Anna.
Seakan memberi tahu kalau dia tidak akan kemana-mana apalagi sampai berpikir meninggalkan Anna, Jacob hanya ingin wanitanya yakin dia akan tetap setia berdiri disamping Anna sembari memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan selanjutnya demi membalas semua rasa sakit istrinya selama ini.
__ADS_1
"Jadi menurut Lo gimana, Ra? Gue ikutin saran dari bokap gue ato gimana?"
"Enggak! Nggak usah dengerin apa kata bokap Lo, Cob. Kita bisa bales si brengsek itu pake cara kita sendiri!"
"Caranya?"
Disamping Jacob, Rama tersenyum dengan seringai licik. Dua sahabat itu duduk di depan ruang perawatan Anna setelah wanita berambut panjang itu tidur.
Jacob sengaja menghubungi Rama karena dilema harus mengambil keputusan apa. Dia butuh saran dari seseorang, dan sahabatnya pasti bisa memberinya saran yang baik. Beruntung Rama masih belum kembali ke Jerman dan akan di negara mereka sampai tiga hari ke depan.
"Bor!" Rama memanggil asistennya yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Pria itu ikut datang menemaninya ke rumah sakit atas perintah Mulan. Wanitanya tidak mau Rama pergi sendirian di jam sebelas malam dan membuatnya khawatir.
Mendengar cerita Jacob tentang keadaan Anna, Mulan akhirnya mengizinkan Rama pergi asalkan ditemani Bora asisten mereka.
"Iya, Pak Rama?"
"Kamu cari tahu kemana aja pria bernama Josh, keluar besok. Kita bakal buat dia ngerti apa yang bisa kita lakuin sama orang nggak bermoral kayak dia!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat Idul Fitri untuk semua yang merayakan, yah
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin 🙏