
"Cob, kamu hati-hati, yah di sana. Mama sama Papa nanti nyusulin kamu kalo pekerjaan disini udah selesai."
"Iya, Ma. Nggak pa-pa. Doain Jacob di sana aja udah cukup, kok. Aku pergi dulu Ma, Pa." pamit pria berambut bergelombang itu.
"Iya, hati-hati di sana. Kabarin Mama kamu juga sering-sering. Inget jangan macem-macem di sana!" sela Mike mengingatkan.
Setelah berpamitan dengan drama yang cukup melelahkan dengan ibunya, Jacob akhirnya bisa naik ke pesawat duduk di kelas bisnis seorang diri.
Perjalanan yang akan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya itu dihabiskan Jacob dengan tidur, makan dan ke toilet.
Ah ... bosan rasanya tidak ada siapa-siapa yang menemaninya. Semua sahabat-sahabatnya sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Jacob merasa sudah semakin tua sekarang, kehidupan masa mudanya benar-benar berakhir semenjak mereka memasuki usia kepala tiga.
Mungkin saat tiba di Jerman nanti, kesehariannya hanya akan habis di perusahaan dan apartemen saja. Jacob membayangkan hidupnya pasti akan datar-datar saja setelah ini.
..."Pak Jacob." Wanita berpakaian formal dengan rambut yang diikat tinggi mendekati Jacob yang berjalan keluar dari pintu keluar bandara....
Pria itu membuka kacamatanya menatap wanita di depannya cukup kaget. "Lo...?"
"Halo, Pak. Kenalkan nama saya Anna. Saya yang akan jadi sekretaris Bapak disini," ucapnya mengulurkan tangan.
"Sekretaris?"
"Iya, Pak. Saya ditugaskan Pak Mike membantu Bapak disini."
Jacob mengernyit, mencoba mengingat-ingat kejadian malam di mana dirinya dianggap gigoloo oleh seorang wanita.
Jika tidak salah perawakan wanita ini sangat mirip dengannya, hanya saja wanita di depannya menggunakan pakaian yang normal dan terbilang sangat cocok ditubuhnya.
Jacob yakin seratus persen wanita yang bernama Anna ini adalah wanita yang sama yang hampir bergesekan enak dengannya malam itu.
"Mari, Pak. Mobilnya sudah menunggu di depan," ajak Anna sopan.
"Tunggu," tahan Jacob.
"Iya, Pak? Ada yang ketinggalan?"
Jacob diam memperhatikan sekretaris barunya dengan seksama. Sepertinya wanita ini tidak ingat dengannya. Bisa saja karena malam di club itu dia sangat mabuk sampai tidak mengingat siapa pria yang habis dia gerayangii dan tinggali begitu saja dengan segepok uang di tangan.
"Nggak ada, mungkin cuman kenangan aja yang ketinggalan." sahut Jacob berjalan lebih dulu, meninggalkan Anna yang mengernyit bingung.
Ada apa dengan bos barunya ini? Apa perjalan berjam-jam di pesawat membuatnya jetlag dan pikirannya agak sedikit terganggu? Anna menggelengkan kepala mengikuti langkah panjang Jacob dengan cepat.
"Kita langsung ke apartemen yah, Pak. Ini jadwal Bapak untuk besok. Jika ada yang Bapak tidak mengerti, Bapak bisa langsung hubungi saya di nomor ini." Anna mulai menjelaskan pekerjaan Jacob selama berada di Jerman menggantikan posisi kakek dan juga ayahnya.
__ADS_1
Baru saja naik ke dalam mobil, Jacob langsung diberondongi dengan berlembar-lembar kertas dan juga tugas-tugasnya sebagai direktur utama yang baru di perusahaan jasa logistik mereka.
Jacob mendengus kesal dengan telinga terasa berdengung. Pria itu menatap Anna yang duduk di sampingnya, menutup mulut wanita itu dengan tangannya.
"Sebagai sekretaris, kamu terlalu banyak bicara!" ucapnya dingin.
Anna membola dengan dada yang berdebar tidak karuan. Nafasnya seakan tercekat, tidak menyangka Jacob akan berada sangat dekat dengannya dengan tangan yang menempel di bibirnya.
"Lain kali kalo kamu mau ngomongin pekerjaan, liat dulu gimana kondisi bos kamu. Jangan ngomong kalo aku nggak minta kamu ngomong, ngerti?!" Anna mengangguk cepat.
Jacob menarik tangannya, mundur kembali dan menyandarkan kepalanya ke jok mobil sembari memejamkan mata.
Anna berdehem pelan mencoba mengatur detak jantungnya yang masih sangat cepat berdetak. Jacob tersenyum tipis merasa perkenalan mereka akan cukup membuat Anna takluk padanya. Setelah ini rasanya dia akan semakin betah tinggal di Jerman.
"Ini apartemennya Bapak. Kalau ada yang ingin Bapak tambah atau kurangi, Bapak bisa beritahu saya." Jacob masuk, berjalan-jalan sedikit memutari apartemen yang terbilang sangat luas itu.
Mewah dan nyaman selalu menjadi pilihan ibunya, Jacob tahu Manis pasti sedikit banyak yang memilihkan dekorasi apartemen ini untuknya.
"Nggak usah, apartemennya udah cukup nyaman." Jacob menjatuhkan diri duduk di kursi sofa dengan satu kaki menyilang di atas kakinya yang lain.
"Duduk," ucapnya menunjuk kursi di depannya.
Anna mengangguk patuh, duduk menatap atasannya yang diam selama beberapa menit. Manik mata coklat tua Jacob sedang meneliti wajah serta tubuh Anna.
"Ada yang mau Bapak sampaikan, Pak?" Anna bersuara, membuyarkan pikiran Jacob.
Hatinya sedikit tidak tenang saat ditatap lama oleh pria yang memiliki mata sedikit sipit itu.
"Nggak ada," sahut Jacob singkat.
"Jadi saya sudah bisa pergi, Pak?" tanya Anna mulai gelisah.
"Kalo aku bilang kamu temani aku malam ini, gimana?"
"Hah? Temani gimana maksudnya, Pak?" tanya Anna lagi tidak mau salah berprasangka.
"Yah temani aku makan malam dan yang lainnya. Lagipula kamu bisa tinggal disini kalo kamu mau...," sahut Jacob enteng.
Anna tersenyum dengan pikiran bertanya-tanya. Apa maksudnya pria ini memintanya tinggal disini dengannya? Apa pria seganteng Jacob adalah pria yang mesum? Batin Anna.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh, mending kamu masak buat aku sana. Aku laper, makanan di pesawat nggak ada yang enak. Sebagai sekretaris kamu juga punya tugas menyediakan makanan buat aku!" Jacob beranjak, tersenyum penuh arti sebelum masuk ke kamarnya.
Mengerjai Anna sepertinya bisa menjadi caranya untuk balas dendam. Jacob yakin Anna bahkan tidak mengingat dan mengenalinya. Ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuknya, pikir Jacob.
__ADS_1
Anna hanya bisa membuang nafas kasar, sepertinya Jacob adalah tipe pria yang banyak maunya. Dia harus lebih berhati-hati bekerja dengan Jacob jika mau hidupnya tentram kedepannya.
"Udah siap?"
"Udah, Pak. Silahkan...." Anna menarik kursi di depan meja makan, mempersilahkan atasannya duduk.
"Kayaknya enak, kamu nggak makan?" Jacob menarik serbet, bersiap menyantap makan malamnya.
"Nggak, Pak. Saya masih kenyang," tolak Anna tidak enak.
"Kalo gitu kamu temenin aku makan. Aku nggak biasa makan sendiri!" perintah Jacob menunjuk kursi di samping kanannya.
"Tapi ini udah malem, Pak. Besok pagi-pagi saya harus kesini lagi jemput Bapak. Saya takut kemaleman dan besoknya saya malah telat jemput Bapak," sahut Anna beralasan.
Jacob berdecak, menarik tangan Anna hingga terhempas duduk di pangkuannya. "Aku udah bilang, jangan ngomong kalo aku nggak minta kamu ngomong! Kamu bisa bedain, kan mana perintah dan yang enggak? Jangan bikin aku kesel trus nyium kamu disini, Anna!" ucapnya mengintimidasi.
Anna sontak menelan salivanya susah dengan rasa gugup luar biasa. Aroma parfum mahal Jacob menyeruak masuk ke indera penciumannya. Anna mendadak membeku dengan jantung berdebar, baru beberapa jam bersama Jacob jantungnya sudah dibuat sangat tidak sehat begini. Mungkin sebulan saja dia bekerja dengan Jacob, dia bisa terkena serangan jantung karenanya.
"Nggak usah ngeliatin aku begitu, nanti kamu jatuh cinta aku nggak tanggung jawab!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nah, kan
ketemu deh sama yang pernah mainin bijinya Jacob 🤣
__ADS_1
Cek IG story' author @adamvanda untuk visual Jacob